Ikut Lestarikan Seni Dan Budaya Jawa, Warga Keturunan Tionghoa Di Klaten Pentaskan Wayang Orang Dan Inisiasi Festival Ketoprak Pelajar

Edy Sulistyanto, salah satu tokoh keturunan etnis Tionghoa di Klaten.

WartaKita.org – Sejarah mencatat, peran warga keturunan etnis Tionghoa di Kabupaten Klaten dalam ikut melestarikan seni dan budaya Jawa sungguh nyata.

Sejak dulu, mereka terlibat aktif melestarikan budaya Jawa terutama pentas wayang orang. Dan selama belasan tahun belakangan ini, mereka ikut menginisiasi diadakannya Festival Ketoprak Pelajar.

Bacaan Lainnya

Dalam buku berjudul “Dinamika Kaum Tionghoa Klaten dari Masa ke Masa” yang ditulis oleh salah satu tokoh keturunan etnis Tionghoa di Klaten, Edy Sulistyanto disebutkan, pada tahun 1963, kaum Tionghoa di Klaten sudah main wayang orang. Klub wayang orang Tionghoa Klaten itu bernama Padma Budaya.

Dengan dibantu Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Padma Budaya berhasil mementaskan sejumlah lakon seperti Bambang Pramusinto, Srikandi Edan, serta Sumantri Ngenger.

Padma Budaya menjadi bukti pembauran secara alamiah antara warga keturunan Tionghoa dengan warga Jawa di Klaten. Karena para penabuh gamelannya kebanyakan orang Jawa. Sementara para pemain wayang orang-nya adalah campuran antara orang Jawa dan Tionghoa.

Edy Sulistyanto saat ditemui di rumahnya, Selasa (17/1/2023), menyampaikan, pada era 1990-an, pernah ada klub wayang orang dengan anggota para pengusaha keturunan Tionghoa di Delanggu.

Klub wayang orang itu juga menjadi pembauran secara alamiah antara warga Jawa dengan warga keturunan Tionghoa di Klaten. Klub wayang orang di Delanggu terbentuk secara spontan untuk memeriahkan HUT ke 50 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Delanggu.

Penampilan wayang orang ini mendapat sambutan meriah.

“Saat itu yang main ada pengusaha, kemudian ada dari Koramil, tukang becak, dan lain-lain,” katanya.

Boss Amigo Group ini menceritakan, klub wayang orang dari Delanggu itu kemudian diundang tampil di Kodim Klaten. Bahkan, klub ini pernah tampil di Bentara Budaya Jakarta.

“Saat main di Bentara Jakarta itu menjelang peristiwa Mei 1998. Kita sempat deg-degan juga dengan dagelan-dagelan yang ditampilkan,” ujarnya.

Pengusaha yang kini berusia 68 tahun ini mengatakan, pasca reformasi, klub wayang orang yang merupakan pembauran warga keturunan Tionghoa dengan Jawa tersebut sempat tampil di Gedung Wayang Orang Sriwedari. Klub wayang orang itu kemudian bubar setelah satu per satu personelnya meninggal dunia.

Meski begitu, jejak warga keturunan Tionghoa dalam melestarikan seni dan budaya di Klaten masih terus berlanjut.

Edy merupakan inisiator Festival Ketoprak Pelajar (FKP). Menggandeng maestro ketoprak dari Jogja, almarhum Bondan Nusantara, Edy bersama Amigo Group sukses menggelar FKP.

Pada awalnya, peserta FKP ini hanya dari sekolah di wilayah Klaten. Kemudian, FKP berkembang dan diikuti peserta dari sekolah di Jawa Tengah. Setelah 10 tahun mengelola FKP, Edy kemudian menyerahkan pengelolaan FKP kepada Dewan Kesenian Klaten.

Pos terkait