Untuk Merawat Kebersamaan Demi Mewujudkan Perdamaian, Masyarakat Sipil Harus Dilibatkan

Acara Forum Group Discussion yang diadakan Wahid Foundation dalam rangka kegiatan Deklarasi Desa Damai Telukan, Senin (3/5/2021).

WartaKita.org – Wahid Foundation menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Merawat Kebersamaan Demi Mewujudkan Kebersamaan” pada Senin (3/5/2021).

Forum Group Discussion ini diadakan dalam rangka kegiatan Deklarasi Desa Damai Telukan yang dilaksanakan di Dusun Arak-Arak Tejomoyo, Desa Telukan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

Bacaan Lainnya

FGD tersebut menjadi ajang sharing pengalaman sekaligus berbagi tips dalam menjalankan program-program yang telah dicanangkan Kelompok Kerja (Pokja) masing-masing Desa Damai yang telah mendeklarasikan diri menjadi Desa Damai dampingan Program Wahid Foundation.

Forum ini dihadiri dua narasumber. Salah satunya adalah Direktur Kerjasama Bilateral dan Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ahmad Zaim Al-Ikhlash Nasution.

Dalam kesempatan itu Ahmad Zaim menjelaskan, keterlibatan masyarakat sipil berperan dalam membantu proses pencegahan esktremisme berbasis kekerasan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE).

Menurut Zaim, Program Desa Damai yang dinisiasi oleh Wahid Foundation dan berkolaborasi dengan UN Woman tersebut memiliki fokus dalam pemberdayaan masyarakat rentan, seperti kelompok perempuan. Sehingga memperkuat ketahanan masyarakat secara umum dalam menangkal ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.

“Program Desa Damai Wahid Foundation sesuai dengan program Pemerintah yang tertuang dalam Perpres Nomor 7 Tahun 2021. Program ini penting sekali karena fokus mempromosikan toleransi kepada masyarakat di tingkat akar rumput dengan memberdayakan kelompok rentan seperti perempuan melalui program pengembangan ekonomi kecil (women economic enterprise for peace). Sehingga mampu menumbuhkan kelompok perempuan sebagai aktor untuk membangun kohesi sosial dan ekonomi kerakyatan serta ketahanan masyarakat di akar rumput,” jelasnya.

Menurut Zaim, hal tersebut membuka ruang bagi perempuan untuk lebih aktif menyuarakan hak-haknya dalam ranah pengambilan kebijakan di tingkat desa sekaligus bisa meningkatkan ekonomi keluarga.

Acara Forum Group Discussion yang diadakan Wahid Foundation dalam rangka kegiatan Deklarasi Desa Damai Telukan, Senin (3/5/2021).

Senada dengan Zaim, Program Manager Wahid Foundation sekaligus Asisten Direktur Wahid Foundation, Visna Vulovik yang menjadi narasumber kedua dalam FGD tersebut mengatakan, pendekatan pencegahan konflik melalui pembangunan ekonomi adalah salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan yang mana merupakan salah satu indikator terciptanya perdamaian di tengah masyarakat.

“Inisiatif Desa Damai dibangun atas dasar bahwa perdamaian tidak akan tercapai jika keadilan dan kesejahteraan belum terpenuhi. Untuk itulah kami mengintegrasikan pendekatan pencegahan konflik dan pembangunan ekonomi dengan pendekatan keamanan insani pada program ini,” katanya.

Visna Vulovik menyatakan, kelompok perempuan perlu dijadikan subjek dalam perubahan sosial di tengah masyarakat. Karena perempuan mempunyai peran sentral dalam stabilitas perdamaian di dalam keluarga. Sehingga perlu mendapatkan pendampingan dan lebih dilibatkan dalam pengambilan kebijakan. Salah satunya dengan dibentuknya Kelompok Kerja yang anggotanya terdiri dari kelompok perempuan dan aparatur desa.

“Kelompok perempuan menjadi penting dalam membangun perdamaian di keluarga mereka. Kelompok perempuan desa kami dampingi sehingga mereka mampu menyuarakan kebutuhan dan hak mereka kedalam kebijakan desa. Mereka juga kami latih untuk membentuk Tim Kelompok Kerja dalam rangka pencegahan konflik, termasuk radikalisme. Tim Pokja ini merupakan gabungan dari kelompok perempuan, aparatur dan aparat desa,” ungkapnya.

Dalam FGD ini, sejumlah perwakilan Pokja dari beberapa desa damai seperti Pokja Nglinggi, Jetis, dan Gemblegan (Kabupaten Klaten) dan Kelurahan Tipes (Surakarta) juga turut hadir.

Dalam sesi tanya jawab, mereka saling berbagi pengalaman dan tips menjalankan program Pokja yang sudah direncanakan setelah melaksanakan Rencana Aksi Desa dan mengikuti beberapa training yang dilaksanakan Wahid Foundation.

Kepala Desa Gemblegan Waluya berbagi pengalaman dalam acara FGD yang diadakan Wahid Foundation, Senin (3/5/2021).

Kepala Desa Gemblegan Waluya yang merupakan bagian dari Pokja Desa Damai Gemblegan mengatakan, pengalaman desanya menjalankan tips-tips yang diberikan oleh Wahid Foundation telah menghasilkan dampak positif bagi warganya. Ia melihat perubahan positif khususnya pada kelompok pemuda dan perempuan.

“Kelompok perempuan dan pemuda di desa saya menjadi lebih aktif dalam kerja-kerja kreatif setelah beberapa kali mengikuti training dari Wahid Foundation. Mereka terlihat lebih percaya diri untuk menyuarakan pandangannya terkait permasalan yang terjadi di desa. Tentunya dengan masukan yang membangun dan solutif,” tuturnya.

Meski begitu, Waluya mengakui masih banyak kekurangan dalam menjalankan program-programnya bersama Pokja Desa Gemblegan. Dia merasa perlu belajar lagi dari Pokja-Pokja Desa Damai lain yang lebih lama menjalankan program-program Desa Damai bersama Pokja di desanya.

Pos terkait