Peringati Hari Kemerdekaan RI, Generasi Milenial Diajak Terus Berkarya Dan Mencintai Budaya Bangsa

Temanku Lima Benua bersama karyanya yang dipamerkan di “Perkuatan Budaya Suku Bangsa” di Ruang Publik Lima Benua Dukuh Geritan dari Senin sampai Rabu (9-11/8/2021).

WartaKita.org – Temanku Lima Benua atau yang akrab dipanggil Liben dengan difasilitasi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DI Yogyakarta menggelar pameran yang mengusung tema “Perkuatan Budaya Suku Bangsa” di Ruang Publik Lima Benua Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten dari Senin sampai Rabu (9-11/8/2021).

Pameran ini menampilkan karya yang menggambarkan kekayaan Indonesia akan Budaya Suku Bangsa. Pameran dibuka pada tanggal 9 Agustus bertepatan dengan peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional.

Bacaan Lainnya

Liben menyampaikan, dalam pameran ini, ada 91 karya yang dipamerkan. Karya yang dipamerkan dituangkan dalam lukisan dengan media arang dan injet (batu kapur) di atas kertas daur ulang (bekas). Juga dengan media drum bekas, besi bekas yang dilas, dan lainnya.

“Karya yang dipamerkan yaitu gambar suku-suku yang ada di Indonesia. Dari Suku Mentawai di Sumatera sampai Suku Asmat dan Suku Korowai di Papua. Gambar terbesar berukuran 2×2 meter. Sedang gambar terkecil berukuran 30×40 cm. Semuanya (gambar) diselesaikan dalam waktu 17 hari. Jadi nggak sampai satu bulan,” jelasnya.

Berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI, Liben berpesan kepada generasi milenial untuk terus berkarya dan mencintai budaya bangsa.

“Untuk Generasi Z maupun Generasi Alfa, berakarlah pada budaya bangsa, khususnya akar tradisi. Agar kita memiliki jatidiri dan tidak tergerus oleh budaya luar,” ajaknya.

Mencintai Ibu Pertiwi

Temanku Lima Benua sedang menggambar sketsa wajah seorang pengunjung.

Temanku Lima Benua mulai belajar menggambar pada tahun 2006. Liben belajar menggambar di tanah. Karena untuk menghapusnya (gambar itu) bisa pakai kaki, tidak perlu dengan penghapus.

“Saat itu, saya mau berusia 5 tahun. Saya diajari menggambar oleh nenek di desa. Karena di desa banyak tanah yang kosong. Menggambarnya pakai ranting pohon di tanah,” katanya.

Setelah itu, Liben sering diajak ke pasar untuk menemani neneknya berjualan.

“Di sana (pasar) saya ketemu arang, ketemu kertas bekas yaitu koran, dan ketemu ibu-ibu di pasar. Saya lalu mencoba menggambar wajah-wajah beliau (ibu-ibu) di pasar dengan menggunakan barang yang ada,” ujarnya.

Mahasiswa Jurusan Tata Kelola Seni (TKS) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mengatakan, dirinya sudah mengadakan pameran lukisan di banyak tempat.

“Seperti di sini (Sanggar Lima Benua), Jakarta, dan sebagainya. Tetapi yang paling jauh di Macau. Saya juga pernah di Hongkong, tetapi speed art, bukan untuk pameran,” tandasnya.

Bagi Liben, melukis itu seperti passion atau gairah. Jadi hanya menyalurkan hoby, tetapi bisa bermanfaat pada masyarakat.

“Yang penting masyarakat bisa menikmati. Terlepas dari buruk dan baiknya gambar itu. Intinya, masyarakat bisa berpikir, dan mendapat sesuatu yang positif,” ungkapnya.

Liben menyatakan, aliran lukisannya cenderung ke speed art. Sedang pelukis idolanya Leonardo Da Vinci. Selama ini, keluarga dan teman-temannya mendukung penuh dirinya.

“Cita-cita saya adalah mencintai dan menghormati Ibu Pertiwi,” ucap anak tunggal ini.

Liben mengemukakan, melukis itu tidak mahal. Apalagi kalau mereka mau memanfaatkan barang yang ada. Yang penting, mereka mau berkarya.

“Buat teman-teman Generasi Z dan Generasi Alfa, jangan takut buat berkarya, apalagi untuk melukis. Bahwa sebenarnya melukis itu tidak mahal. Tidak harus beli cat yang mahal-mahal, maupun (beli) barang material atau bahan dasar seperti kanvas yang mahal-mahal. Karena kita dapat mendapatkannya di lingkungan kita sendiri. Misalnya drum bekas, kertas bekas. Kita coba olah, atau berkreasi sendiri. Hal ini juga untuk mencintai lingkungan sekitar kita,” terangnya.

Pos terkait