WartaKita.org – PT Algaepark Indonesia Mandiri (AIM) bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sinergi Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten mengembangkan alga menjadi aneka produk olahan. Diantaranya menjadi suplemen alami, skin care, superfood, pupuk organik, microbio solution, makanan atau minuman dengan pewarna alami, dan lainnya.
Direktur Utama (Dirut) PT Algaepark Indonesia Mandiri, Rangga Warsita Aji, saat ditemui di Sidowayah, Sabtu (9/10/2021), menyampaikan, pengembangan alga ini memanfaatkan teknologi tepat guna yang mana bibit alga dikembangkan di air tawar sebelum dipanen.
“Pada umumnya, alga dikembangkan dengan air laut. Tetapi di sini (Sidowayah), alga bisa dikembangkan dengan memanfaatkan air tawar,” katanya.
Rangga Warsita Aji menjelaskan, produksi alga ini diawali dari tahap pembibitan, lalu dibesarkan di air tawar selama tiga hari. Sumber air tawar ini berasal dari Umbul Manten. Setelah itu, dilakukan pengenceran, pengurangan kadar air, membentuk lapisan pipih, dan tahap sterilisasi. Berikutnya, alga diolah menjadi bubuk sebagai bahan dasar pembuatan kapsul dan produk lainnya.
“Unit produksi mikro alga di Sidowayah ini mampu memproduksi 2 sampai 4 ton per bulan. Ada beberapa produk hasil olahan alga, seperti sprintes gold (kapsul), sprintes blue (kapsul), serum kecantikan, sabun kecantikan, dan mi spirulina. Di samping itu, alga juga bisa diolah menjadi bahan pupuk organik dan mendukung industri makanan serta kesehatan,” ujarnya.

Rangga menyatakan, pengembangan alga di Sidowayah ini dilakukan para kawula muda. Sebanyak 30 orang yang terlibat di dalamnya merupakan anak muda yang berusia di bawah 30 tahun.
“Pengembangan usaha alga ini bekerja sama dengan BUMDes Sidowayah. Sejauh ini, PT Algaepark Indonesia Mandiri telah berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan asli desa (PADes) Sidowayah,” tandasnya.
Alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu mengemukakan, alga yang dihasilkan di Sidowayah ini dinilai kaya nutrisi, yakni memiliki kandungan protein hingga 70 persen. Alga yang diklaim sebagai makanan masa depan ini juga dapat digunakan melawan persoalan kesehatan, seperti stunting, telat pertumbuhan, dan kurang gizi.
“Selain astronaut, tentara di perbatasan juga mengonsumsi alga ini dalam bentuk kapsul. Jika mengonsumsi dua kapsul setiap pagi, siang, dan malam hari, maka setara dengan satu kilogram sayur dan buah-buahan,” jelasnya.
Dia menambahkan, produk olahan alga ini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Mereka pernah mengekspor hingga Amerika, Rusia, dan Prancis sejak tahun 2019.
“Saat ini kami sedang menjajaki ekspor dengan Jepang dan Swiss dalam bentuk serbuk. Rata-rata ekspor mencapai 300 kg sampai 800 kg per bulan. Harga alga untuk standar makanan senilai Rp600 ribu sampai Rp1 juta per kg,” paparnya.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Sidowayah Mujahid Jaryanto menyatakan, alga yang diproduksi PT AIM dan BUMDes Sidowayah ini telah mendunia. Alga yang dikemas dalam bentuk kapsul ini dapat diproyeksikan sebagai makanan masa depan.
“Astronaut dan tentara di perbatasan juga mengonsumsi alga dari sini. Banyak yang suka karena praktis. Karena bagi astronaut tidak perlu bawa kompor di ruang angkasa. Begitu juga bagi tentara. Begitu makan alga, bisa awet kenyang,” tandasnya.
Mujahid berharap, pengembangan alga yang dilakukan PT AIM dengan BUMDes Sidowayah ini akan terus berkembang di waktu mendatang.
“Ini satu-satunya di Indonesia. Bahkan di dunia. Rencananya, tempat produksi akan diperluas lagi ke depan,” ucapnya.









