Sarat Filosofi, Umat Paroki Wedi Buat Pohon Natal Dari Sapu Lidi

Umat Paroki Wedi berfoto di sekitar pohon Natal dari sapu lidi.

WartaKita.org – Umat Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten membuat pohon Natal dari sapu lidi pada perayaan Natal 2021 ini.

Pohon Natal yang dibuat umat ini menggunakan sekitar 500 sapu atau 75.000 batang lidi. Pohon Natal sapu lidi itu tingginya 7,5 meter, berbentuk kerucut dengan diameter bawah sekitar 2,5 meter.

Bacaan Lainnya

Tim Kerja Kreatif Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Antonius Supriyadi menjelaskan, sapu lidi tersebut berasal dari sumbangan umat paroki setempat.

“Kami membuat pohon Natal dari sapu lidi ini pertama, sebagai simbol semangat kekompakan dari seluruh umat Paroki Wedi dalam gerak langkah bangkit dari pandemi untuk meneruskan hidup lebih baik. Kedua, bahwa sapu terbentuk dari banyak lidi yang disatukan dengan suh [tali pengikat sapu]. Lidi itu umat dan pengikatnya itu Tuhan Yesus yang hadir di dunia menyatukan umat,” katanya saat ditemui di sela pembuatan pohon Natal, Sabtu (18/12/2021).

Antonius Supriyadi menyampaikan, pohon Natal itu akan dipajang di halaman Gereja Wedi hingga dua pekan setelah hari Natal. Sapu-sapu pembentuk pohon Natal itu akan dibagikan ke gereja dan kapel setempat dan umat atau warga yang membutuhkan agar tetap bisa dimanfaatkan.

Sementara itu Pastor Kepala Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr mengatakan, pendirian pohon Natal dari sapu lidi itu memberi pesan kepada seluruh umat. Pesan yang disampaikan yakni agar seluruh umat bersatu untuk menguatkan persaudaran, memulihkan kondisi ekonomi, kesejahteraan, dan sosial dari dampak pandemi Covid-19.

“Kami mengambil filosofi dari pohon Natal ini, kalau kita bersatu, bisa membuat segala sesuatu itu indah dan menjadi lebih baik. Sapu juga dipakai untuk membersihkan. Kalau tidak diikat dalam satu kesatuan hasilnya tidak baik,” ujar rama.

Umat Paroki Wedi saat membuat pohon Natal dari sapu lidi.

Di antara umat Paroki Wedi yang ikut membuat pohon Natal itu ada penyandang disabilitas, yaitu Ignasius Yunanto. Setiap hari dia datang ke gereja untuk ikut membuat pohon Natal. Meski dia kehilangan salah satu kaki dan berjalan dibantu menggunakan kruk, Yunanto sesekali naik perancah untuk memasang sapu.

“Prinsip saya, selama saya mampu berjalan tetap saya kerjakan. Ini juga memotivasi teman-teman lainnya,” jelas dia.

Ignasius Yunanto mengatakan untuk membangun pohon Natal itu dibutuhkan bambu sebagai rangka serta sekitar 500 sapu. Masing-masing sapu terdiri 100-150 batang lidi.

“Kemarin itu sempat was-was dalam pengadaan sapu. Ternyata, umat antusias untuk menyumbang sapu,” ucapnya.

Pos terkait