Warga Akan Kembangkan Komunitas Homestay, Agar Wisatawan Mau Menginap Di Cokro Tulung

Inilah Omah Cokro (Resto dan Homestay) yang berada di Dukuh Cokro Kembang, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten.

WartaKita.org – Wilayah Kabupaten Klaten di sisi utara terdapat banyak destinasi wisata air. Seperti Water Gong, Ponggok, Umbul Manten, Soko Alas, Honduras, River Moon dan lainnya.

Namun sayangnya, banyak wisatawan yang melakukan kunjungan one day. Atau pagi datang, kemudian sorenya sudah pulang. Sangat jarang ada wisatawan yang menginap atau bermalam di daerah Cokro Tulung dan sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Nah, berangkat dari gagasan atau keinginan untuk “menahan” para wisatawan agar mau berlama-lama berwisata di daerah Cokro Tulung dan sekitarnya, maka mantan Deputi Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2004-2008, Waluyo merintis homestay di kampung halamannya, yaitu di Dukuh Cokro Kembang, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten.

Ia membuat homestay yang dinamai “Omah Cokro”.

Ditemui di sela memberikan materi pada Worksop Membangun Karakter di Omah Cokro Resto dan Homestay, Sabtu (26/8/2023) pagi, Waluyo menyampaikan, ia melihat peluang besar apabila di wilayahnya dibangun komunitas homestay.

‘’Di daerah Cokro ini ada banyak destinasi wisata air. Tapi sayangnya, banyak wisatawan yang one day. Pagi mereka datang, kemudian sore mereka sudah pulang. Kebanyakan mereka nginapnya di Solo, Jogja atau Semarang. Padahal untuk menikmati wisata air di daerah Polanharjo itu sehari nggak cukup,’’ katanya.

Waluyo menyatakan, dengan adanya homestay diharapkan para wisatawan bisa tinggal dan menikmati liburan lebih lama. Sehingga mereka akan membelanjakan lebih banyak uangnya di Cokro. Untuk itu, ia mengajak warga untuk membangun homestay.

“Sekarang ini ada banyak destinasi wisata yang ada di wilayah Polanharjo. Diantaranya Water Gong, Ponggok, Umbul Manten, Soko Alas, Honduras, River Moon dan masih banyak lagi wisata yang lain,” ujarnya.

Owner Omah Cokro, Waluyo sedang menikmati berbagai fasilitas yang ada di Omah Cokro.

Waluyo mengemukakan, apabila ada penginapan yang memadai, ia yakin, pengunjung akan mengeluarkan uang untuk tidur dan makan di Cokro. Konsep ini nantinya yang akan merubah perekonomian warga dari sektor pariwisata.

“Tetapi saya berpesan, di wilayah ini jangan dibangun hotel. Alasannya karena pemiliknya pasti kapitalis. Sebisa mungkin, penduduk di sini bikin homestay yang standar levelnya, serta nyaman dan terjangkau. Karena di sekitar sini banyak rumah kosong. Jadi kami di sini hanya reception based untuk membangun komunitas,” jelasnya.

Ia menambahkan, Omah Cokro ini didirikan sekitar satu tahun yang lalu. Omah Cokro mempunyai sejumlah fasilitas sekelas yunior sweet room, tempat karaoke, meeting room, kolan renang, resto dan ruangan luas buat ramai-ramai se keluarga. Di tempat yang lain (sekitar Omah Cokro) juga tersedia rumah untuk satu maupun dua keluarga yang dijamin lengkap dan luas.

Untuk semakin “menghidupkan” suasana Cokro Tulung dan sekitarnya, terutama di malam hari, maka Waluyo bersama warga setempat mencoba menggelar musik keroncong setiap malam Selasa Kliwon. Dan pada malam Minggu kedua, ada musik legenda dan Koes Plus-an.

“Ini semua dalam rangka agar mereka enjoy, bisa menyalurkan ekspresi. Yang ujungnya, atau harapannya adalah happines. Seperti tagline Omah Cokro: happy and healthy. Agar sehat, kita ada fitnes dan kolam renangnya. Di depan itu juga ada kolam renang peninggalan Belanda. Jadi kalau sudah healthy, nyanyi-nyanyi, kita jadi happy. Makan enak, kita juga happy,” ungkapnya.

Pos terkait