Warta Kita.org – Pertemuan Katekese Kebangsaan di Lingkungan Santo Mateas Klaten Selatan, Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi diadakan di rumah Aloysius Triyono Dukuh Banjardowo, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten pada Selasa (26/8/2025) malam.
Pada pertemuan ini, untuk sesi dialog dan pendalaman dipandu oleh Prodiakon Paroki Wedi Yuliana Tri Harjanti.
Dalam sesi ini, umat men-sharing-kan pengalaman hidupnya dengan penuh antusias.
Ada beberapa poin yang menjadi refleksi dalam pertemuan yang mengusung tema “Keluarga menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan serta semangat kerasulan” ini. Pertama, keluarga adalah institusi ilahi. Dan kedua, keluarga bertugas menumbuhkan dan mentradisikan nilai-nilai iman kristiani serta menumbuhkan kesadaran hidup bermasyarakat.
Dalam dialog dan pendalaman mengemuka bahwa umat Lingkungan Santo Mateas Klaten Selatan telah berupaya mewujudkan janji perkawinan mereka untuk mendidik anak secara Katolik. Antara lain dengan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah (yayasan) Katolik.
“Keluarga menjadi pembentuk arah kehidupan bagi anak-anak. Keluarga (sebagai gembala yang baik) dan lingkungan berpengaruh terhadap karakter anak-anak. Karena itu, keluarga dan lingkungan perlu memberikan “benteng” agar anak-anak selalu dalam lingkungan Katolik,” kata Agus.
Tak hanya itu, keluarga perlu memberikan arahan kepada anak-anaknya secara terus menerus agar menjadi orang Katolik yang luwes.
“Keluarga perlu menanamkan kepada anak-anaknya untuk mencintai Ekaristi. Mengajak anak-anak untuk ikut Ekaristi setiap Minggu. Juga mengarahkan anak-anak untuk berdoa bersama agar kekuatan Roh Kudus selalu membimbing mereka,” ujar Eko.
“Dengan bimbingan orang tua atau keluarga, anak-anak diharapkan taat beragama sesuai berjalannya waktu. Sehingga pola asah, asih, dan asuh keluarga dapat mendukung dan membimbing anak menjadi orang Katolik yang baik,” harap Diana.

Umat merasakan, dimensi perjumpaan atau budaya srawung dengan sesama itu sangat penting. Apalagi jika umat Katolik tinggal sendirian di lingkungan yang “berbeda”. Karena itu, momen jalan sehat sehat antar RT atau RW diharapkan bisa mewujudkan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Dalam realitasnya, ada banyak umat Katolik yang mendapat kepercayaan dari masyarakat. Hal ini perlu disyukuri, karena merupakan bentuk penghargaan terhadap peran kita,” ungkap Prihadi.
Umat menyatakan, ada banyak hal yang perlu dijalani untuk melaksanakan janji perkawinan. Menurut umat, mereka sudah menjalankan proses berkeluarga dengan baik. Seperti dalam hal memahami dan membimbing anak-anak.
“Sebagai orang Katolik, hidup perkawinan itu bukanlah soal hukum saja. Tetapi juga sakramen. Maka, harus saling menghormati pasangan. Jujur dalam berkomunikasi. Tidak ada dusta diantara kita. Harus ada keterbukaan. Maka, baik kalau keluarga itu membiasakan diri menggunakan kata-kata: minta tolong, maaf, dan terima kasih,” pesan Yuli.
Terkait hadirnya teknologi informasi, umat perlu memaknai handphone (HP) secara positif sesuai makna dan fungsinya. Maka HP perlu dimatikan untuk saling menjaga perasaan dan menunjukkan kepedulian terhadap pasangan.
“Dan penting juga untuk dibuat aturan penggunaan HP untuk anak anak,” ucap Diana.









