WartaKita.org – Thomas Surya (30), atau yang akrab dipanggil Surya atau Mas Uya ini adalah salah satu pembisnis muda dari Kabupaten Sleman yang bergerak di bidang percetakan desain gambar dan tulisan pada kaos atau yang sering dikenal dengan istilah sablon kaos.
Rotgar adalah nama usaha sablon kaos yang dia miliki. Surya membuka usaha sablon kaos di Jalan Solo – Jogja, tepatnya di Dusun Pendekan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.
Dia membuka usaha sablon kaos sejak tahun 2015. Dan di masa pandemi Covid-19 ini, dia sempat menjual aset kantor untuk membayar gaji karyawannya dan menghindari kebangkrutan.
“Saya benar-benar sampai menjual salah satu aset yang saya punya untuk membayar gaji karyawan saya. Karena saya tidak tega pada mereka, meskipun hanya bekerja setengah hari saja. Saya juga tidak memotong gaji mereka sama sekali pada waktu itu. Bahkan, saya sempat merasakan kebangkrutan dan berpikiran untuk gulung tikar,” katanya, Senin (5/10/2020) Sore.
Sebagai salah satu pelaku bisnis mikro, ancaman kebangkrutan seperti itu sangat mungkin dirasakan. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini.
Menurutnya, momok yang menakutkan bagi para pelaku bisnis mikro adalah gulung tikar atau bangkrut. Dan ini juga dirasakan Surya sejak bulan Mei hingga Juni lalu.
Surya mengatakan, sejak masih duduk di bangku SMA, dia bercita-cita ingin membuat lapangan pekerjaan sendiri. Tujuannya, agar dia dapat memberikan pekerjaan kepada para tetangga di sekitarnya.
Surya menyampaikan, permintaan kaos sablon pada masa pandemi Covid-19 ini menurun drastis. Penurunan jumlah permintaan kaos ini sangat mempengaruhi omset penghasilannya. Selain itu, pemutusan kontrak dengan beberapa brand kaos distro juga menjadi salah satu faktor menurunnya permintaan sablon kaos.
Biasanya, dia mengirimkan sablon kaos hingga luar daerah. Tetapi sejak pandemi Covid-19 ini, dia hanya menerima permintaan kaos sablon dari dalam kota saja. Karena pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah membuat proses pengiriman dan penerimaan barang dari luar daerah mengalami kendala.
“Penurunan pemesanan kaos sablon benar-benar sangat menurut drastis. Saya yang biasanya bisa mendapat permintaan sablon kaos dari 500 sampai 600 pieces per bulan, untuk saat ini hanya sekitar 120 kaos saja,” ujarnya.
Lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta tahun 2014 ini menjelaskan, seiring perjalanan waktu, Surya menerima kontrak kerjasama untuk membuatkan masker dari Dinas Koperasi UMKM dan salah satu lembaga swasta. Dengan mengerjakan masker tersebut membuat usaha sablon kaosnya mulai bangkit dari kebangkrutan.
Pada awal bulan Agustus, Dinas Koperasi UMKM tersebut memesan masker cukup banyak, yaitu sebanyak 20.000 masker. Dan pada 20 September, salah satu lembaga swasta memesan 1.000 masker.
“Saya bersyukur ada secercah jalan keluar ketika Dinas Koperasi UMKM dan lembaga swasta menggunakan jasa saya untuk membuatkan masker,” ucapnya.
Saat ini, Surya memiliki 2 karyawan dan fokus pada pekerjaan sablon kaos. Sedangkan untuk tenaga penjahit dia tangani sendiri.
“Belajar dari pengalaman, untuk menyiasati agar usaha saya ini tetap berjalan dan eksis, maka saya harus membiasakan menabung,” ucapnya.









