Menggandeng ISI Yogyakarta, Sekolah Krista Gracia Klaten Siap Pentaskan Drama Musikal “Indonesia Rumah Kita”

Sejumlah panitia dan pemain drama musikal "Indonesia Rumah Kita" berfoto bersama di aula Sekolah Krista Gracia Klaten, Senin (26/2/2024).

WartaKita.org – Sekolah Krista Gracia Klaten kembali menggelar pentas seni setelah hampir empat tahun vakum akibat pandemi Covid 19.

Kali ini, Sekolah Krista Gracia Klaten akan menggelar pentas seni berbentuk drama musikal yang bertajuk “Indonesia Rumah Kita” di aula sekolah setempat pada Sabtu (2/3/2024) pukul 17.00 sore.

Bacaan Lainnya

Dalam pentas drama musikal ini, Sekolah Krista Gracia Klaten bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Kepala SMP Krista Gracia Klaten, Kris Setyanto didampingi Kepala SD Krista Gracia Klaten, Fajar Iswadi dan Sutradara Drama Musikal, Toet Suharyan saat konferensi pers di Ruang Multimedia SD Krista Gracia Klaten, Senin (26/2/2024), menyampaikan, sejak produksi terakhir drama musikal “Kera Sakti” pada tahun 2020, belum ada lagi produksi gelaran pentas seni sekolah.

Ini karena adanya kebijakan social distancing serta pembatasan-pembatasan pada masa pandemi Covid 19 yang tidak memungkinkan sekolah mengadakan kegiatan yang melibatkan kontak fisik.

“Setelah melewati masa pandemi, kini kami hadirkan kembali eksistensi pentas seni yang selama ini menjadi ikon dan deferensiasi Sekolah Krista Gracia Klaten di bidang pengembangan seni budaya,” katanya.

Kris Setyanto menyatakan, seiring dengan perkembangan dan dinamika dunia pendidikan di tanah air, dimana Kurikulum Merdeka Belajar menjadi jargon dan sebuah sistem pendidikan yang baru bagi institusi sekolah dalam mengelola dan menyelenggarakan pendidikan, maka kegiatan pentas seni menjadi sebuah media pembelajaran yang tepat untuk melakukan praktik baik melalui pembelajaran berbasis proyek.

“Penerapan Project Based Learning (PjBL) dalam kegiatan pentas seni ini mengajak anak-anak untuk terlibat langsung dalam penggarapan pementasan mulai dari persiapan sampai pada pelaksanaan,” ujarnya.

Sekolah Krista Gracia Klaten kembali menggelar pentas seni berbentuk drama musikal bertajuk “Indonesia Rumah Kita” setelah hampir empat tahun vakum akibat pandemi Covid 19.

Ketua Panitia Drama Musikal ini menjelaskan, sesuai dengan minat, maka anak-anak bebas memilih bidang proyek yang akan dikerjakan. Anak-anak yang menyukai seni peran terlibat sebagai pemain. Ada yang merancang dan membuat property yang digunakan dalam pementasan. Anak yang tertarik dalam bidang rias dan busana dapat merancang kostum yang sesuai dengan karakter tokoh.

Ada pula anak yang ingin mengembangkan dunia kewirausahaan akan belajar menyusun anggaran hingga usaha pencarian dana. Dan di bidang IT, anak-anak belajar merancang promosi digital dan penjualan tiket secara online.

“Melalui PjBL, anak-anak belajar banyak hal yang tidak pernah ia dapatkan saat belajar di kelas. Anak-anak mengalami secara langsung serta bereksplorasi dalam sebuah proses mengelola sebuah kegiatan besar yang tentu akan membawa manfaat bagi pengembangan dirinya,” ungkapnya.

Kris menerangkan, kegiatan pentas seni tahun 2024 ini mengambil tema keberagaman dan nasionalisme yang dikemas dalam bentuk Drama Musikal bertajuk “Indonesia Rumah Kita”.

“Dalam penggarapan drama musikal kali ini, Sekolah Krista Gracia Klaten menggandeng ISI Yogyakarta. Kerjasama di bidang pengembangan seni kali ini diharapkan menghasilkan sebuah kolaborasi garapan pementasan drama musikal yang apik, spektakuler, serta sarat dengan nilai-nilai pluralisme dan layak untuk ditonton,” harapnya.

