From Selfie to Self Healing

Sejumlah pengunjung melakukan selfie di Kampung “terisolir” Girpasang, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten

DESTINASI WISATA harus berbenah dan bersiap menghadapi ‘next normal’ setelah terhantam oleh pandemi Covid-19.

Pelaku bisnis di bidang wisata harus mengikuti anjuran Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenperaf) untuk memiliki sertifikat CHSE (Cleanliness atau kebersihan, Health atau kesehatan, Safety atau keamanan, dan Environment Sustainability atau kelestarian lingkungan).

Bacaan Lainnya

Pemberlakuan ‘next normal’ ini harusnya bisa ditangkap oleh para pelaku bisnis wisata sebagai peluang baru.

Karena itu, mereka tidak hanya menyediakan spot untuk berswafoto atau dikenal dengan istilah selfie saja. Tetapi sebaiknya, pelaku wisata juga menawarkan fasilitas yang sedang menjadi trend, yaitu wisata untuk kesembuhan jiwa atau dikenal dengan istilah self healing.

Selfie memang telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat di tengah maraknya penggunaan media sosial. Aktualisasi dan eksistensi diri tercurah melalui berbagai konten media sosial yang ada.

Seiring berjalannya waktu dan persisnya sejak adanya pandemi Covid-19, masyarakat mulai berpikir ulang mengenai wisata. Tidak hanya sekadar untuk mengisi konten media sosial, kesempatan wisata juga digunakan untuk menyembuhkan batin dan jiwa. Dari hanya sekadar menghilangkan kejenuhan akibat adanya pembatasan mobilitas, namun juga menyembuhkan jiwa dan mental dari segala tekanan yang dimunculkan oleh pandemi baik secara langsung maupun tak langsung.

Proses penyembuhan ini dapat dilakukan dengan self healing.

Menurut ilmu Psikologi, self healing merupakan proses penyembuhan yang hanya melibatkan diri sendiri dan bertujuan untuk dapat memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan membentuk pikiran positif dari apa yang telah terjadi. Proses ini dipercaya dapat dilakukan saat seseorang sejenak mengambil jarak dari rutinitas kehidupan dan kembali ke alam untuk menimba energi positifnya.

Self healing dapat dilakukan dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang menyuguhkan keindahan alam yang masih alami dan sarat akan keheningan dan kedamaian.

Masyarakat kota akan sulit menemukan tempat yang memang masih sangat alami. Karena banyak perusahaan, baik pemerintah maupun sektor swasta, dengan berbagai macam alasan yang berkaitan dengan pembangunan terkadang mengabaikan lingkungan dan alam.

Fenomena tersebut berdampak pada semakin tidak terhubungnya alam dan manusia baik secara emosional maupun spiritual. Maka sudah saatnya manusia kembali ke alam, karena memang pada hakikatnya manusia dan alam adalah satu kesatuan untuk saling menyembuhkan dan menjaga keseimbangan. Trend self healing dapat menjadi jembatan untuk mengembalikan struktur kehidupan di semesta ini.

Destinasi wisata memiliki peran cukup penting. Selain bisa menjadi peluang bisnis, juga dapat mengambil peran untuk menjaga alam agar tetap layak huni dan memancarkan energinya.

Langkah yang dapat diambil adalah dengan menawarkan program wisata yang secara spesifik memuat unsur-unsur yang dapat dijadikan sarana self healing. Misalnya, penginapan di tengah alam yang tenang dan terjamin kelayakannya (sesuai standar CHSE), rute jalan atau sepedaan yang melewati keindahan alam, kuliner yang sehat dan berasal langsung dari alam, pertunjukan budaya yang kental akan nilai-nilai kearifan lokal, dan lainnya.

Paket wisata alam tersebut perlu dikemas semenarik mungkin dan ditawarkan melalui berbagai media sosial dan iklan di internet. Penting untuk menambahkan hashtag berkaitan self healing (#selfhealing, #wisataselfhealing) dan diikuti dengan hashtag nama kota dan nama destinasi secara spesifik dalam setiap kesempatan promosinya. Hal ini bertujuan agar dapat diakses secara cepat oleh wisatawan yang sedang mencari tujuan tempat wisata untuk melakukan self healing.

Pengelola paket wisata juga perlu dibekali wawasan mengenai cerita dari mengenai sejarah tempat-tempat wisata, budaya, dan juga kuliner yang ada. Dengan demikian, pada saat wisatawan datang mereka dapat bercerita mengenai sejarah tersebut.

Hal ini penting dilakukan karena selain akan menambah nilai dari paket wisata tersebut, wisatawan yang sedang melakukan self healing diharapkan dapat mengambil pelajaran dari cerita-cerita tersebut untuk menjadi sarana penyegaran sehingga menciptakan kepuasan wisatawan.

Kepuasan wisatawan yang muncul akan berdampak positif pada image destinasi wisata, terlebih jika wisatawan tersebut dengan kerelaan hatinya akan menulis review yang positif. Tentu hal ini akan menjadi sarana promosi yang signifikan dan tidak mengeluarkan budget khusus dan akan mendatangkan benefit tersendiri bagi pengelola wisata.

Demikian gambaran mengenai trend wisata yang sedang terjadi di kalangan masyarakat.

Semoga para pelaku bisnis wisata dapat mengindahkan peluang baru yang muncul, dan masyarakat yang berminat untuk self healing dengan berwisata mendapat pencerahan.

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat menjadi pemantik dari ide-ide lain yang relevan dengan topik yang diangkat. Salam Cerdas dan Humanis.

 

Januari Ayu Fridayani

Dosen Program Studi Manajemen

Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

Pos terkait