Berawal Dari Komik, Grace Tertarik Pada Jepang, Ingin Kunjungi Harajuku

Grace Cindy Puspita Hapsari, SMP Maria Mediatrix Semarang

AKU Grace Cindy Puspita Hapsari, atau biasa dipanggil Grace. Aku adalah siswi Kelas 7 di SMP Maria Mediatrix Semarang.

Seperti remaja pada umumnya, aku memiliki ketertarikan dengan hal-hal berbau Jepang.

Bacaan Lainnya

Ketertarikanku bermula pada saat aku Kelas 4 SD. Saat itu, ada teman sekelasku yang membawa komik Jepang. Aku merasa tertarik dan mulai meminjam komik temanku. Karena merasa semakin tertarik, aku pun membeli komik sendiri.

Dari situ, aku mulai banyak menonton animasi atau anime Jepang di handphone (HP). Aku juga banyak menonton video yang dibuat oleh orang Jepang di youtube.

Ketertarikanku pada hal-hal yang berbau Jepang inilah yang memotivasiku untuk belajar Bahasa Jepang. Aku ingin bisa menonton anime tanpa menggunakan subtitle. Karena menurutku, bisa berbicara bahasa asing itu sangatlah keren.

Aku mulai belajar melalui aplikasi belajar Bahasa Jepang. Dengan semangat, aku mulai menghafalkan kosa kata-kosa kata Jepang. Aku juga belajar untuk menulis huruf-huruf Jepang. Aku melakukan hal itu untuk waktu yang lama.

Namun aku sadar, metode belajarku ini kurang efektif. Terkadang, aku lupa untuk belajar dan berlatih. Waktu belajarku juga tidak konsisten. Rasanya sulit sekali untuk fokus dengan satu materi. Dan lagi, belajar sendiri itu membosankan. Akhirnya, aku mencoba belajar dengan cara lain.

Aku mulai mencoba belajar dengan menonton video-video berbahasa Jepang dengan subtitle dan mengingat arti dari kata-kata yang diucapkan di video itu. Ternyata, cara ini lebih efektif dari caraku yang sebelumnya. Aku mulai bisa mengingat kosa kata dengan baik. Aku juga mengerti cara pemakaian kosa kata tersebut.

Belajar Bahasa Jepang juga membuatku tertarik dengan budaya Jepang. Aku melakukan banyak riset tentang budaya mereka. Di tengah-tengah risetku, ada satu tempat yang menarik perhatianku. Tempat itu adalah Harajuku di Shibuya. Tempat yang terkenal dengan kesenian jalanan dan mode busananya yang sungguh unik ini berhasil menarik perhatianku.

Aku yang awalnya ingin belajar bahasa Jepang hanya untuk menonton anime tanpa subtitle, kini mulai tertarik untuk pergi ke Jepang. Aku bahkan berangan-angan untuk melanjutkan studiku di sana. Hal inilah yang menambah semangatku untuk belajar Bahasa Jepang lebih giat lagi.

Orangtuaku yang melihat aku yang sangat antusias untuk belajar Bahasa Jepang, menawariku untuk mengikuti les Bahasa Jepang. Awalnya aku merasa ragu untuk menerima tawaran tersebut. Aku pikir, aku tidak perlu mengikuti les untuk belajar Bahasa Jepang. Aku pikir, aku bisa belajar sendiri. Aku tetap menolak tawaran orang tuaku untuk waktu yang cukup lama.

Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa galau. Sama sekali tidak ada perkembangan dalam kemampuan Bahasa Jepangku. Bahasa yang aku gunakan sangat kaku. Aku juga tidak tahu cara merangkai kalimat sendiri. Karena galau, aku pun memikirkan kembali tawaran orang tuaku. Aku memutuskan untuk menerima tawaran itu.

Kami mulai mencari guru les privat yang bisa datang ke rumah untuk mengajariku Bahasa Jepang. Setelah bertanya kepada beberapa orang, kami akhirnya menemukan seorang guru privat. Guruku ini adalah seorang mahasiswi. Uniknya, ia memiliki nama yang sama denganku. Aku memanggilnya Kak Grace.

Awal bertemu dengan Kak Grace, aku merasa malu dan canggung. Kak Grace adalah orang yang ramah dan baik. Kami mengisi hari pertama pertemuan kami dengan mengobrol bersama, dan Kak Grace menanyaiku tentang beberapa hal.

Singkat cerita, tibalah hari di mana pembelajaran dimulai. Materi pertama yang diberikan Kak Grace kepadaku adalah huruf Hiragana. Materi ini berlangsung dalam beberapa minggu, dengan diselingi pembelajaran lain seperti kosa-kata dan cara menyusun kalimat Bahasa Jepang.

Materi selanjutnya adalah huruf Katakana dan dilanjutkan dengan huruf Kanji. Jujur, dengan adanya les ini, aku merasa cepat berkembang. Aku merasa sangat senang. Aku merasa semakin dekat dengan tujuanku. Walaupun begitu, ada kalanya aku merasa malas untuk belajar. Terkadang, aku juga merasa kewalahan dengan sekolah dan ekstrakurikuler yang aku ikuti.

Aku terus mengikuti les Bahasa Jepang dan kemampuan Bahasa Jepangku juga terus meningkat. Aku merasa sangat bangga dengan diriku, karena mulai bisa berbicara kalimat sehari-hari dengan Bahasa Jepang.

Aku terpaksa berhenti mengikuti les karena masa pandemi Covid-19. Padahal kami sudah mulai memasuki materi yang lebih sulit. Aku merasa sedih. Aku sempat merasa bingung bagaimana melanjutkan belajarku. Aku tidak punya pilihan lain selain belajar dari menonton video dan anime lagi.

Aku mulai memperbanyak menonton video Bahasa Jepang, dan belajar dari sana. Terkadang, aku juga membuka kembali catatan-catatan dan latihan yang diberikan oleh Kak Grace. Memang, perkembanganku saat belajar sendiri jauh lebih lambat dibandingkan dengan perkembanganku saat les. Namun aku percaya, suatu saat nanti aku akan bisa berbicara Bahasa Jepang dengan lancar.

 

Pos terkait