Pemahaman Terhadap Bahasa Jawa Cenderung Melemah

Workshop Bahasa dan Tulisan Jawa di Pendapa Soeboer Dukuh Sraten, Rabu (12/12/2018) siang.

WartaKita.org – Minat dan pemahaman terhadap bahasa dan tulisan Jawa cenderung melemah pada generasi sekarang. Jika sekarang pengguna Bahasa Jawa diperkirakan masih sekitar 75 juta orang, dikhawatirkan ke depan akan semakin menurun dari tahun ke tahun.

Hal itu terungkap dalam Workshop Bahasa dan Tulisan Jawa yang digelar Komite Sastra Jawa Dewan Kesenian (Wankes) Kabupaten Klaten di Pendapa Soeboer Dukuh Sraten, Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Rabu (12/12/2018) siang.

Bacaan Lainnya

Workshop diikuti 52 orang perwakilan dari 26 kecamatan, dan perwakilan dari lembaga lembaga Bahasa Jawa di Klaten. Sedang narasumber adalah Ngadi dan Suwito Mitro Tanoyo dari Dewan Kesenian Klaten.

Ketua Komite Sastra Jawa, Lanjar Puryanto mengatakan, melemahnya pemahaman bahasa Jawa itu terlihat dari pemakaian bahasa keseharian masyarakat pada saat ini. Sebab, banyak remaja yang tidak bisa membedakan pemakaian kata antara untuk diri sendiri dan orang lain yang lebih tua dan dihormati. Seperti menyebut diri sendiri “sare”. Sementara orang yang lebih dihormati dibilang “tilem”.

“Demikian juga dalam penulisan. In biasa kita temukan dalam komunikasi melalui WhatsApp. Seringkali membuat dongkol dan menggelikan. Misal seharusnya “lara” ditulis “loro”, mata” ditulis “moto”, “cara” ditulis “coro”. Padahal  masing-masing kata berbeda arti. Ini sudah memprihatinkan,” katanya.

Sedang Ketua Harian Dewan Kesenian Kabupaten Klaten FX Setyawan DS dalam kesempatan membuka workshop tersebut mengungkapkan, kurangnya pemahaman terhadap bahasa dan tulisan Jawa tanpa disadari juga berpengaruh terhadap kepribadian.

“Banyak anak-anak kita yang kurang unggah-ungguh dan tata krama terhdap orang yang lebih tua dan dihormati,” ujarnya.

Setyawan menambahkan, generasi muda sekarang terasa seperti terpinggirkan, kurang sentuhan dan motivasi terhadap bahasa dan tulisan Jawa. Sehingga berakibat minat untuk belajar dan memahaminya berkurang.

“Ini sangat berbeda dengan Jepang. Meski negaranya sudah maju, tetapi tetap bertahan dengan budaya mereka sendiri,” ucapnya.

Pos terkait