WartaKita.org – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah kegiatan awal yang sangat mendasar bagi para siswa baru.
Para siswa dibantu secara positif untuk mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya sekolah yang baru dimasukinya. Para siswa baru diperlakukan sebagai subjek pendidikan yang dihargai dan didorong untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta Chritophorus Danang Wahyu Prasetio, S.Or, Sabtu (19/7/2025), menyampaikan, karena MPLS merupakan bagian dari adaptasi awal pendidikan, maka sekolah harus bersifat edukatif, memanusiakan, dan menumbuhkan kemandirian.
“Maka dari itu, sejak awal para siswa diperkenalkan tentang adat dan kebiasaan di Kolese de Britto. Misalnya budaya saling menghormati pihak lain, anti kekerasan, anti menyontek atau curang, serta konsisten dalam sikap maupun perbuatan,” katanya.
Chritophorus Danang Wahyu Prasetio menjelaskan, fungsi strategis MPLS adalah untuk pembinaan awal karakter dan kedisiplinan siswa sebelum berproses dan berdinamika secara utuh. Oleh karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab besar terhadap para siswa baru dalam memberikan rasa aman, percaya diri, dan siap menerima proses pembelajaran.
“Berdasarkan hal tersebut, kesungguhan dalam merancang kegiatan menjadi sangat penting. Karena MPLS dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun pondasi psikologis siswa untuk menghadapi tantangan belajar di sekolah baru,” ujarnya.

Danang menyatakan, MPLS di SMA Kolese De Britto menjadi sarana efektif bagi para siswa baru dalam berkenalan dan beradaptasi dengan lingkungan SMA Kolese De Britto. Seperti nilai-nilai yang ditawarkan dan diperjuangkan, keutamaan-keutamaan hidup yang ditawarkan, dorongan memiliki ketahanan mental, keberanian bertanggung jawab terhadap pilihan dan tujuan, spiritualitas Ignatian, dan pendidikan karakter 1L + 5C atau Leadership (kepemimpinan) yang berkarakter Competence (kecakapan), Conscience (nurani yang benar), Compassion (bela rasa), Commitment (komitmen), dan Consistency (konsistensi/kesatuan kata dan tindakan). Semuanya itu dipergunakan untuk mempersiapkan generasi yang humanis, kritis, dan bijak dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era digital.
“Melalui MPLS ini diharapkan para siswa terbantu dalam menghayati keutamaan yang ditawarkan di Kolese ini seturut profil siswa yang memiliki keunggulan di bidang kepemimpinan berhati nurani benar dan memiliki kepekaan sosial,” terangnya.
Danang mengatakan, tujuan dan harapan MPLS dengan tema “Tangguh dan Kolaboratif” ini dapat dimaknai dalam logo yang telah mereka buat.

Ada filosopi yang dapat dimaknai dari setiap bagian yang ada di logo MPLS tersebut, yaitu:
- Lima garis yang menyerupai matahari terbit melambangkan karakter Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment dan Consistency.
- Bentuk segitiga yang menyerupai gunung kokoh melambangkan ketangguhan: kuat dan tahan uji.
- Dua tangan menyatu melambangkan kolaborasi yang membentuk siluet burung merpati/penyertaan Roh Kudus. Warna Hijau (pertumbuhan, harapan, keseimbangan)
- Warna merah (semangat dan keberanian), dan Putih (kejujuran, keterbukaan).
Berdasarkan logo tersebut, MPLS ini merupakan suatu sarana untuk beradaptasi awal dalam kesempatan mengantar dan membawa para siswa kelas X dalam memasuki semangat yang dihayati bersama, yaitu spiritualitas Ignasian dan semangat St Yohanes de Britto, sikap MAGIS, sikap diskretif dengan mampu membedakan hal baik dan buruk, hal benar dan salah, maupun memilih pilihan yang terbaik di antara pilihan yang baik.
Selain itu, pengenalan visi misi sekolah yang tercermin dalam profil siswa 1 L+5 C. Berikutnya terkait dengan pengenalan sarana dan prasarana serta komunitas. Misalnya mengenal tempat- tempat penting dalam proses belajar maupun mengenal para guru, staf kependidikan, karyawan, para rama dan frater di komunitas.

