BAHASA Indonesia adalah bahasa resmi negara dan sebagai bahasa pemersatu antar lapisan masyarakat di dalamnya.
Keberadaan bahasa Indonesia harus dikembangkan dan digunakan sesuai dengan kebutuhan. Agar tidak merendahkan dan tidak membuat citra bangga terhadap bahasa Indonesia ini turun, maka seluruh lapisan masyarakat juga berhak untuk menggunakan bahasa Indonesia.
Tidak hanya masyarakat perkotaan dan masyarakat dengan status sosial yang tinggi saja yang berhak menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi masyarakat pedesaan dan masyarakat dengan status sosial yang rendah juga berhak menggunakan bahasa Indonesia tersebut. Karena mereka juga bagian dari bangsa Indonesia.
Namun sayangnya, penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat seringkali dijadikan sebagai “penilaian” status sosial masyarakat tersebut. Masyarakat pedesaan sering menganggap bahwa seseorang yang tinggal di desa dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari adalah seseorang yang memiliki status sosial tinggi (kaya). Padahal sebenarnya, walaupun tinggal di desa pun bahasa Indonesia juga harus dipakai.
Sebagaimana Trigatra Bangun Bahasa yakni: utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing, maka masyarakat harus mengutamakan bahasa Indonesia. Dan disamping itu, masyarakat juga harus bisa melestarikan bahasa daerahnya, sehingga seimbang dalam menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah tersebut.
Sikap berbahasa masyarakat desa
Masyarakat desa merupakan masyarakat yang masih kental akan adat istiadat, sopan santun dan unggah-ungguh bahasanya. Sikap berbahasa antara masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan juga jauh berbeda.
Masyarakat kota yang dilahirkan dengan kondisi modern dan teknologi terbaru biasanya membuat mereka seringkali menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar. Namun tidak dengan nilai kesopanan dalam berbahasa tersebut. Sedangkan di desa, masyarakat lebih dapat menghargai seseorang yang lebih tua dari dirinya dengan menggunakan bahasa yang lebih sopan dan tidak berkesan kasar.
Penempatan penggunaan bahasa Indonesia ini di dalam masyarakat pedesaan juga memiliki kesan menarik. Penggunaan bahasa Indonesia yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan lebih mengarah ke formal. Dalam artian, banyak masyarakat pedesaan menggunakan bahasa Indonesia ini dalam acara-acara formal seperti seminar, sekolah, pidato dan lain sebagainya
Di dalam berkomunikasi sehari-hari, masyarakat pedesaan ini lebih banyak menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Walaupun terkadang masih dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia. Namun sebagian besar masyarakat pedesaan lebih memilih menggunakan bahasa daerah.
Anggapan masyarakat sekitar terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari ini membuat para pengguna bahasa terutama di lingkungan pedesaan menjadi lebih kaku dan kurang berkembang. Masyarakat pedesaan sering menganggap bahwa seseorang yang berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia tersebut merupakan seseorang yang memiliki status sosial dan ekonomi yang tinggi.
Sedangkan masyarakat dengan status sosial dan ekonomi yang rendah namun mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, akan mendapatkan “cibiran” dan juga prespektif yang kurang mengenakkan bagi masyarakat lainnya.
Problematika seperti inilah yang membuat bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat pedesaan menjadi lebih kaku dan tidak berkembang. Karena prespektif yang diberikan oleh masyarakat lainnya kepada masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia tadi.
Permasalahan pengembangan bahasa Indonesia masyarakat pedesaan
Permasalahan dalam pengembangan bahasa Indonesia dalam lingkungan masyarakat pedesaan adalah kurangnya kesadaran dalam menghargai bahasa sendiri.
Pendapat ini juga senada dengan penelitian Marsudi, Siti Zahrok, dan Usman Arief (2013) dalam jurnalnya berjudul “Kesadaran Pemakai Bahasa Indonesianya Di era Teknologi” menyatakan bahwa era teknologi informasi dan komunikasi banyak tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, antara lain kesadaran pemakai bahasa Indonesia bagi rakyat.
