Sejahterakan Masyarakat, CU Kridha Rahardja Adakan Pelatihan Budidaya Maggot Sebagai Pakan Alternatif Untuk Ternak

Peserta dan narasumber pelatihan budidaya maggot sebagai pakan alternatif untuk ternak berfoto bersama di rumah Suryono Desa Sukorejo, Minggu (19/6/2022).

WartaKita.org – Credit Union (CU) Kridha Rahardja (KR) mengadakan pelatihan budidaya maggot sebagai pakan alternatif untuk ternak di rumah Suryono Dukuh Sembung, Desa Sukorejo, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Minggu (19/6/2022).

Sekitar 30 orang yang terdiri dari anggota CU KR dan masyarakat umum mengikuti pelatihan budidaya maggot ini.

Bacaan Lainnya

Pelatihan budidaya maggot ini menampilkan dua narasumber, yaitu Kepala Kantor Administrasi Veteran dan Cadangan (Kaminvetcad) IV-19 Klaten, Mayor Inf Puji Mulyono dan praktisi budidaya maggot, Suryono yang juga Kepala Desa (Kades) Sukorejo, Kecamatan Wedi.

Komite CU Kridha Rahardja, T Tri Setyono dalam sambutan menyampaikan, CU Kridha Rahardja adalah lembaga pemberdayaan anggota (masyarakat). Jadi, bukan hanya lembaga keuangan saja. Karena itu, CU Kridha Rahardja selalu berupaya untuk memfasilitasi berbagai keinginan dan kebutuhan anggota untuk mengembangkan diri dan menyejahterakan hidupnya.

“CU Kridha Rahardja sudah pernah mengadakan pelatihan membuat kue, pakan sapi, pertanian, dan sebagainya. Dan kali ini kita mengadakan pelatihan budidaya maggot. Dari pelatihan budidaya maggot ini diharapkan anggota tidak sekadar tahu, tetapi bisa melakukan. Semoga dengan pelatihan budidaya maggot ini dapat meningkatkan penghasilan anggota dan masyarakat, sehingga mereka semakin sejahtera,” katanya.

Kepala Kaminvetcad IV-19 Klaten, Mayor Inf Puji Mulyono menjelaskan materi pelatihan budidaya maggot sebagai pakan alternatif untuk ternak di rumah Suryono Desa Sukorejo, Minggu (19/6/2022).

Sedang Kepala Desa (Kades) Sukorejo, Suryono dalam sambutan mengapresiasi para peserta yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk mengikuti pelatihan budidaya maggot ini.

“Saya membudidayakan maggot ini belum begitu lama. Selama ini, maggot tersebut saya gunakan untuk pakan ternak, yaitu ayam dan lele. Saya optimis, kalau budidaya maggot ini ditangani secara serius dan sungguh-sungguh, pasti akan memberikan penghasilan kepada kita,” ujarnya.

Sementara itu narasumber pelatihan budidaya maggot, Mayor Inf Puji Mulyono menjelaskan, para ahli berpendapat, usaha yang bisa bertahan dan berprospek di masa mendatang adalah bidang yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan energi. Usaha peternakan yang menghasilkan sumber pangan dan energi bagi manusia menjadi salah satu bidang yang berprospek cerah.

“Di usaha peternakan, biaya terbesar ada di pakan. Maka, peternak harus bisa membuat pakan alternatif untuk menekan biaya produksi. Dengan demikian, peternak akan mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Karena itu, pelatihan budidaya maggot sebagai pakan alternatif untuk ternak ini menjadi sangat relevan,” terangnya.

Kades Sukorejo Suryono menjelaskan proses dan tahapan budidaya maggot.

Puji Mulyono menerangkan, maggot yang biasa dibudidayakan sebagai pakan ternak adalah lalat dari jenis Black Soldier Fly atau BSF. Siklus hidup maggot ini terdiri dari 5 fase, yaitu telur, larva, prepupa, pupa, dan dewasa. Lama siklus hidup maggot antara 38 sampai 41 hari. Selama masa itu, satu lalat betina dewasa bisa menghasilkan telur hingga 500 butir. Dengan lama telur menetas adalah 4-5 hari.

Pakan maggot ini sangatlah mudah. Karena hanya perlu diberikan pakan dari limbah organik rumah tangga seperti limbah sayuran, buah-buahan, limbah peternakan, dan limbah pengolahan makanan. Oleh karena itu, maggot ini bisa menjadi solusi dalam pengolahan limbah organik agar tidak menumpuk dan meningkatkan kadar amoniak di tempat pembuangan akhir. Kemampuan 1 larva dalam menghabiskan pakan limbah organik adalah sebanyak 25 mg-500 mg per hari. Sedang ukuran larva maggot saat panen adalah sekitar 27 mm, lebar 6 mm, dan berat 220 mg.

Puji Mulyono mengemukakan, ada sejumlah keuntungan atau keunggulan dari budidaya maggot  ini. Pertama, pemanfaatan larva BSF dapat mengurangi dampak penumpukan sampah organik dan juga dapat mengurai limbah organik. Jadi, budidaya maggot ini berdampak baik untuk lingkungan sekitar. Kedua, larva BSF tidak menimbulkan bau yang menyengat dan sangat higienis menjadi pakan alternatif. Ketiga, larva BSF ini bukan vektor suatu penyakit. Jadi, sangat aman untuk kesehatan manusia. Karena itu, budidaya maggot tidak menimbulkan penularan penyakit.

“Keempat, secara ekonomi, maggot BSF bisa dijual dalam bentuk mentahan saja. Tetapi akan lebih baik dan menguntungkan bila dikombinasikan dengan bentuk tepung untuk campuran pakan. Dan kelima, sebagai sumber pakan, maggot BSF mengandung protein tinggi sebanyak 40 persen sampai 50 persen yang dimanfaatkan untuk pakan ayam, lele, burung, dan sebagainya,” paparnya.

Mayor Inf Puji Mulyono mempraktekkan cara membuat pakan alternatif untuk ternak.

Usai menerima penjelasan dari Puji Mulyono, peserta pelatihan diajak melihat langsung budidaya maggot yang dilakukan oleh Suryono di kandangnya. Dalam kesempatan itu, Suryono menjelaskan proses atau tahap budidaya maggot dari awal sampai akhir. Peserta pun antusias menyimak apa yang disampaikan Kades Sukorejo itu.

Selanjutnya, Puji Mulyono mempraktekkan cara membuat pakan alternatif untuk ternak dari komposisi sejumlah bahan yang ditambahi dengan maggot. Komposisi itu berupa bekatul, bravo (konsentrat), jagung giling, tepung ikan, dan maggot.

“Komposisi pakan ini sudah sangat bagus untuk ternak. Dan bila dihitung, peternak akan menghemat biaya atau pengeluaran untuk pakan yang lumayan banyak. Kalau hal itu bisa dilakukan peternak, maka penghasilan peternak akan lebih banyak. Dan mereka akan lebih sejahtera,” tandas Puji Mulyono.

Pos terkait