Mbalur, Lingkungan Agustinus Tosadu Programkan Ketahanan Pangan, Manfaatkan Lahan “Nganggur” Untuk Ditanami Aneka Sayur

Lingkungan Santo Agustinus Tosadu memprogramkan ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan “nganggur” untuk ditanami aneka sayuran.

WartaKita.org – Program Mbalur (Ambyur Mbangun Sedulur) yang digagas Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten ditanggapi dengan baik dan antusias oleh umat lingkungan.

Lingkungan Santo Agustinus Tosadu misalnya. Mereka memprogramkan ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan “nganggur” untuk ditanami aneka sayuran. Bahkan, mereka sudah melakukan panen perdana sayuran pada Selasa (15/7/2025) lalu.

Bacaan Lainnya

Ketua Lingkungan (Kaling) Santo Agustinus Tosadu Paulus Pujiyanto di sela pertemuan Paguyuban Kaling Paroki Wedi pada Jumat (18/7/2025) malam, menyampaikan, gagasan munculnya program ketahanan pangan ini bermula saat pembuatan video profil lingkungan beberapa waktu lalu.

“Saat itu kita ditanya, apa yang menjadi program unggulan lingkungan? Lha, kita sepakat memilih program unggulan ketahanan pangan. Karena kita mengingat perekonomian sekarang ini kurang menguntungkan bagi umat yang menengah ke bawah. Dan kita bisa menekan pengeluaran walapun hanya sekecil, sebatas pengeluaran untuk beli sayur. Tetapi kita bisa mengurangi pengeluaran keluarga,” katanya.

Paulus Pujiyanto menjelaskan, program ketahanan pangan ini dilakukan di kebun milik salah satu umat yang selama ini “nganggur” atau tidak dimanfaatkan.

“Di Lingkungan Santo Agustinus Tosadu itu ada kebun salah satu umat (di Dukuh Pundung, Desa Towangsan) yang selama ini nganggur. Lalu kita tembung, dan diijinkan. Terus kita kerjakan bersama. Lalu kita tanami bermacam-macam sayuran seperti terong, cabai, kangkung, bayam, jepan, singkong, dan sebagainya. Dan yang sudah kita panen itu kangkung sama bayam dan (daun) ketela. Itu sudah kita nikmati,” ujarnya.

Puji menyatakan, kebun ketahanan pangan ini dikelola oleh umat secara bergotong royong.

“Yang mengolah lahan itu adalah umat secara gotong royong. Ada bapak, ibu, dan anak-anak yang ingin membantu membersihkan rumput, mengambilkan air, dan lain-lain. Juga ada giliran kerja (gotong royong) yang dijadwal dua hari sekali. Dibagi menjadi kelompok Tosadu, Turen, dan Pundung. Terus ada dua hari kerja bareng. Nah, di jadwal yang bareng itu kita saling ngobrol, saling berbagi,” tuturnya.

Program ketahanan pangan yang diinisiasi Lingkungan Santo Agustinus Tosadu mendapat tanggapan yang baik dari umat dan warga sekitar.

Usaha bersama umat Lingkungan Santo Agustinus Tosadu itu pun telah membuahkan hasil. Mereka telah melakukan panen perdana sayuran.

“Hasil panen sayuran kemarin dibagikan ke umat. Ada juga yang dibagikan ke umat muslim yang terdekat dengan kebun, dan lainnya. Semua kita bagikan secara gratis, tanpa dipungut biaya. Karena niat kita, dari umat untuk umat,” jelas Puji.

Ia mengatakan, program ketahanan pangan ini merupakan pengejawantahan dari Program Mbalur Paroki Wedi.

“Arahnya ke (Program) Mbalur. Karena program ketahanan pangan ini kan tidak dikhususkan untuk umat Katolik saja. Tetapi untuk membantu sesama yang membutuhkan. Siapa saja boleh. Saat kita panen, boleh dimanfaatkan siapa saja,” tandasnya.

Kalau program ketahanan pangan ini bisa terus berhasil, maka umat berencana akan menggunakan lahan sawah di sekitarnya.

“Karena ada yang menawari , ada sawah yang selama ini tidak digarap sampai beberapa panenan. Itu nanti akan kita rembug, kita tembung, boleh digarap, atau harus menyewa. Itu nanti kita melihat kedepannya,” ungkap Puji.

Program ketahanan pangan ini mendapat tanggapan yang baik dari umat dan warga sekitar.

“Ya, saya senang. Ini program yang baik. Kita mendapat sayuran tanpa mengeluarkan biaya. Program ini harus dilanjutkan,” ucap Andrea, umat Lingkungan Santo Agustinus Tosadu.

Pos terkait