WartaKita.org – Dewan Kesenian Kabupaten Klaten terus berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya yang ada di Klaten. Salah satunya dengan menetapkan 5 Desa Ramah Budaya sebagai pilot project. Kelima desa itu mewakili lima eks Kawedanan yang ada di Klaten.
Pernyataan ini disampaikan Ketua I atau Ketua Harian Dewan Kesenian Kabupaten Klaten, FX Setyawan DS saat konferensi pers di Warung Sop Ayam Mbak Mlenuk Jalan Mayor Kusmanto Desa Sekarsuli, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Kamis (28/10/2021).
“Pada kepengurusan Dewan Kesenian Kabupaten Klaten periode 2021-2026 ini, kita sudah bisa membentuk 5 Desa Ramah Budaya di 5 eks Kawedanan yang ada di Klaten. Kelima desa itu yakni Desa Danguran (eks Kawedanan Kota), Ngering (eks Kawedanan Godangwinangun), Tibayan (eks Kawedanan Jatinom), Delanggu (eks Kawedanan Delanggu),dan Temuwangi (eks Kawedanan Pedan). Selain itu, Dewan Kesenian Kabupaten Klaten juga telah berhasil membentuk Pamong Budaya Desa di semua desa,” katanya.
FX Setyawan DS menjelaskan, Desa Ramah Budaya ini merupakan pilot project yang pertama. Nantinya, Desa Ramah Budaya akan ditambah pada setiap tahunnya.
“Di Desa Ramah Budaya ini, setiap desa harus mempunyai (setidaknya) satu ikon atau potensi khas dari 14 komite di Dewan Kesenian Klaten. Disamping itu, kita juga mendorong setiap desa untuk membuat Perdes (Peraturan Desa) tentang Pemajuan Seni dan Budaya Desa. Karena selama desa tidak mempunya landasan hukum (Perdes) yang kuat, maka seni dan budaya di desa akan stagnan seperti saat ini,” jelasnya.
Setyawan mengatakan, dengan adanya Perdes tentang Pemajuan Seni dan Budaya Desa, maka Pemerintah Desa bisa menganggarkan Dana Desa untuk pelestarian dan pengembangan seni dan budaya yang ada di desa.
“Ini yang akan kita dorong terus. Agar setiap Desa membuat Perdes tentang Pemajuan Seni dan Budaya Desa,” tandasnya.
Sementara itu Sekretaris Umum Dewan Kesenian Kabupaten Klaten, Djoko Sardjono mengemukakan, pada tahun 2021 ini, Dewan Kesenian Klaten mendapatkan anggaran Rp500 juta dari APBD Klaten. Jumlah ini jauh lebih sedikit dari yang mereka terima pada tahun 2020 yaitu Rp1,7 Milyar.
“Tetapi ya alhamdulillah, kita masih diberi anggaran dari Pemkab Klaten. Anggaran itu kita pontho-pontho (dibagi) untuk bisa nguripke, ngurupke, dan ngirabke berbagai seni dan budaya yang ada di Klaten. Sebagai gambaran saja, pada tahun 2018, kita bisa mengadakan 156 kegiatan. Tahun 2019 ada 138 kegiatan. Dan tahun 2020 ini kita merencanakan 56 kegiatan,” ujarnya.
Djoko Sardjono menambahkan, karena masih dalam masa pandemi Covid-19, maka kegiatan Dewan Kesenian Klaten disesuaikan dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Karena itu, sebagian kegiatan dilakukan secara virtual dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat.
“Yang penting, sesanti Dewan Kesenian Klaten untuk nguripke, ngurupke, dan ngirabke berbagai seni dan budaya yang ada di Klaten ini bisa kita lakukan. Dan juga, kegiatan yang dilakukan Dewan Kesenian Klaten ini digelar di kota (Klaten) dan daerah (kecamatan dan desa),” tandasnya.
Wartawan senior ini menerangkan, ada 1.221 seniman di Klaten yang terdampak pandemi Covid-19. Seperti pentas atau tanggapan yang dibatalkan.
“Selama pandemi Covid-19 ini, kita juga kehilangan para seniman Klaten, seperti Ki Sardiyanto, Ki Gandung Yunarto, Ki Sutomo Pandoyo, dan sebagainya. Karena keterbatasan anggaran di Dewan Kesenian Klaten, maka kita juga memberikan (sekadar) tali asih dan karangan bunga sebagai ungkapan duka cita kita,” ucapnya.