Kurangnya kesadaran menghargai bahasa bangsa sendiri menjadi masalah besar bahasa Indonesia. Jika bangsa Indonesia tidak memiliki kesadaran berbahasa yang baik dan benar, maka ini menjadi bahaya yang besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan juga akan mengakibatkan bangsa ini mengalami disintegrasi dan terombang-ambing.
Permasalahan selanjutnya, terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat yang sering menimbulkan kontra di dalamnya. Masyarakat pedesaan lebih menganggap bahwa yang layak menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi adalah mereka yang berasal dari keluarga yang terhormat, kaya raya, memiliki status sosial di lapisan masyarakat pedesaan yang baik dan memiliki kekuasaan saja.
Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga menengah ke bawah “tidak layak” dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari dan lebih baik menggunakan bahasa daerah saja. Selain itu, masyarakat pedesaan ini juga sering memberikan prespektif negatif, perundungan dan cemoohan kepada masyarkat lain yang menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari (apabila masyarakat tersebut berasal dari status ekonomi rendah).
Mereka akan menganggap tindakan tersebut adalah tindakan yang norak, tidak pantas dan menganggap orang tersebut sombong. Anggapan dan juga prespektif buruk yang diberikan masyarakat tersebut lah yang membuat bahasa Indonesia sulit berkembang dan kaku di lingkungan masyarakat desa.
Padahal sejatinya, sebagai sesama pengguna bahasa, dan sasama masyarakat Indonesia yang baik, masyarakat kita tidak diperbolehkan untuk saling mengejek. Selain itu, masyarakat juga dituntut untuk melestarikan bahasa Indonesia tersebut. Bukan hanya orang kota saja yang berhak menggunakan dan mengembangkan bahasa Indonesia saja.
Problematika tentang kurangnya kesadaran ini bermakna bahwa individu yang hidup dan terikat dalam kaidah serta naungan di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus memiliki sikap dan perilaku positif yang tumbuh dari kemauan diri yang dilandasi keikhlasan berbuat demi kebaikan bangsa, bahasa dan negara.
Kesadaran akan berbahasa Indonesia di lingkungan masyarakat pedesaan juga perlu disoroti dan perlu dilakukan pembinaan lebih lanjut. Tujuannya agar bahasa Indonesia ini bisa berkembang tidak hanya di lingkungan perkotaan saja. Tetapi masyarakat pedesaan juga turut andil dalam mengembangkan bahasa Indonesia yang baik dan benar tersebut.
Solusi agar bahasa indonesia berkembang di masyarakat pedesaan
Upaya pengembangan bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat pedesaan ini memerlukan kesadaran dari masyarakat tersebut. Masyarakat perlu bersama-sama membagun eksistensi bahasa Indonesia, menghilangkan prespektif buruk kepada mereka yang menggunakan bahasa Indonesia yang bukan berasal dari masyarakat sosial atau kelas atas dan juga perlunya kegiataan pemberdayaan yang bersifat positif dan membangun.
Pengembangan kesadaran berbahasa Indonesia sebagai alat komunikasi efektif dilakukan sebagai upaya menjunjung tinggi sejarah bahasa dan bangsa Indonesia. Dengan adanya kesadaran berbahasa Indonesia akan mampu menumbuhkan semangat dalam berbahasa Indonesia sebagai wujud kecintaan terhadap bangsa Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa sesuai ikrar ketiga Sumpah Pemuda. Adanya pengembangan bahasa Indonesia kepada masyarakat pedesaan diharapkan mampu merubah pola pikir masyarakat pedesaan tersebut.
Kegiatan pengembangan bahasa Indonesia juga dapat dilakukan oleh badan pengembangan dan pembinaan bahasa dan juga elemen pemerintah terkait agar bahasa daerah dan bahasa Indonesia agar bisa sejalan dan dapat diterima oleh masyarakat pedesaan. Caranya dengan mengutamakan bahasa Indonesia dan melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing.
(Farhan Fauzi, Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta)









