Tuesday, 19 Nov 2019


Live In Panggilan Berlangsung Mengesan, Peserta Hdup Bersama Di Biara

Peserta live in panggilan berfoto bersama para rama, suster, dan bruder.

WartaKita.org – Tim Promosi Panggilan (Prompang) Musyawarah Pemimpin Religius Keuskupan Agung Semarang (MUPERKAS) Wilayah DIY mengadakan kegiatan live in panggilan yang diikuti oleh Orang Muda Katolik (OMK) se Kevikepan Yogyakarta pada Jumat sampai Minggu (11-13/10/2019).

Selama live in panggilan, puluhan OMK itu tinggal di biara-biara Yogyakarta. Peserta sangat antusias mengikuti acara live in panggilan ini.

Para peserta yang terdiri dari pelajar SMA, SMK dan OMK ini dikumpulkun di Kolsani (Kolese Santo Ignatius) Jalan Abu Bakar Ali Nomor 1 Kotabaru, Yogyakarta. Kemudian peserta ditempatkan ke sejumlah biara seperti Biara OMI, SJ, MTB, MSC, FICP, SX, Santa Clara, FCH, SPC, RGS, CB, PMY, PI, ADM, PPYK, PIJ, dan lainnya. Dalam satu biara ditempatkan 2 sampai 4 orang dengan acak dan peserta tidak saling mengenal.

Live in kali ini berbeda dari biasanya. Karena para “awam” ini diberi kesempatan untuk tinggal bersama para suster, frater, bruder dan rama di biara. Ini bertujuan agar mereka dapat merasakan kehidupan membiara.

Seperti yang dirasakan oleh peserta Hana dan Delvina yang ditempatkan di Biara Suster PMY (Putri Maria dan Yosef). Para suster PMY ini berkarya di SLB (Sekolah Luar Biasa) Helen Keller Indonesia di Wirobrajan, Yogyakarta.

Selama live in, peserta selalu berkegiatan bersama suster. Mereka berdoa setiap pagi, melakukan ibadat pagi di kapel susteran, lalu ke gereja untuk mengikuti misa. Peserta juga makan bersama para suster.

“Saya sangat terkesan ketika makan bersama. Kami selalu menunggu suster yang lain untuk makan bersama, dan mencuci piring juga bersama-sama. Hal-hal sederhana ini tidak saya rasakan di kost,” kata Hana.

Dalam menemani suster, mereka juga ikut berdinamika dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang tinggal di asrama. Seperti membantu suster menyuapi anak-anak, memandikan, mencuci piring, menemani bermain, menyanyi, dan lainnya.

“Karya Tuhan sangat luar biasa dengan memberi banyak tarekat atau kongregasi yang mau melayani sesama dengan cinta kasih. Dan kita diberi kesempatan untuk bebas memilih panggilan hidup ini. Namun di jaman sekarang, nampaknya sudah “memprihatinkan”. Ketertarikan untuk hidup membiara sudah sangat minim,” ujar Suster Patricia PMY.

Kegiatan live in panggilan yang berkesan ini ditutup di Kolsani dengan misa yang dipimpin oleh Rama Agustinus Winaryanto SJ. Dalam kotbahnya Rama Winaryanto mengajak peserta untuk mensyukuri pengalaman yang telah mereka rasakan selama live in panggilan.

“Bersyukur artinya kesadaran memiliki tentang apa yang bermakna dengan selalu bergembira, tersenyum, dan menjadi lilin yang dapat menerangi,” ucap rama. (delivina yopani raja guk guk, mahasiswa ASMI Santa Maria Yogyakarta, jurusan Public Relations)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *