WartaKita.org – Anggota DPR RI Komisi IX dari Fraksi PDI Perjuangan, Rahmad Handoyo bersama Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah menggelar kegiatan Sosialisasi Promosi dan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) Program Percepatan Penurunan Stunting di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten pada Minggu (10/9/2023).
Kegiatan sosialisasi ini menampilkan tiga narasumber, yaitu Anggota DPR RI Komisi IX dari Fraksi PDI Perjuangan, Rahmad Handoyo, Kepala UPT BPPKKB Banyumas yang mewakili BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Umi Hidayati, dan Kepala DissosP3AKB Kabupaten Klaten, Much Nasir.
Rahmad Handoyo menjelaskan, stunting perlu dicegah. Karena stunting akan menyebabkan anak menjadi kurang cerdas dan pertumbuhan anak terganggu.
“Kebanyakan masyarakat mengetahui bahwa stunting itu mesti pendek. Padahal, pendek itu belum tentu stunting. Kita perlu mencegah stunting sejak dini. Karena stunting yang sudah terjadi diatas 2 tahun akan sulit disembuhkan,” katanya.
Pada kesempatan itu Rahmad Handoyo juga berpesan kepada warga yang berumur di atas 40 tahun untuk melakukan cek kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Untuk apa kita perlu mengecek kesehatan kita? Agar kita mengetahui kadar gula darah kita, tekanan darah kita, dan kadar kolesterol kita. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dalam mengatur pola makan. Karena penyakit yang ada pada tubuh manusia itu diakibatkan bukan dari faktor keturunan. Tetapi kebanyakan dari pola makan yang tidak baik,” tandasnya.

Sedang Kepala UPT BPPKKB Banyumas yang mewakili BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Umi Hidayati menyatakan, penurunan stunting adalah program prioritas nasional yang harus dilaksanakan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Daerah.
“Program 1000 hari pertama kehidupan perlu dioptimalkan untuk menyongsong tahun 2045 sebagai Indonesia Emas untuk Republik Indonesia. Hal ini perlu dilakukan dari masa kehamilan sampai bayi berusia 2 tahun. Karena itu, masyarakat perlu diimbau untuk menghindari makanan yang berpengawet, pentingnya kebersihan atau sanitasi keluarga dan lingkungan, dan memperhatikan pola asuh anak. Agar angka stunting bisa menurun,” paparnya.
Umi Hidayati menerangkan, untuk menghindari stunting, masyarakat perlu memperhatikan usia perkawinan yang ideal yaitu 21 tahun.
“Ini agar tumbuh kembang anak-anak bisa lebih baik,” tandasnya.
Sementara itu Kepala DissosP3AKB Kabupaten Klaten, Much Nasir mengungkapkan, stunting adalah kondisi anak dimana perkembangan dan pertumbuhannya kurang. Pertumbuhan terkait badannya. Sedang perkembangan terkait otak atau kecerdasan.
“Target Nasional adalah Indonesia terbebas dari stunting di Tahun 2024. Karena itu, pencegahan stunting secara dini ini menjadi tugas kita bersama, termasuk tugas TPK (tim pendamping keluarga),” katanya.

Much Nasir menambahkan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah stunting. Pertama, calon pengantin perlu memperhatikan usia minimal menikah, yaitu 21 tahun. Selain itu, kedua calon pengantin juga harus dalam keadaan sehat. Kedua, ibu hamil perlu memperhatikan umur rawan kehamilan, yaitu 0-3 bulan dan 7 – 9 bulan. Ketiga, ibu harus menyusukan ASI (air susu ibu) Eklusif untuk bayinya. ASI pertama untuk kekebalan bayi itu sangat penting dan harus diberikan kepada bayinya.
“Dan keempat, warga perlu mengetahui kegunaan alat-alat kontrasepsi. Karena itu, ibu dan bapak harus mau melakukan KB. Karena berencana itu keren,” jelasnya.
Terkait, Kepala Desa Mranggen, Miseran dalam sambutan mengucapkan terima kasih atas kedatangan Rahmad Handoyo dan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah di desanya.
“Semoga kegiatan sosialisasi ini memberi manfaat untuk masyarakat Desa Mranggen pada khususnya dan Kecamatan Jatinom pada umumnya,” ucapnya.









