Warta Kita.org – Titian Foundation menggelar pertemuan orang tua atau wali penerima beasiswa Gen (generasi) 17 di Community Learning Center (CLC) atau Sentra Pembelajaran Masyarakat Titian Foundation Bayat, Kabupaten Klaten pada Rabu (27/8/2025).
Program Manajer Titian Foundation, Febriana Dwiyanti menyampaikan, acara pertemuan orang tua atau wali penerima beasiswa Gen 17 ini diadakan dalam rangka menjalin komunikasi dan kerjasama antara Titian Foundation dengan orang tua dalam pendampingan penerima beasiswa.
Sedang Pendamping Gen 17 Titian Foundation, Riski Sholekah menjelaskan, pertemuan orang tua atau wali penerima beasiswa ini untuk belajar bersama bagaimana mendampingi anak-anak mereka.
“Kita ingin bertukar ilmu, apa yang bisa diterapkan dalam mendampingi anak-anak. Karena gaya parenting dari orang tua itu berbeda-beda. Tinggal nanti penerapannya di rumah masing-masing,” katanya.
Riski Sholekah menyatakan, proses pendampingan anak itu memang tidak mudah.
“Anak sering salah paham dengan orang tua. Karena itu, kalau ada kurang dan lebihnya mohon dimaklumi. Sebab kita yakin, anak-anak ingin menjadi yang terbaik. Maka Titian Foundation mengajak bapak, ibu untuk terus mendampingi anak-anak dalam meraih impiannya,” ujarnya.
Dalam “parenting” ini, Titian Foundation menghadirkan narasumber Psikolog Yuliardi Swasono, atau yang akrab disapa Gogon.
Ia menyampaikan materi mengenai “Membangun jembatan komunikasi efektif orang tua – anak remaja”.
Dalam paparan, Yuliardi Swasono menyatakan bahwa komunikasi itu penting dilakukan di usia remaja. Mengapa? Karena pertama, perkembangan otak remaja sedang berkembang pesat, terutama bagian yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan emosi. Komunikasi membantu mereka memproses perubahan ini.
Kedua, pencarian identitas. Usia SMA adalah masa eksplorasi identitas. Dukungan dan dialog terbuka membantu mereka menemukan diri tanpa merasa dihakimi. Dan ketiga, tekanan sosial dan akademik. Remaja menghadapi tekanan dari teman sebaya, sekolah, dan masa depan. Maka, komunikasi yang baik menjadi katup pengaman.
Gogon mengatakan, komunikasi yang efektif itu bermanfaat untuk membangun kepercayaan dan dukungan. Membangun kepercayaan, karena anak merasa aman untuk berbagi pikiran dan perasaan tanpa takut dihakimi. Meningkatkan pemahaman, sebab orang tua lebih memahami dunia remaja, dan remaja memahami harapan orang tua. Mengurangi konflik karena masalah dapat dibahas secara konstruktif, bukan melalui argumen. Mendukung kesehatan mental, sebab anak merasa didengar dan didukung, sehingga mengurangi risiko stres dan kecemasan. Serta mempersiapkan masa depan, karena anak belajar keterampilan komunikasi penting untuk kehidupan dewasa.
“Prinsip dari fondasi komunikasi efektif adalah saling menghormati dan empati. Saling menghormati berarti menghargai batasan dan privasi, serta mengakui pandangan mereka. Sedang empati, berarti mencoba memahami perasaan dan sudut pandang anak, bahkan jika berbeda dengan kita. Sementara keterbukaan, berarti menciptakan ruang di mana anak merasa nyaman untuk mengungkapkan diri,” paparnya.
Yuliardi mengemukakan, ada sejumlah strategi agar komunikasi dapat berlangsung efektif. Diantaranya mendengar aktif dan memahami perspektif anak. Karena itu, orang tua perlu pertama, dengarkan sepenuhnya. Caranya dengan memberikan perhatian penuh, menyingkirkan gangguan (ponsel, pekerjaan), dan memberikan kontak mata.
