Lestarikan Kesenian Tradisional, Pemprov Jateng Gelontorkan Banyak Dana, Sukirno: Berkesenian Itu Penting…

Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tegah Stephanus Sukirno mengadakan kegiatan sosialisasi kebijakan melalui media tradisional di Dukuh Krangkungan pada Sabtu (8/6/2024) malam.

WartaKita.org – Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tegah Stephanus Sukirno mengadakan kegiatan sosialisasi kebijakan melalui media tradisional di Dukuh Krangkungan RW 06 Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten pada Sabtu (8/6/2024) malam.

Kegiatan sosialisasi yang mengusung tema “Kesenian tradisi sebagai media sosialisasi” ini menampilkan Karawitan Sekar Puri (Sekelompok Karawitan Panglipur Diri) dari Dukuh Krangkungan.

Bacaan Lainnya

Untuk diketahui, Dukuh Krangkungan ini adalah tanah kelahiran dari Dalang Kondang Ki Narto Sabdo.

Ketua RW 06 Dukuh Krangkungan, Agus Nugroho dalam sambutan mengucapkan terima kasih atas kehadiran Stephanus Sukirno di dukuhnya.

“Semoga kehadiran Pak Stephanus Sukirno ini menjadikan semangat bagi masyarakat. Dan semoga, kegiatan ini bermanfaat bagi semuanya,” ucapnya.

Sedang Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tegah Stephanus Sukirno menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) sangat peduli dengan berbagai kesenian tradisional yang ada di masyarakat. Karena itu, Pemprov Jateng menganggarkan banyak dana untuk melestarikan kesenian tradisional setiap bulannya.

“Jumlahnya anggarannya lumayan banyak. Sampai ratusan juta. Anggaran ini untuk melestarikan kesenian tradisional. Untuk mendukung segala sesuatu yang mempunyai seni. Agar seni tradisi itu bisa lestari dan terus berkembang,” katanya.

Karawitan Sekar Puri Dukuh Krangkungan terus eksis sampai sekarang.

Stephanus Sukirno menyatakan, masyarakat perlu memiliki perhatian dan keinginan untuk melestarikan kesenian tradisional yang ada. Tidak hanya sekadar menikmati kesenian, tetapi warga juga perlu berkesenian.

“Kesenian tradisional itu tidak hanya didengarkan atau dinikmati. Tetapi agar kita memiliki daya rasa. Kalau daya cipta itu dibentuk di sekolah. Daya karsa dibentuk oleh unggah ungguh, agama, norma, dan sebagainya. Tetapi kalau daya rasa itu dibentuk oleh seni. Maka masyarakat perlu berkesenian. Agar memiliki daya rasa yang baik,” terangnya.

Mantan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang ini berharap, kesenian tradisional bisa memberikan “nilai lebih” dari sekadar sebuah seni. Kesenian tradisional bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi berbagai program dan kebijakan dari Pemerintah.

“Berkesenian sekarang itu bukan soal mahalnya, atau adi luhungnya. Tetapi bagaimana mafaatnya. Misalnya sebagai media sosialisasi. Jadi, ada hal-hal yang baru, yang menjadi keunggulan dari seni tradsional itu,” paparnya.

Ketua RW 06 Dukuh Krangkungan, Agus Nugroho memberikan kenang-kenangan kaos bergambar Ki Narto Sabdo kepada Stephanus Sukirno.

Pada kesempatan itu, Sukirno mengaku gembira karena bisa hadir di Dukuh Krangkungan ini.

“Malam ini adalah malam cinta kasih. Malam ini saya merasa gembira karena bisa hadir di tanah kelahiran dalang kondang Ki Narto Sabdo, di Krangkungan ini. Ki Narto Sabdo itu adalah dalang hebat. Karya-karyanya juga hebat. Maka, para seniman-seniman sekarang perlu mencontoh beliau. Menciptakan karya-karya yang hebat. Karawitannya tetap, tetapi lagu-lagunya baru,” ungkapnya.

Sementara itu, pegiat seni di Dukuh Krangkungan, Raharja menjelaskan, Karawitan Sekar Puri atau Sekelompok Karawitan Panglipur Diri ini berdiri sebelum gempa bumi tahun 2006.

Rencananya, pada malam 17 Agustus nanti, mereka akan pentas kethoprak dengan lakon “Suminten Edan”. Semua pemainnya dari warga dukuh setempat. Sekarang, mereka berlatih kethoprak tiga kali dalam seminggu, yaitu pada malam Rabu, malam Jumat, dan malam Minggu.

Pos terkait