BELAKANGAN ini ‘atmosfer’ kehidupan kita riuh oleh berita-berita tentang masyarakat yang tertipu oleh investasi bodong.
Agaknya, motif ekonomi dalam rupa ingin hidup kaya mendadak menjadi “magnet” mengapa masyarakat berbondong-bondong rela menanamkan uangnya di tempat investasi yang keberadaan atau legalitasnya dalam tanpa kutip “diragukan”.
Mendengar kabar tentang maraknya masyarakat yang menjadi korban penipuan itu, selain mengundang rasa prihatin, beberapa kalangan mengaku speechless–meminjam istilah dalam bahasa gaul artinya bungkam atau tidak bisa bicara. Sebuah ungkapan seseorang akan rasa kaget terhadap sesuatu, sampai tidak bisa berkata-kata.
Sepertinya logis jika speechless, mengingat korban penipuan itu selain berduit, tentu tidak sedikit dari mereka berasal dari kalangan terdidik. Beberapa diantaranya akrab dengan pendidikan tinggi. Pertanyaannya, mengapa mereka sampai menjadi korban penipuan?
Menurut penulis, selain dipengaruhi hasrat besar berupa motif ekonomi, terbatasnya akses informasi perihal cara berinvestasi yang aman memberi pengaruh minimnya pengetahuan masyarakat akan informasi yang valid atau akurat tentang konten yang menyangkut tata cara berinvestasi. Pendek kata, kemampuan literasi dalam hal mengaksakses bacaan (informasi) yang mengangkat topik atau isu tertentu, masih sangat minim.
Masyarakat kita masih terbiasa menggantungkan informasi dari platform-platform digital di telepon pintarnya ketimbang misalnya mencari sumber referensi yang jelas dan terpercaya lewat media buku atau e-book.
Pada sisi lain, informasi saat ini kian tumpah ruah dan masyarakat kesulitan membedakan mana informasi berkualitas dan mana informasi yang cenderung hoaks atau kabar bohong. Pada aspek ini, kemampuan masyarakat untuk berliterasi menjadi penting agar cerdas dan cermat memilih dan memilah informasi.
Literasi
Banyak definisi tentang literasi. Pun dalam literasi sendiri dikenal beragam jenis. Setidaknya ada enam jenis, yakni literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, budaya, dan finansial. Dari ragam pengertian literasi itu, subtansinya menyebutkan literasi sebagai kemampuan dalam diri seseorang untuk menulis dan membaca.
Dalam konteks yang lebih luas, keaktifan membaca dan menulis itu akan menambah pengetahuan dan ketrampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Hulu Sampai Hilir
Dalam literasi dikenal 4 (empat) tingkatan literasi. Yakni mengumpulkan bahan bacaan, memahami, mengemukakan ide atau gagasan baru teori baru, dan kreativitas serta inovasi baru, serta kemampuan menciptakan barang atau jasa yang bermutu.
Literasi yang berkaitan dengan aktivtas membaca dan menulis sampai kini masih dihadapkan pada dua sisi permasalahan. Pertama dalam sisi hulu, yaitu penulisan, penerbitan, distribusi, dan regulasi. Kedua dari sisi hilir, yakni rendahnya kegemaran membaca, rendahnya indeks literasi, ketimbangan rasio buku dan jumlah penduduk, anggaran terbatas, dan kurangnya pustakawan.
Peran Pustakawan
Pustakawan sebagai tenaga yang profesional sangat dibutuhkan perannya untuk mengurai satu persatu permasalahan di atas. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan yakni dengan cara ceramah, konseling, penyebaran buku panduan, pamflet, brosur maupun cara promosi. Pustakawan memiliki pera strategis di tengah masyarakat untuk ‘membumikan’ kegiatan berliterasi mengingat tingkat literasi memiliki hubungan vertikal akan kualitas suatu bangsa.
Masih dalam suasana pandemi, pustakawan harus melakukan inovasi layanan. Salah satunya dengan mengoptimalkan pelayanan jasa virtual perpustakaan, mengingat saat ini banyak berita palsu yang beredar membuat masyarakat membutuhkan sumber informasi yang terpercaya lewat jasa layanan perpustakaan.
Pustakawan juga memiliki fungsi penting lain yakni sebagai sebagai agen literasi penyedia informasi. Misalnya kaitannya dengan isu korban penipuan yang berkedok investasi tersebut. Pustakawan harus proaktif menghadirkan konten informasi dari sumber terpercaya dan informasi itu kontennya disertai pendapat para pakar di bidang investasi sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang komprehensif tentang masalah investasi.
Inovasi layanan yang demikian merupakan salah satu ujud pustakawan berkontribusi menghadirkan transformasi perpustakaan.
Kini, perpustakaan tidak sekadar tempat menyimpan dan mengelola koleksi bahan pustaka saja. Melainkan sesuai perkembangan jaman, perpustakaan hadir sebagai penyedia informasi digital yang terpercaya dan dapat mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat.
Kegemaran berliterasi berpengaruh kepada cara berpikir, bertindak dan berperilaku seseorang. Orang yang memiliki referensi yang cukup tentu tidak akan mudah menerima informasi atau ajakan yang menjerumuskan atau malah membuat jadi terpuruk kehidupannya. Jadi, mari kita giat berliterasi!

Pustakawan Ahli Muda ISI Yogyakarta