Kedua, ajukan pertanyaan terbuka. Caranya dengan mendorong mereka untuk berbagi lebih banyak dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan ‘ya’ atau ‘tidak’. Contohnya: “Bagaimana perasaanmu tentang itu?” Ketiga, jangan menyela. Caranya dengan membiarkan mereka menyelesaikan pemikiran mereka, serta memberikan kesempatan untuk berbicara tanpa interupsi untuk membangun rasa percaya diri.
“Dan keempat, validasi perasaan, dan akui emosi mereka. Misalnya: “mama, papa mengerti kamu merasa frustrasi atau senang atau sedih.” Ini bukan berarti setuju, tapi mengakui,” tandasnya.
Selain itu, ada strategi yang lain dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu berbicara dengan jelas, jujur, dan tanpa menghakimi. Untuk itu, orang tua perlu satu, pilih waktu yang tepat. Caranya dengan mengindari percakapan penting saat terburu-buru atau saat anak sedang stres.
Dua, gunakan pesan “saya”. Caranya, fokus pada perasaan dan pandangan Anda, bukan menyalahkan. Contoh: “Saya khawatir ketika…” daripada “Kamu selalu…”. Tiga, memberikan pujian spesifik. Caranya, akui usaha dan pencapaian mereka. “Mama, papa bangga dengan caramu menangani proyek itu.”
“Dan empat, jaga nada suara. Caranya, pastikan nada suara Anda tenang dan menunjukkan kasih sayang, bukan tuduhan atau kemarahan,” ungkapnya.
Gogon menambahkan, ada hal-hal yang perlu dihindari dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu larangan keras tanpa alasan, membandingkan, dan menuduh.
Larangan keras tanpa penjelasan harus dihindari, karena remaja butuh alasan. Menolak tanpa penjelasan hanya akan memicu pemberontakan. Sedang membandingkan dengan orang lain dapat merusak harga diri dan memicu rasa iri. Karena setiap anak itu unik. Sementara menuduh atau menyalahkan itu menutup pintu komunikasi. Maka, fokuslah pada solusi, bukan pada siapa yang salah.
“Penting untuk diingat bahwa komunikasi adalah jalan dua arah. Karena itu, menghindari kesalahan ini akan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif,” tegasnya.
Selain itu, imbuh Gogon, ada hal yang lain yang perlu dihindari dalam membangun komunikasi yang efektif, yakni meremehkan perasaan atau menginterogasi.
Meremehkan perasaan harus dihindari. Maka, jangan pernah mengatakan “Itu bukan masalah besar” atau “Jangan lebay” ketika mereka berbagi. Apa yang terasa kecil bagi Anda, bisa jadi dunia bagi mereka. Karena itu, validasi emosi mereka, bahkan jika Anda tidak sepenuhnya mengerti.
Menginterogasi berlebihan sebaiknya tidak dilakukan. Karena memberondong anak dengan pertanyaan seperti di pengadilan akan membuat mereka menarik diri. Maka berikan ruang dan waktu. Biarkan mereka yang memulai percakapan atau memberikan petunjuk bahwa mereka siap berbicara.
Melanggar privasi juga harus dihindari. Maka, membaca diari, memeriksa ponsel tanpa izin, atau mendengarkan percakapan pribadi akan menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun.
“Sermon (kotbah) berlebihan sebaiknya juga dihindari. Jangan memberikan kuliah panjang lebar. Sebab, remaja cenderung mematikan pendengaran jika mereka merasa sedang dikuliahi. Karena itu, sampaikan poin Anda dengan singkat dan jelas,” pesannya.
Gogon mengingatkan, kunci sukses komunikasi adalah konsistensi, kesabaran, dan kasih sayang
Konsistensi artinya, jadikan komunikasi menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan hanya saat ada masalah. Karena momen kecil bisa membangun fondasi besar. Sedang kesabaran maksudnya, tidak semua percakapan akan berjalan mulus. Mungkin butuh waktu bagi anak untuk membuka diri. Maka jangan menyerah. Sementara kasih sayang tanpa syarat berarti membiarkan anak tahu bahwa cinta dan dukungan Anda tidak bergantung pada nilai, prestasi, atau perilaku mereka.
“Ketiga elemen ini adalah pilar yang akan menopang jembatan komunikasi Anda dengan anak,” pesan Gogon.