Ia mengungkapkan, dalam pelaksanaan MPLS ini, untuk menentukan konsep dan tema, di-breakdown dari konteks siswa yang ada saat ini berdasarkan hasil tes penerimaan siswa baru (PSB) yang meliputi tes potensi akademik, psikotes, tes wawancara dan tes kebugaran jasmani, serta konteks siswa di generasi Z (genzi). Berdasarkan konteks siswa tersebut tercetuslah tema “Tangguh dan Kolaboratif”.
Dalam hal ini pengertian, “Tangguh” menggambarkan kemampuan adaptasi, ketahanan mental, dan semangat juang yang tinggi, relevan dengan tantangan masa remaja dan perkembangan zaman yang dinamis. Secara umum, mental yang tangguh berarti terampil mengelola stres dan tekanan, kemampuan memaknai kegagalan sebagai pembelajaran, dan tetap positif dan berusaha di tengah keterbatasan.
Sedang pengertian “Kolaboratif” menekankan pentingnya kerja sama, komunikasi efektif, dan kemampuan untuk berkontribusi dalam kelompok. Mereka adalah Generasi Z yang sudah terbiasa dengan media sosial, kolaborasi digital, dan komunikasi instan, tetapi banyak di antara mereka yang kurang terbiasa dengan interaksi sosial langsung (face-to-face).
Di sinilah pointnya, mereka perlu diberi tantangan untuk komunikasi verbal (menyampaikan ide dan mendengarkan aktif), kemampuan membaca bahasa tubuh (gestur, ekspresi wajah), menyelesaikan konflik langsung, dan kerja sama tim yang melibatkan diskusi tatap muka.

Berdasarkan tema yang yang diambil, supaya tujuan dari MPLS ini terwujud dan memberikan proses adaptasi yang baik dan tepat di SMA De Britto, maka dalam pelaksanaanya tema besar “Tangguh dan Kolaboratif” ini diturunkan dalam tema-tema harian.
Hari pertama mengusung tema “Membangun mental tangguh dan dasar kolaborasi” (fokus pada: leadership). Hari kedua, “Kompetensi dan adaptasi di era digital” (fokus: competence & conscience). Hari ketiga, “Empati dan kolaborasi sosial” (fokus: compassion). Hari keempat, “Komitmen dan konsistensi dalam tantangan” (fokus: commitment & consistency). Dan hari kelima, “Integrasi nilai 1L + 5C dan penguatan identitas spiritualitas Ignatian” (fokus: 1L yang 5C).

Danang menerangkan, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang telah dilaksanakan selama lima hari, dari tanggal 14 sampai 18 Juli 2025 ini dibagi dalam dua sesi pagi dan siang. Sesi pagi berisi informasi tentang persekolahan terkait pengajaran dan pengetahuan. Sedang siang berisi tentang formasi terkait pembentukan diri, sikap dan perilaku.
“Harapannya dari proses yang dilalui pada pagi dan siang itu akan dapat mentransformasi pembaharuan hidup para siswa, terkait dengan pertobatan dan perubahan menuju komitmen yang berdasarkan semangat ke De Brittoan dengan berlandaskan spiritualitas Ignatian,” harapnya.

Guna mewujudkan tema “Tangguh dan kolaboratif” ini, maka pada acara penutupan diadakan Flashmob “Dari Yogyakarta Istimewa Untuk Indonesia” dengan menampilkan kebudayaan Nasional berupa lagu-lagu daerah seperti Sigulempong (Sumatera Utara), Soleram (Riau), Cublak-cublak Suweng (Jawa), Ampar-ampar Pisang (Kalimantan Selatan), Si Patokaan (Sulawesi Utara), Poco-poco (Maluku), Sajojo (Papua), dan di akhiri dengan Yogya Istimewa dikombinasikan dengan gerakan tubuh yang serempak.
Dan untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas segala karunia dan berkatNya sehingga diberikan kelancaran dan kesuksesan dalam kegiatan MPLS ini, maka ditutup dengan ibadat syukur.









