WartaKita.org – Jumlah penyandang difabel di Kabupaten Klaten mencapai sekitar 11.500 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 600 penyandang difabel berada di kasawan rawan bencana lereng Merapi. Dan ironisnya, sekitar 70 persennya belum dapat melakukan evakuasi mandiri.
Pernyataan ini disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten Nur Cahyono di sela kegiatan Pelatihan fasilitator bagi relawan difabel Unit Layanan Disabilitas BPBD Klaten di Edotel Klaten, Jumat (10/8/2017).
“Di Kabupaten Klaten, jumlah penyandang difabel paling tinggi dibanding kabupaten lain di Solo Raya. Jumlahnya mencapai lebih dari 11.500 orang. Selama ini, penyandang difabel merupakan orang yang mempunyai risiko paling besar ketika terjadi bencana,” katanya.
Nur Cahyono menyatakan, berdasarkan kenyataan tersebut, maka BPBD Klaten berusaha melakukan upaya dua hal agar penyandang difabel dapat melakukan evakuasi secara mandiri ketika terjadi erupsi Merapi. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan program pelatihan fasilitator difabel dan menyiapkan relawan.
“Di Desa Tegalmulyo (Kecamatan Kemalang) misalnya, di setiap rumah sudah ada data anggota rumah yang difabel yang sudah dapat diketahui dari luar rumah. Sehingga memudahkan untuk melakukan evakuasi saat erupsi Merapi terjadi,” ujarnya.
Nur Cahyono menambahkan, yang menjadi tantangan dan perlu menjadi perhatian adalah penyandang difabel yang belum mengetahu informasi. Namun positifnya, di kawasan lereng Merapi, sekarang sudah mulai evakuasi mandiri ketika terjadi bencana.
“Dan itu dinilai lebih efektif dan cepat bila dibanding harus menunggu jemputan dari petugas,” ucapnya.









