Membangun Paseduluran, Prodiakon Wilayah Sendangarum Beranjangsana Ke Paroki Administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh

Prodiakon Maria-Pius-Dominikus (MPD) Wilayah Sendangarum, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Kabupaten Sleman berfoto bersama prodiakon Paroki Administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh.

WartaKita.org – Rombongan Prodiakon Maria-Pius-Dominikus (MPD) wilayah Sendangarum, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Kabupaten Sleman mengikuti Misa Kudus di Gua Maria Lawang Sih (GMLS) Pelem Dukuh, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo pada Minggu (20/10/2024).

Seusai misa, mereka melanjutkan bertandang ke rumah Koordinator Prodiakon Paroki Administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh, Heribertus Sukirman.

Bacaan Lainnya

Kedatangan 10 prodiakon yang dikoordinir oleh Herman JP Maryanto dari Paroki Klepu itu disambut hangat oleh  18 prodiakon Paroki Pelem Dukuh.

“Ini yang pertama kami kedatangan sedulur prodiakon dari luar paroki,” ucap Heribertus Sukirman dengan penuh suka-cita.

Herman JP Maryanto menyampaikan, bagi prodiakon Wilayah Sendangarum, kunjungan semacam ini sudah biasa dilakukan.

Sebelumnya juga beranjangsana ke Stasi Yudea Bandungan, Paroki Santo Yusup Ambarawa.

Pertemuan antar prodiakon di samping untuk bersilaturahmi, berkenalan, juga untuk membangun paseduluran.

“Dengan berbagi berbagai cerita, ngobrol-ngobrol pengalaman iman, ber-curhat tentang suka-duka dalam pelayanan, membuat masing-masing bertambah kaya,” katanya.

Menurut Maryanto, sekurang-kurangnya, ada tiga hal yang dapat diperoleh para prodiakon dari perjumpaan semacam ini.

Pertama, menjadi prodiakon itu dalam kenyataannya tidak sekadar membantu Imam membagikan Sakramen Maha Kudus. Dalam situasi dan kondisi tertentu, misalnya pastor berhalangan, atau kekurangan Imam di sebuah paroki, prodiakon dituntut memiliki kemampuan memimpin berbagai ibadat.

Seperti ibadat peringatan arwah, ibadat syukur, kenduri cara Katolik, menjadi animator atau fasilitator di masa prapaskah (Aksi Puasa Pembangunan), bulan Kitab Suci, advent dan lain-lain.

Semuanya perlu pembelajaran. Karena itu, ketrampilan berbicara di depan umat (public speaking) menjadi satu hal penting untuk mendukung para prodiakon dapat menjalankan tugasnya.

Kedua, pertemuan secara frekuentif dan intensif antar  prodiakon baik se paroki, maupun dengan prodiakon paroki lain, cukup efektif untuk mempercepat proses pembelajaran, khususnya bagai prodiakon baru. Karenanya, anjangsana seperti ini dapat menjadi wadah sekaligus tempat untuk belajar berbasiskan pengalaman.

Dan ketiga, perjumpaan semacam ini, juga dapat saling menyadarkan bahwa menjadi prodiakon adalah salah satu bentuk panggilan pelayanan yang sah menurut Gereja Katolik. Terbukti setiap prodiakon mendapatkan Surat Keputusan (SK) atau surat tugas dari Bapa Uskup.

Kesadaran akan panggilan pelayanan ini dapat menjadi pemicu para prodiakon membangun cara berpikir (mindset), perilaku (attitudes), dan nilai-nilai (values) baru dalam hidup keseharian.

Memahami ketiga hal tersebut, baik prodiakon dari Wilayah Sendangarum, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu dan prodiakon dari Paroki Administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh sepakat bahwa akan terus berkomunikasi baik langsung maupun tidak langsung.

Mereka perlu membangun komunitas belajar prodiakon baik internal maupun bersama dengan prodiakon wilayah atau gereja lain.

Seorang prodiakon hendaknya menjadi seorang pembelajar berkelanjutan.

Pos terkait