WartaKita.org – Secara geografis, Indonesia terletak di antara tiga lempeng, yaitu Eurasia, Indonesia dan Pasifik sehingga rawan gempa dan tsunami. Dan secara geologis, Indonesia memiliki ”ring of fire” yaitu deretan gunung berapi aktif mulai dari ujung Sumatera, Jawa, Sulawesi, NTB, NTT sampai Papua.
Selain itu, adanya perubahan iklim yang ekstrim sebagai dampak pemanasan global menyebabkan semakin tingginya potensi ancaman banjir dan kekeringan. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia dikenal sebagai negeri supermaket bencana.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Omah Sambung Klaten, M Nuryadin Edi Purnama di sela kegiatan pelatihan dasar Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) di Sekretariat Omah Sambung Klaten, Gang Tempel, Dukuh Gatakceper, Desa Drono, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten pada Sabtu (25/2/2022).
Pelatihan dasar relawan penanggulangan bencana ini merupakan kerjasama antara Omah Sambung dengan Badan Penanggulangan Bencana (Bapena) Pengurus Pusat (PP) Pencak Silat Pagar Nusa.
“Ditambah lagi dengan pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, dan diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan menyebabkan intensitas dan frekuensi bencana menjadi semakin meningkat,” katanya.
M Nuryadin Edi Purnama menyatakan, pada sisi lain, penanganan situasi saat tanggap darurat bencana masih banyak terdapat berbagai permasalahan. Antara lain waktu yang sangat singkat, kebutuhan yang mendesak, dan berbagai kesulitan koordinasi.
Padahal masyarakat yang terkena bencana tetap memilik hak untuk mendapat pelayanan dan perlindungan berdasarkan standar pelayanan minimum. Mulai dari pencarian, penyelamatan, evakuasi, pertolongan darurat, pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana yang meliputi pangan, sandang, air bersih dan sanitasi, pelayanan kesehatan dan penampungan atau hunian sementara.
“Nah, berangkat dari “keprihatinan” tersebut, Omah Sambung yang salah satu konsentrasi garapannya adalah pengurangan risiko bencana, juga memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kuantitas dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di bidang penanggulangan bencana. Khususnya dalam penanganan situasi saat tanggap darurat bencana. Atas dasar itulah kami (Omah Sambung) bekerjasama dengan Bapena Pagar Nusa mengadakan pelatihan dasar relawan penanggulangan bencana ini,” ujarnya.
Nuryadin menjelaskan, pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan peserta menjadi Relawan Omah Sambung yang memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis mengenai kedaruratan bencana.
“Setelah pelatihan ini, peserta diharapkan satu, memiliki pemahaman dasar penanggulangan bencana. Dua, mempunyai pengetahuan mengenai penanggulangan bencana, khususnya penanganan pada masa tanggap darurat bencana. Tiga, memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menjalankan fungsinya sebagai Relawan Omah Sambung. Dan empat, adanya komitmen Relawan Omah Sambung terhadap organisasi dan kegiatan kemanusiaan,” harapnya.
Pria yang akrab disapa “Jojon” ini menambahkan, pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta. Terdiri dari 10 orang dari Relawan Omah Sambung Klaten dan 10 orang dari Relawan Omah Sambung Boyolali.
“Sedang pelatihan untuk Relawan Omah Sambung dari Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo akan diadakan di lain hari,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana PP Pagar Nusa, Yulistianto mengemukakan, materi yang disampaikan dalam pelatihan ini meliputi gambaran umum penanggulangan bencana, kajian analisis bencana (seperti ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko bencana) dan tindakan pengurangan risiko bencana, kaji cepat kebutuhan, rencana kontijensi, dan rencana operasi tanggap daurat.
“Sedang metode pelatihan dengan model ceramah, diskusi panel, curah pendapat, presentasi, diskusi kelompok, sharing pengalaman, dan praktek lapangan,” terangnya.
Yulistianto menerangkan, dalam diskusi panel disampaikan terkait kebijakan Pemerintah Daerah dalam penanganan darurat bencana, kebijakan Pemerintah dalam perlindungan sosial relawan, kebijakan Kepolisi Republik Indonesia (Polri) dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi tanggap darurat bencana, komunikasi bencana yang efektif dalam penanggulangan bencana, realisasi sistem komando tanggap darurat bencana, dan mobilisasi personil dan peralatan penanggulangan bencana.
“Sebagai narasumber pelatihan, kita mengundang BPBD Klaten, BPBD Boyolali, Polres Boyolali, Polres Klaten, Kodim 0723 Klaten, dan Kodim 0724 Boyolali,” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Anto ini mengutarakan, setelah diskusi panel, disampaikan materi 1 tentang gambaran umum penanggulangan bencana. Materi ini meliputi pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, siklus bencana, dan rencana kontijensi tanggap darurat bencana.
“Sedang materi 2 mengenai sistem komando penanggulangan darurat bencana yang meliputi aktivasi rencana operasi tanggap darurat bencana, kaji cepat kebutuhan, penggunaan aplikasi pembuatan infografis, dan rencana tindak lanjut,” paparnya.









