WartaKita.org – Kabar gembira bagi pecinta wisata di Kabupaten Klaten dan sekitarnya.
Kini telah hadir The Honduras, sebuah wahana wisata yang berada di Jalan Raya, Area Kebun atau Sawah, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.
Acara grand opening wahana wisata yang menyajikan berbagai fasilitas ini dilakukan pada Sabtu (9/6/2024).
Humas The Honduras, Istu menyampaikan, selama ini, pihaknya melihat bahwa kawasan wisata di Kabupaten Klaten masih terkonsentrasi di kawasan Desa Ponggok (Kecamatan Polanharjo) dan Cokro (Kecamatan Tulung).
“Nah, kebetulan ada proposal bussines plan yang ditawarkan ke kami, dan kami merasa cocok dengan apa yang diharapkan. Akhirnya, kita sepakat dengan sharing (modal) dan pembagian CSR (corporate social responsibility) nantinya,” katanya.
Istu menyatakan, pihaknya yakin dengan prospek The Honduras kedepan. Apa yang disajikan The Honduras bakal diterima dan diminati masyarakat atau pengunjung.
“Kami yakin bukan saja dengan bangunan yang kita sajikan di sini. Tetapi juga dengan tim yang solid, yang memfasiltasi apa yang kita butuhkan saat ini. Terutama dengan kurikulum pendidikan. Itu pelayanan kami, yang akan selalu kami usahakan sebagai service excellent. Nantinya kita lebih mengarahkan ke edukasi, terutama untuk pendidikan anak-anak di bawah usia remaja,” terangnya.

Istu mengatakan, kedepan, The Honduras akan menyajikan wisata malam di Desa Ponggok ini.
“Kedepan, tempat wisata ini akan buka sampai malam hari. Karena selama ini Ponggok tidur setelah Maghrib. Maka, sekarang akan kita bangunkan. Saat ini kita masih dalam proses menuju ke sana. Fasilitas sudah kita siapkan. Tinggal fasilitas-fasilitas pendukungnya. Kita akan lakukan secepatnya,” ujarnya.
Sedang Manajemen Operasional The Honduras, Joko Winarno mengatakan, pihaknya ingin memberikan sesuatu hal yang beda. Maka untuk tagline The Honduras yaitu wisata keluarga dan outbond.
“Karena di kawasan Desa Ponggok ini hanya tamu-tamu reguler yang datang dan kemudian pergi. Belum terkelola dengan maksimal. Jadi kita mengarah ke teman-teman corporate baik dari sekolah, perusahaan, dan sebagainya. Ini akan kita kelola dengan baik, dengan segmen pasar yang cukup banyak, yaitu kolaborasi dengan teman-teman agen travel dan EO (event organizer),” terangnya.
Joko Winarno mengemukakan, pekerjaan rumah (PR) bagi para pengelola wisata di Ponggok ini yaitu padat dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 18.00 sore. Tetapi setelah pukul 19.00 mulai sepi.
“Harapannya, dengan main lighting, membuka cafe, dan sebagainya, aktifitas malam di Ponggok ini mulai hidup. Jadi perputaran ekonomi bisa 24 jam,” harapnya.

Joko menambahkan, harga tiket masuk (HTM) di The Honduras ini sama dengan obyek wisata di Ponggok lainnya yaitu Rp10 ribu.
“Untuk kegiatan outbond kami ada beberapa paket, dan menyesuaikan permintaan. Misalnya untuk anak-anak PAUD, SD, SMP, corporate dan sebagainya. Kami ingin melengkapi wahana wisata di Ponggok ini, dan mendorong untuk wisata edukasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, di The Honduras ini juga menyajikan wahana (bioskop) 3D virtual reality. Dan ini menjadi yang pertama kali di Kabupaten Klaten.
“Dengan 3D virtual reality ini anak-anak bisa melihat Jurassic Park dalam tiga dimensi. Kalau yang suka horor juga ada. Ada roller coaster dan lain-lain. Jadi ada pengalaman tersendiri. Bagi anak-anak yang dari SD IT muslim, ada (materi) kaitannya dengan kisah nabi, perjalanan umroh dalam tiga dimensi,” paparnya.
Sementara itu Kepala Desa Ponggok, Junaedi Mulyono atas nama Pemerintah Desa (Pemdes) Ponggok mengucapkan terima kasih atas kerjasama dan kolaborasi dari The Honduras dalam pembangunan wisata di Ponggok.
“Dengan adanya kolaborasi ini diharapkan, wisata di Desa Ponggok akan lebih maju, lebih bervariasi, dan lebih kreatif dalam mengisi wahana yang ada di desa ini,” harapnya.’

Junaedi Mulyono pun mengapresiasi The Honduras dan para wisatawan yang telah berkontribusi dalam mengembangkan wisata di Desa Ponggok.
“Kami punya target-target terkait wisata di Desa Ponggok ini. Karena dalam mengembangkan wisata di Desa Ponggok ini, kami juga punya Soko Alas yang juga berkolaborasi dengan Pemdes dan BUMDes Ponggok. Kami harapkan, di Desa Ponggok ini tidak hanya wisata air. Tetapi juga wisata outbond, wisata edukasi, dan lain-lain,” harapnya.
Junaedi menjelaskan, kolaborasi dengan pihak lain ini muncul karena adanya pandemi Covid 19 yang lalu. Dengan adanya pandemi itu, maka wisata di Ponggok sempat down. Ini yang memunculkan pemikiran mereka untuk menggandeng investasi dengan pihak luar.
“Harapannya, untuk percepatan sektor wisata di Desa Ponggok. Karena kalau kita cuma mengandalkan APBDes, atau kemampuan teman-teman dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), sangat sulit untuk mengimbangi pariwisata yang ada di sekitar kita,” tandasnya.
Menurut Junaedi, persaingan wisata itu tidak mudah. Maka, mereka harus kreatif dan inovatif dalam mengembangkan wisata di Desa Ponggok ini.
“Terima kasih kepada The Honduras yang telah memulai. Paling tidak untuk fasilitas standar pariwisata sudah dapat terpenuhi. Dengan adanya usaha wisata dari luar ini, kita mengedukasi SDM (sumber daya manusia) yang ada di Desa Ponggok ini, dalam pengelolaan wisata, terutama dalam hal standar wisata di Desa Ponggok,” terangnya.

Untuk diketahui, The Honduras ini menyajikan berbagai fasilitas seperti kolam yang menyerupai pola aliran sungai, beberapa tempat duduk untuk bersantai berupa gazebo yang dihias menyerupai sangkar burung dan tempat duduk melingkar tanpa atap.
Juga tersedia pula musala, toilet, dan food court. Selain itu, The Honduras juga menawarkan wahana bermain 3D virtual reality yang seru untuk dicoba.
Ada spot-spot menarik yang dapat menjadi ciri khas objek wisata The Honduras yaitu bangunan seperti menara atau mercusuar berwarna merah, putih, kuning, dan gazebo yang menyerupai sangkar burung.
Ketika malam hari, The Honduras ini dihiasi lampu-lampu yang dipasang mengelilingi tempat duduk sehingga akan terlihat cantik.









