Tak Ada Air, 75 Hektar Tanaman Padi Di Desa Burikan Puso

Petani Desa Burikan terpaksa memanen lebih dini karena tanaman padinya mengering dan mati.

WartaKita.org – Dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat Kabupaten Klaten.

Sekitar 75 hektar tanaman padi milik warga Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten mengering akibat dilanda musim kemarau sejak beberapa bulan terakhir ini. Akibatnya, petani Desa Burikan mengalami puso atau gagal panen.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa (Kades) Burikan Surata didampingi Sektretaris Desa (Sekdes) Burikan Joko Supana saat ditemui wartawan pada Minggu (14/7/2019) sore menyampaikan, kondisi tanaman padi di Desa Burikan sudah mengering karena musim kemarau. Ini karena di lahan tersebut sudah tidak ada sumber air lagi.

“Selama musim kemarau, lahan sawah di Desa Burikan seluas 75 hektar tidak dapat dialiri air dari Rowo Jombor (Desa Krakitan, Kecamatan Bayat). Ini karena kondisi tanah di Desa Burikan yang lebih tinggi, sehingga air tidak bisa mengalir ke desa kami,” katanya.

Kades Suroto mengatakan, akibat kekeringan ini, tanaman padi yang telah berusia 3 bulan itu mengering dan puso. Tanaman padi warga seluas 75 hektar itu tak dapat dipanen lagi. Para petani mengalami kerugian mulai dari Rp 3 hingga Rp 4 juta per patok.

“Tidak adanya aliran air menyebabkan kondisi tanah sawah di Desa Burikan mengering dan mulai retak, sehingga tanaman padi pun ikut mengering dan mati. Padahal musim kemarau diperkirakan masih akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Surata menyatakan, Pemerintah Desa Burikan merencanakan membuat sumur bor sebanyak 10 titik dengan kedalaman 80 hingga 100 meter.

“Rencananya, pembuatan sumur bor tersebut akan menggunakan anggaran Dana Desa (DD) tahun 2020,” ucapnya.

Sementara itu salah seorang petani Desa Burikan, Ngateman menuturkan, keringnya lahan padi itu karena para petani hanya mengandalkan air hujan untuk mengaliri sawah. Padahal pada bulan April yang lalu hujan masih terjadi.

“Upaya yang kita lakukan selanjutnya yaitu dengan menyedot air dari sungai. Namun upaya ini tidak bertahan lama karena air sungai pun mengering. Akibatnya, bulir padi tidak berisi alias puso. Maka petani terpaksa memanen padi lebih dini untuk pakan ternak,” ungkapnya.

Pos terkait