WartaKita.org – Permasalahan stunting telah menjadi isu nasional.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak bayi di bawah 5 tahun (balita) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Pernyataan ini disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo pada kegiatan Promosi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Program percepatan penurunan stunting di Pendopo Alun-Alun Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Rabu (28/9/2022) sore.
“Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis pada anak yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Hal ini menyebabkan anak tumbuh lebih pendek dari anak seumurannya. Anak pendek belum tentu stunting, tetapi anak stunting sudah tentu pendek,” katanya.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V ini menjelaskan, untuk mencegah stunting atau gagal tumbuh harus dilakukan sejak 1000 hari pertama kehidupan anak. Artinya, ibu hamil harus memperhatikan kecukupan gizi sejak awal kehamilan. Stunting dapat terjadi sejak kehamilan jika terjadi hambatan pertumbuhan pada janin dalam kandungan.
“Pastikan asupan makanan ibu hamil tercukupi agar janin berkembang dengan baik. Apabila asupan makanan ibu cukup dan tidak ada penyulit lain, umumnya janin akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Kecukupan asupan makanan ini, nantinya dapat dilihat dengan pertambahan berat janin yang sesuai dengan usia kehamilan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rahmad Handoyo juga berpesan kepada warga yang telah berusia 40 tahun keatas untuk rutin melakukan pengecekan kesehatan di fasilitas kesehatan.
“Saat usia seseorang bertambah, maka perlu upaya ekstra untuk menjaga dan memperhatikan kesehatan. Oleh karena itu, sangat penting bagi seseorang untuk melakukan pengecekan kesehatan secara berkala. Maka saya berpesan, bagi bapak, ibu yang sudah berusia 40 tahun keatas untuk rutin berkunjung ke fasilitas kesehatan, minimal enam bulan sekali. Hal ini untuk mendeteksi lebih dini penyakit yang ada,” pesannya.
Sedang Koordinator Bidang Adpin Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Farida Sumarlin mengatakan, salah satu upaya untuk mencegah dan mempercepat penurunan stunting adalah dengan pemberian makanan tambahan (PMT).
Pemberian makanan tambahan yang berfokus baik pada zat gizi makro maupun zat gizi mikro bagi balita dan ibu hamil sangat diperlukan dalam rangka pencegahan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan balita stunting.
Sedangkan pemberian makanan tambahan pada anak usia sekolah dasar diperlukan dalam rangka meningkatkan asupan gizi untuk menunjang kebutuhan gizi selama di sekolah dan di usianya saat remaja.
“Makanan tambahan yang diberikan dapat berbentuk makanan keluarga berbasis pangan lokal dengan resep-resep yang dianjurkan,” jelasnya.

Sementara itu Kasi Keluarga Berencana (KB) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DINSOSP3AKB) Kabupaten Klaten, Nuryanti mengemukakan, untuk mencegah dan menurunkan stunting, maka pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu memperkuat kelompok kegiatan.
“Seperti Kelompok Bina Keluarga Balita, Kelompok Bina Keluarga Remaja, Kelompok Bina Keluarga Lansia dan Kelompok PIK Remaja Sekolah. Selain itu juga ada Kelompok PIK Remaja Umum, Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), Kelompok Harmoni Sejahtera dan Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS),” paparnya.
Hadir dalam kegiatan Promosi dan KIE Program percepatan penurunan stunting ini diantaranya Anggota DPRD Kabupaten Klaten dari Fraksi PDIP, Hartanti, Camat Cawas Much Prihadi, Kepala Desa Barepan Hermawan Andriyanto, para Ibu Kader PKK dan Kader Kesehatan, serta undangan lainnya.
Untuk menyemarakkan suasana, maka panitia menyediakan banyak doorprize bagi para hadirin. Selain itu, hadirin juga dihibur dengan penampilan penyanyi cilik Arda “Tatu”.









