WartaKita.org – Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten menggelar pentas wayang kulit semalam suntuk di halaman Gereja Wedi pada Senin (10/9/2018) malam.
Pentas wayang kulit yang dimainkan oleh Dalang Ki Kusni Kesdik ini mengambil lakon “Wahyu Panca Darma”.
Ketua panitia Agustinus Suparjo dalam laporan menyampaikan, pentas wayang kulit semalam suntuk ini diadakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke 62 Paroki Wedi, HUT ke 73 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Syukur Imamat ke 25 Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi Pr, Syukur Imamat ke 29 Rama Emanuel Maria Supranowo Pr, dan pamitan pindah tugas Rama Andriaus Maradiyo Pr ke Kevikepan Yogyakarta.
Sedang Pastor Kepala Paroki Wedi Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi Pr berharap, pentas wayang kulit semalam suntuk ini bisa memberikan tontonan dan sekaligus tuntunan kepada penonton.
“Dengan menyaksikan pentas wayang kulit ini diharapkan kita bisa terhibur, kita bisa bergembira bersama. Dan sisi lain, kita diharapkan bisa mengambil pesan dan wejangan yang disampaikan Pak Dalang,” ujar rama.
Sementara itu Bupati Klaten Sri Mulyani yang diwakili Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Klaten Sunarno menyambut baik digelarnya pentas wayang kulit semalam suntuk di Gereja Wedi ini.
“Pentas wayang kulit ini menjadi bukti nyata bagaimana peran Gereja dalam ikut melestarikan seni budaya yang ada, dan menghibur masyarakat. Saya berharap, pentas wayang kulit ini bisa diadakan secara rutin setiap tahun,” harap bupati.
Ada yang menarik dalam pentas wayang kulit di Gereja Katolik Wedi ini. Sebelum pentas wayang kulit dimulai, penonton dihibur dengan penampilan apik dari Karawitan Anak “Parikesit” Paroki Wedi. Karawitan pembuka ini memainkan sejumlah lagu (gending) yang menghibur penonton.

Rangkaian acara pentas wayang kulit ini diawali dengan Doa Lintas Agama yang dibawakan oleh tokoh agama dari agama Kristen, Hindu, Islam, Penghayat Kepercayaan, Budha, dan Katolik. Usai doa lintas agama dilajutkan beberapa sambutan.
Kemudian, penampilan Tari Ledek yang dibawakan oleh tujuh penari yang diiringi musik gamelan dari Karawitan Anak “Parikesit secara langsung. Para penari ini dilatih oleh Marta Endang.
Setelah itu acara penyerahan secara simbolis tokoh wayang Puntadewa dari Rama AG Luhur Prihadi kepada Dalang Ki Kusni Kesdik.

Pentas wayang kulit yang dimainkan oleh Ki Kusni Kesdik ini berlangsung seru, gayeng, dan menghibur. Penonton terpesona dengan cara bermain wayang yang dibawakan dalang dari Dukuh Soran, Desa Duwet, Kecamatan Ngawen ini. Apalagi dalam pentas ini, Ki Kusni Kesdik juga memainkan wayang “versi baru” yang menghibur penonton.
Penonton menyambut baik pentas wayang kulit di Gereja Wedi ini. Karena penonton dilayani umat Paroki Wedi dengan sangat baik dan bersahabat. Penonton disediakan tempat duduk secara nyaman, baik itu di kursi maupun di tikar. Penonton juga disediakan berbagai makanan ringan (snack) dan minuman teh manis secara gratis. Di pertengahan pentas wayang, penonton juga disuguhi wedang ronde.
“Menonton wayang di Gereja Wedi itu jan nyenengke (sangat menyenangkan). Penonton bisa duduk dengan kepenak (nyaman). Penonton juga disediakan berbagai snack dan minuman teh nasgitel (panas, legi, dan kenthel). Dan semuanya itu gratis lho. Belum pernah saya menemukan di tempat lain, menonton wayang diperlakukan sebaik ini,” kata Sumanto, penonton dari Gantiwarno.









