WartaKita.org – Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi mengadakan Misa malam 1 Sura di Gua Maria Wahyu Ibuku Giri Wening Dusun Sengonkerep, Kalurahan Sampang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul (Lingkungan Santa Monica Sengonkerep) pada Selasa (18/7/2023) pukul 19.00 WIB.
Misa yang dipimpin oleh Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr ini dihadiri umat Paroki Wedi dan sekitarnya.
Rama AG Luhur Prihadi dalam homili menyampaikan, Misa malam 1 Sura adalah bagian dari perwujudan gerakan inkulturasi dalam Gereja Katolik, yaitu suatu usaha menanamkan iman melalui budaya lokal supaya iman Katolik mengakar dalam rasa perasaan religius masyarakat Jawa.
“Malam 1 Sura dimaknai sebagai kesempatan mawas diri dan pemurnian diri kembali, khususnya dalam membangun keharmonisan dalam relasi dengan Tuhan, sesama dan alam semesta,” kata rama.
Rama Luhur menyatakan, kalau dalam masyarakat Jawa ada tradisi “jamasan tosan aji”, maka dalam Perayaan Ekaristi malam 1 Sura, umat Katolik mengenang Salib Kristus yang menjadi sumber keselamatan dan penebusan umat manusia yang berdosa.
“Dalam Ekaristi ini kita menyegarkan iman bahwa Kristuslah satu-satunya penyelamat manusia. Kita perlu menghayati simbol-simbol dalam upacara liturgi sebagai sarana menerima karya penyelamatan Tuhan (air pembaptisan) dan sarana memuliakan Tuhan (pendupaan),” ujar rama.
Pada kesempatan itu, juga diadakan pemotongan tumpeng.

Usai Misa diadakan sarasehan bersama Rama Heribertus Warnoto Notowardoyo, Pr.
Rama Warnoto Notowardoyo menjelaskan, 1 Sura adalah tahun baru penanggalan Jawa atau tahun Saka. Perayaan 1 Sura sudah menjadi bagian dari budaya Jawa, dan bahkan budaya Indonesia.
“Seperti perayaan tahun baru lainnya, perayaan 1 Sura menjadi kesempatan bagi kita untuk refleksi, bersyukur, dan memohon keselamatan dalam memasuki tahun baru,” papar rama.

Rama Warnoto menambahkan, bagi umat Katolik, ikut merayakan 1 Sura memiliki makna berkaitan dengan inkulturasi penghayatan iman, khususnya inkulturasi liturgi. Warisan budaya Jawa yang berkaitan dengan perayaan tradisi Suran juga mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran iman Katolik.
“Seraya “nguri-uri” budaya Jawa, kita pun bisa merayakan sebagai ungkapan dan seturut iman kita,” tandas rama.
Setelah sarasehan, dilanjutkan acara lek-lekan dan makan bersama umat, mahasiswa KKN, dan warga sekitar Sengonkerep.









