Merti Kali Guyangan, Green-CQ Bersama UP 45 Yogyakarta Gelar Sarasehan Sungai Bertema “Gerbang Kasih”

Peserta dan narasumber sarasehan sungai berfoto bersama di Resto Ledok Jati Kawasan Green Canyoon Kijilan, Desa Kraguman pada Sabtu (3/2/2024).

WartaKita.org – Green Canyoon Qijilan (Green-CQ) Desa Kraguman, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten bekerjasama dengan Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta (UP45) didukung SDN Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan menyelenggarakan Sarasehan Sungai di Resto Ledok Jati Kawasan Green Canyoon pada Sabtu (3/2/2024)

Sarasehan sungai yang mengusung tema “Gerakan Membangun Kali Bersih atau Gerbang Kasih” ini merupakan salah satu agenda Merti Kali Guyangan 2024.

Bacaan Lainnya

Koordinator Green-CQ Dewanto Agung dalam sambutan menyampaikan, sarasehan sungai ini sebagai acara perdana dari berbagai agenda Merti Kali Guyangan 2024 yang diadakan sebulan kedepan.

Agenda kegiatan lainnya yaitu kunjungan susur sungai dan tubing bersama siswa TK, gropyokan sampah dan tebar benih ikan, serta reboisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) bersama pemangku kepentingan.

Selain itu, ada agenda spektakuler yang akan diadakan yaitu Lomba Mancing yang berhadiah berupa 1 unit sepeda motor dan 2 ekor kambing, serta hadiah doorprize menarik lainnya. Lomba mancing ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk melihat sungai lebih dekat.

Peserta dapat refreshing – riang gembira mancing berkwintal-kwintal ikan lele di tempat sungai yang bersih dan nyaman. Kegiatan tersebut akan diadakan pada Minggu, 18 Februari 2024.

“Bagi masyarakat yang tertarik untuk mengikuti lomba tersebut dapat menghubungi Panitia Lomba di line telepon 082315017189,” jelas Agung panggilan akrabnya.

Sedang Sekretaris Desa Kraguman Muhammad Razin mewakili Kepala Desa Kraguman dalam sambutan menuturkan, pihaknya menyambut baik inisiasi kegiatan ini dalam rangka mengembangkan potensi lokal di kawasan Kali Guyangan untuk dikembangkan sebagai layanan bermain anak dan wisata bagi masyarakat.

Pihaknya berharap, sadar lingkungan, khususnya melestarikan sungai itu perlu didukung semua pihak. Karena kelompok masyarakat sudah memulai dan saatnya Pemerintah Desa beserta jajarannya juga harus memiliki komitmen serta berkontribusi nyata.

“Ke depan, kita membutuhkan bantuan dari berbagai pihak terkait, seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat, dan bahkan kampus seperti UP45 untuk mengkaji kesiapan kawasan terkait uji kelayakan kondisi air Kali Guyangan, jika untuk arena bermain anak-anak,” harapnya.

Suasana sarasehan sungai berfoto bersama di Resto Ledok Jati Kawasan Green Canyoon Kijilan, Desa Kraguman pada Sabtu (3/2/2024).

Sementara itu Kepala Puskesmas Jogonalan 1 Dwi Miyono selaku nara sumber sarasehan memapaparkan, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh masyarakat seperti ini. Karena hal tersebut berkaitan dengan kinerja instansinya.

“Untuk mengembangkan kawasan menjadi destinasi wisata (seperti Kali Guyangan) ini perlu diperhatikan kesehatan lingkungan yang ada. Sebenarnya, Kabupaten Klaten sudah bebas Open Defecation Free (ODF) dengan telah menerapkan 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Kedepan, tantangan kita menjaga kondisi tersebut tetap dan terus terjaga,” jelasnya.

Sedang Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, Trisno Fallo, SHut MSc selaku nara sumber menjelaskan, sebenarnya permasalahan DAS itu sama setiap lokasi, yaitu terkait sampah.

Biasanya dari hulu sampai hilir dan jenis sampahnya adalah sampah anorganik seperti plastik, botol dan lain sebagainya. Indonesia merupakan negara ke 2 penghasil sampah plastik setelah Cina. Sampah tersebut bersumber dari sampah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik.

“Ini karena belum adanya kesadaran dari kita untuk mengelola sampah secara mandiri,” ungkapnya.

Anak-anak sedang tubing di Kali Guyangan.

Trisno mengatakan, untuk itu, perlu pengelolaan sampah dari setiap rumah tangga. Misalnya sampah organik dikelola menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik dapat dikelola dengan melibatkan stakeholder yang ada melalui 3R (reduce, recyle dan reuse), misalnya bank sampah dengan dipilah terlebih dulu. Selain itu, dengan teknologi pirolisis dan pembakaran (incinerator) sampah anorganik dapat dikelola.

“Kerjasama dapat dilakukan dengan memanfaatkan Tridharma Perguruan Tinggi khususnya melalui penelitian dan pengabdian dimana dosen atau mahasiswa dapat melakukan Tridharma di lokasi melalui KKN (kuliah kerja nyata) atau penelitian dan lainnya,” terangnya.

Terkait, salah satu peserta diskusi, Suwito mengemukakan, perlu adanya sinergi berbagai pihak terkait, baik warga, pemerintah desa, kampus dan instansi pemangku kepentingan.

“Saya berharap sekali, ke depan, dapat diterjunkan mahasiswa UP 45 Yogyakarta dalam rangka KKN atau pemetaan kawasan untuk mengembangkan kawasan destinasi ini,” harapnya.

Pos terkait