Karena Perputaran Uang Dinilai Lebih Cepat, Warga Banjarasri Pilih Beternak Kambing

Haryono memberi pakan rumput (suket) pada kambing peliharaannya.

WartaKita.org – Kondisi lingkungan yang mendukung menjadi alasan utama bagi sejumlah warga untuk beternak kambing. Karena usaha berternak kambing ini bisa menjadi sumber penghasilan utama atau penghasilan tambahan bagi mereka.

Adalah Haryono, seorang petani yang juga penenun yang memilih pensiun dini dan memutuskan beternak kambing di rumahnya di Padukuhan Tosari, Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Bacaan Lainnya

Saat ditemui di rumahnya pada Rabu (22/9/2021), Haryono menjelaskan, berternak kambing memiliki perputaran uang yang lebih cepat bila dibandingkan dengan sapi. Sebab penjualan sapi membutuhkan waktu satu setengah tahun. Sedangkan kambing betina sudah siap jual ketika berumur 4 sampai 6 bulan.

Haryono mengemukakan, usaha beternak kambing ini dimulai pada pertengahan Mei lalu. Dan kini, Haryono telah memiliki 11 ekor kambing. Terdiri dari 7 pejantan dan 4 kambing betina, yang berjenis Jawa Randu.

Haryono menyampaikan, pemberian pakan pada kambingnya dilakukan seperti pada umumnya, yaitu berupa rumput (suket) dan rambanan segar. Namun, Haryono juga menambahkan pakan berupa polar satu kali sehari yaitu setiap sore.

“Saya menghabiskan hingga 50 kg polar dalam setiap bulannya,” katanya.

Tak hanya itu, kambingnya itu juga dilakukan penyuntikan secara rutin berupa obat lalat dan obat cacing untuk mengindari berbagai penyakit. Terlebih ketika musim hujan. Hewan ternak akan lebih rawan terkena sakit ataupun penyakit, antara lain diare, luka, batuk, pilek, kembung, dan gatal-gatal.

Kandang panggung dibuat untuk mencegah kambing terserang dari berbagai penyakit.

Haryono mengungkapkan, untuk mencegah berbagai penyakit itu, kambing-kambing tersebut dipelihara di kandang panggung.

“Kandang dibuat panggung supaya memudahkan proses pembersihan kotoran. Juga dampaknya akan lebih aman bagi kesehatan hewan ternak,” tuturnya.

Menurut Haryono, pemberian pakan juga harus diperhatikan. Dia menghindari pemberian daun singkong basah, sebab kemungkinan bisa meracuni hewan ternak. Tak hanya itu, persediaaan obat-obatan juga menjadi hal yang krusial.

Haryono menambahkan, kedepan, ia akan mencoba jenis pakan yang berbeda, yaitu berupa pakan fermentasi (silase) yang berlaku untuk segala jenis dedaunan.

“Karena pakan fermentasi ini sangat membantu ketika musim kemarau. Untuk silase, cukup 3 kilogram sehari,” ungkapnya.

Haryono menyatakan, dia menghabiskan modal Rp15 juta untuk membeli kambing, dan Rp6 juta untuk membuat kandang dengan kondisi kadang yang tinggal direnovasi saja.

“Itu bekas kadang sapi dulunya. Jika membuat kadang baru, ya biayanya lebih baik,” terang Haryono.

 

Pos terkait