WartaKita.org – Gereja mengajak umat untuk menjaga dan merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab iman dan kepedulian terhadap ciptaan Tuhan. Ajakan ini didasarkan pada pemahaman bahwa alam adalah karya Tuhan yang harus dijaga kelestariannya dan manusia memiliki kewajiban untuk menjadi penjaga lingkungan.
Sejalan dengan upaya merawat lingkungan ini, maka Tim Mentor Sebaya Credit Union Kridha Rahardja (CU KR) melakukan edukasi dan pelatihan membuat Jadam Microbial Solution (JMS) kepada siswa SMP Pangudi Luhur Wedi, Kabupaten Klaten pada Senin (16/6/2025) pagi.
Koordinator Komite Credit Union Kridha Rahardja Tempat Pelayanan (TP) Wedi, Sri Muryadi menyampaikan, Misi Credit Union Kridha Rahardja adalah ingin memberdayakan anggota dan masyarakat.
“Salah satu cara untuk memberdayakan masyarakat ini adalah dengan merawat tanah yang kita tempati agar selalu subur. Maka, dalam kesempatan ini kita mengadakan edukasi dan pelatihan membuat JMS. Karena itu, kalau dirumah anak-anak mempunyai tanah yang hanya sedikit, tidak luas, bisa dimanfaatkan untuk ditanami dengan tanaman-tanaman sederhana. Kita bisa menanam tanpa media tanah. Ini bisa kita praktekkan di rumah masing-masing,” katanya.
Hadir dalam edukasi dan pelatihan membuat JMS di SMP Pangudi Luhur Wedi ini, para Mentor Sebaya CU Kridha Rahardja TP Wedi, diantaranya Laurentius Sukamta, Sri Muryadi, Dewi M, Yuliana S dan Mulyono.
Edukasi dan pelatihan membuat JMS ini dipandu oleh Mentor Sebaya CU Kridha Rahardja Laurentius Sukamta.
Laurentius Sukamta menyampaikan, Jadam Microbial Solution (JMS) merupakan larutan mikroorganisme yang bermanfaat dalam pertanian organik, khususnya dalam sistem pertanian JADAM.
JADAM adalah sistem atau metode pertanian organik dari Korea yang dikembangkan oleh Youngsang Cho. JADAM merupakan singkatan bahasa Korea dari Jayonul Damun Saramdul yang artinya “orang yang menyerupai alam”.
“JMS digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah, menyeimbangkan pH (keasaman tanah), dan memperkuat mikroba baik yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman,” katanya.
Komite Keuangan TP Wedi ini menjelaskan, bahan untuk membuat JMS (ukuran 10 liter) ini berupa kentang (sumber pakan mikro organisme) 1 biji, garam kasar atau garam grosok (sumber mineral pengganti molase) 1 sendok makan, lapukan daun bambu (sumber mikroorganisme) 1 genggam, dan air lunak (yaitu air hujan, air AC, air RO) 10 liter.
Adapun cara membuat JMS yaitu kentang direbus dengan 1 liter air sekitar 20 menit sampai tekstur kentang melunak. Kemudian pisahkan kentang dan air rebusan. Kentang lalu dipotong kecil kecil. Selanjutnya, masukan air lunak ke dalam ember dan tambahkan garam ke dalam air, lalu diaduk hingga merata.
Masukan kentang dan 1 genggam lapukan daun bambu ke dalam kantong kain kaos atau kaus kaki. Lalu diremas-remas supaya ekstrak kentang dan lapukan daun bambu ke luar. Agar kantong kain itu tenggelam, maka perlu diberi pemberat (batu). Tambahkan air rebusan kentang ke dalam ember, kemudian ditutup. Campuran dalam ember tertutup ini kemudian ditutupi isolator (daun pisang) supaya tidak terkena matahari langsung selama 24 jam.
“Tanda JMS yang sudah jadi adalah PH netral (7) dan muncul buih sebagai tanda kehidupan mikroorganisme,” jelasnya.

Usai pemberian materi atau edukasi, para siswa SMP Pangudi Luhur Wedi lalu melakukan praktek langsung membuat JMS sesuai arahan dari Mentor CU Kridha Rahardja. Mereka antusias dan gembira membuat JMS. Apalagi, ini adalah pengalaman baru dan pertama bagi mereka.
Edukasi dan pelatihan membuat JMS ini disambut baik oleh siswa SMP Pangudi Luhur Wedi.
“Pelatihan membuat JMS hari ini menjadi pengalaman yang baru bagi langkah-langkah awal kami dalam mempelajari JMS. Kami diberi edukasi bahwa JMS bisa digunakan untuk menyuburkan tanah. Kami juga diajari cara-cara melestarikan lingkungan, memanfaatkan bahan-bahan limbah untuk membuat JMS. Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami,” ujar Gendis yang didampingi Sharon, siswa Kelas VIII C SMP Pangudi Luhur Wedi.
Hal senada juga disampaikan Kepala SMP Pangudi Luhur Wedi Bruder Adrianus Sulistyo Kristi Pranowo, FIC.
“Kegiatan (edukasi dan pelatihan membuat JMS) ini berguna sekali bagi kami. Karena pengamatan kami, anak-anak sekarang ini terlihat kurang peduli terhadap lingkungan. Anak-anak lebih suka merusak daripada merawat (lingkungan). Semoga dengan edukasi ini, membuka wawasan anak-anak. Anak-anak semakin peduli dengan lingkungan. Dan ini sesuai dengan harapan gereja untuk merawat lingkungan. Anak-anak menjadi sadar akan pentingnya menjaga lingkungan,” ungkap Bruder.
Bruder Adrianus berharap, kegiatan ini ada tindak lanjutnya. Misalnya dengan pelatihan menanam tanpa media tanah, memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami sayuran, buah, dan sebagainya.
“Kegiatan ini positif. Anak-anak diajari menjaga dan merawat lingkungan. Terima kasih CU Kridha Rahardja yang telah memberikan eduksi dan pelatihan membuat JMS kepada anak-anak,” ucap Bruder.

Untuk diketahui, ada banyak manfaat dari JMS ini. Satu, meningkatkan kesuburan tanah. JMS membantu memperbaiki kualitas tanah dengan meningkatkan kandungan mikroorganisme yang bermanfaat, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan tanah untuk menyediakan nutrisi bagi tanaman. Dua, menyeimbangkan pH (keasaman) tanah. JMS membantu menormalisasi pH tanah, yang penting untuk penyerapan nutrisi tanaman yang optimal. Tiga, memperkuat mikroba baik. JMS mengandung berbagai mikroorganisme baik yang membantu dalam siklus nutrisi, menekan hama dan penyakit, serta meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Empat, memperbaiki kondisi media tanam. JMS membantu menggemburkan media tanam yang terlalu padat, sehingga akar tanaman dapat berkembang dengan baik. Lima, menambah nutrisi tanaman. Selain memperbaiki tanah, JMS juga dapat memberikan nutrisi tambahan bagi tanaman. Enam, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Mikroba baik dalam JMS dapat membantu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Dan tujuh, mengurangi penggunaan pupuk kimia. Dengan menggunakan JMS, penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi karena JMS dapat memenuhi sebagian kebutuhan nutrisi tanaman.
Adapun cara penggunaan JMS dapat diencerkan dengan air dalam perbandingan 1:20 (1 liter JMS dengan 20 liter air). Sedang untuk aplikasi, larutan yang sudah diencerkan itu dapat disiramkan pada tanah dan tanaman secara menyeluruh. Frekuensi aplikasi JMS dapat dilakukan 2 minggu sekali.