Bagian Litbang Sekolah Krista Gracia Klaten, Edy Sulistyanto berfoto bersama sebagian pemain drama musikal “Indonesia Rumah Kita” berfoto bersama di aula sekolah setempat, Senin (26/2/2024).

Sedang siswa Kelas 9B SMP Krista Gracia Klaten, Aileen Amanda Nathania memaparkan, Drama Musikal “Indonesia Rumah Kita” ini menceritakan tentang kehidupan dalam keberagaman budaya yang tidak mudah. Itulah yang dirasakan oleh Lydia, seorang pelajar SMP di kota Klaten pada tahun 1995.

Dalam pergaulan di sekolah, kaum minoritas sering merasakan dan mendapat tindakan rasisme. Lydia merupakan salah satu pelajar pelaku tindakan rasisme tersebut. Tanpa Lydia ketahui, ternyata ia juga merupakan kaum minoritas yang selama ini sering ia jelek-jelekkan.

Lydia kesulitan menerima kenyataan tersebut. Lydia tidak mau dianggap sebagai etnis Tionghoa.

Orangtuanya mencoba untuk meyakinkan Lydia bahwa menjadi kaum Tionghoa bukanlah hal yang buruk. Ayahnya memberi tiga buku tentang sejarah perjuangan kaum minoritas Tionghoa untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Buku itu berjudul “Tionghoa Dalam Keindonesiaan, Peran Dan Kontribusi Bagi Perjuangan Bangsa” karya (editor) Didi Kwartanada.

Awalnya, Lydia tidak mau membaca buku itu. Namun akhirnya, Lydia bisa tergerak untuk membaca bukunya. Buku-buku itu dibawanya ke sekolah untuk dibaca.

Ketiga buku tersebut dibacanya dengan teliti bersama teman-temannya di sekolah. Setelah membaca ketiga buku tersebut, apakah pandangan Lydia tentang kaum minoritas Tionghoa berubah? Bagaimana dengan pandangan teman-temannya?

Sementara itu Sutradara Drama Musikal, Toet Suharyan (Tutik Suharyani) menyatakan, pentas drama musikal ini membutuhkan waktu persiapan yang lumayan lama. Dimulai sejak penerapan PjBL pada bulan Oktober 2023. Kemudian pemilihan pemain dan peran, serta latihan mulai bulan November 2023.

“Total ada 157 anak yang terlibat dalam pentas drama musikal ini. Mulai dari pemain (130 anak), property, tata rupa panggung, multimedia, dan sebagainya. Kita juga berkolaborasi dengan Pak Singgih Sanjaya, Dosen Seni Musik ISI Yogyakarta,” terangnya.

Toet Suharyan menambahkan, dalam pentas drama musikal ini, panitia menjual sebanyak 630 tiket sejak 5 Februari 2024 yang lalu.

“Panitia menyediakan 60 tiket untuk VVIP, 150 tiket VIP, dan sisanya tiket regular. Dan informasi sampai hari ini, semua tiket sudah habis terjual,” tandasnya.

Suasana konferensi pers terkait pentas drama musikal “Indonesia Rumah Kita” di Ruang Multimedia SD Krista Gracia Klaten, Senin (26/2/2024).

Terkait, Bagian Litbang Sekolah Krista Gracia Klaten, Edy Sulistyanto mengaku, pentas drama musikal ini merupakan gawe gede yang paling gede sepanjang sejarah keberadaan sekolah ini. Karena rebyek (rumit)-nya luar biasa.

“Dari mulai merumuskan PjBL, memilih pemain, latihan, mencari dana dan sponsor, menjual tiket, menyiapkan property, panggung, multimedia, dan sebagainya. Tetapi semua yang terlibat di sini bisa merasakan, menjalaninya dengan senang hati. Ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagi mereka untuk mengembangkan dirinya,” katanya.

Owner Amigo Group ini menambahkan, pentas drama musikal ini sengaja mengambil cerita dari sejarah kehidupan nyata, bukan dari legenda.

“Tujuan dari pentas drama musikal ini yaitu memahamkan sejarah kepada anak-anak dengan cara kekinian, tanpa harus meninggalkan budaya bangsa. Karena sejatinya, banyak sejarah kita (Indonesia) yang tidak ditulis, atau bahkan “dimanipulasi”. Maka, menjadi kewajiban kita untuk menyampaikan kebenaran sejarah itu kepada anak-anak kita,” ucap Edy Sulistyanto.

Pos terkait