Sebagai Wujud Syukur, Warga Wiro Gelar Bersih Dusun, Kirabkan Ingkung Kambing Kendit

Dalam kirab budaya di Dukuh Wiro ini turut dikirab ingkung kambing kendit sebagai syarat utama yang diiringi 11 jodang hasil bumi sumbangan masyarakat.

Warta Kita.org – Warga Dukuh Wiro, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten menggelar rangkaian kegiatan bersih dusun atau rasulan dari Kamis sampai Sabtu (28-30/8/2025).

Ketua panitia kegiatan rasulan, Purwono, Sabtu (30/8/2024), menyampaikan, kegiatan rasulan ini sebagai wujud syukur masyarakat Dukuh Wiro dan sekitarnya atas berkah yang diberikan Tuhan kepada mereka.

Bacaan Lainnya

“Kegiatan rasulan ini sebagai wujud syukur dari masyarakat atas hasil bumi, hasil pertanian, dan juga wujud syukur dari warga yang bekerja di luar daerah, serta dari seluruh unsur masyarakat. Kita bersama-sama mengadakan kegiatan rasulan ini,” katanya.

Purwono mengatakan, kegiatan rasulan ini diadakan rutin setiap tahun, yaitu pada bulan Mulud. Jadi, kegiatan ini sekaligus Mulud Rasul, atau dalam rangka memperingati Maulud Nabi, dan juga rasulan atau bersih dusun.

“Rasulan ini diadakan pada hari pasaran Wage di bulan Mulud. Karena leluhur kita dari dulu memakai hari pasaran Wage,” ujarnya.

Purwono menyatakan, rasulan tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan seni budaya. Di antaranya pentas karawitan dari tiga kelompok karawitan lokal, yaitu Cinde Laras, Mardi Laras, dan Edi Peni. Selain itu juga diadakan kirab budaya dilanjutkan shodaqohan yang diadakan di Masjid Al Islam Dukuh Wiro.

“Dan sebagai puncak acara adalah pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan Dalang Ki Jalu Tomo Pandoyo pada Sabtu (30/8/2025) malam ini,” paparnya.

Kirab budaya di Dukuh Wiro ini menempuh jarak sekitar tiga kilo meter dengan mengitari dukuh setempat.

Purwono menjelaskan, start kirab budaya ini dari lokasi pagelaran wayang kulit dan finish di di Masjid Al Islam Dukuh Wiro. Peserta kirab menempuh jarak sekitar tiga kilo meter dengan mengitari Dukuh Wiro.

Dalam kirab budaya ini turut dikirab ingkung kambing kendit sebagai syarat utama yang diiringi 11 jodang hasil bumi sumbangan masyarakat.

“Ingkung kambing kendit ini sebagai syarat sarana wajib. Nanti ingkung kambing kendit ini akan disajikan dalam pagelaran wayang kulit. Kita bagikan kepada masyarakat untuk dimakan bersama-sama,” ungkapnya.

Purwono menambahkan, masyarakat Dukuh Wiro berkomitmen akan terus melestarikan tradisi bersih dusun atau rasulan ini.

Insyaallah, kedepan, tradisi rasulan sebagai upaya pelestarian budaya ini akan diangkat ke tingkat kabupaten. Dan semoga, dari Pemerintah Kabupaten Klaten bisa menyikapi. Ini akan menjadi agenda pariwisata, utamanya dalam hal pelestarian budaya tingkat Kabupaten Klaten,” harap Purwono.

Takmir Masjid Al Islam Dukuh Wiro, Sri Daryanto.

Sedang Takmir Masjid Al Islam Dukuh Wiro, Sri Daryanto mengemukakan, tradisi bersih dusun atau rasulan ini memiliki makna mendalam bagi sejarah masyarakat Dukuh Wiro.

“Kami mengambil waktu bertepatan dengan hari kelahiran Ki Demang Karyo, seorang tokoh spiritual dan pemerintahan yang sangat dihormati di sini. Setiap panen raya, kami selalu mengadakan acara syukuran untuk menjaga dan melestarikan tradisi ini,” ujarnya.

Sri Daryanto menerangkan, dari sisi budaya, acara ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan kembali kearifan lokal dan menjaga tradisi agar tetap hidup dalam masyarakat.

“Pementasan wayang kulit yang diadakan ini menjadi bagian penting dari budaya yang patut dilestarikan. Selain itu, acara ini juga untuk mengingatkan akan pentingnya berbagi dan sedekah dalam menjaga kesejahteraan bersama,” terangnya.

Ia berharap, dengan terlaksananya acara ini, seluruh warga Dukuh Wiro dapat merasakan kebahagiaan dan mendapat berkah dari Tuhan.

“Kami berharap agar seluruh makanan yang disedekahkan hari ini habis. Artinya bahwa apa yang kami lakukan diterima dengan baik oleh Allah dan memberikan manfaat bagi semua,” tegasnya.

Pada kirab budaya di Dukuh Wiro ini, warga membawa tenong yang diisi aneka makanan, jajanan, lauk pauk, buah, sayuran, dan sebagainya.

Pada kirab budaya ini, warga membawa tenong. Dalam tenong itu diisi aneka makanan, jajanan, lauk pauk, buah, sayuran, dan sebagainya.

Tenongan ini untuk umum. Artinya, semua warga yang hadir boleh mengambil. Dan apabila tenong itu habis atau kosong, maka mereka pun merasa senang. Karena tenongan itu memberi berkah kepada masyarakat.

Setelah didoakan, tenongan dan gunungan tersebut lalu diperebutkan oleh masyarakat yang datang. Dan dalam waktu sekejap, tenongan dan gunungan itu pun habis diperebutkan oleh warga yang hadir. Setelah itu, mereka makan bersama.

Kirab budaya ini mendapat sambutan antusias dari warga.

Siti, warga Desa Wiro merasa senang bisa mengikuti acara bersih dusun ini.

“Kegiatan ini sangat bagus, dan perlu terus dilestarikan. Karena kita bisa bersyukur kepada Tuhan. Kita bisa bersilaturahmi. Dan kita bisa bergembira bersama warga lainnya,” ucapnya.

Pos terkait