Di Tangan Iwan Setyo Raharjo, Limbah Karung Goni Disulap Jadi Barang Seni Bernilai Tinggi

Plt Kepala Desa Karanganom, Subarko berfoto dengan Iwan Setyo Raharjo bersama karya seni dari limbah karung goni yang dihasilkannya, Senin (21/11/2022).

WartaKita.org – Selama ini, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa limbah karung goni dianggap sebagai sesuatu yang kotor, tidak bermanfaat, dan bahkan harus dibuang.

Tetapi di tangan Iwan Setyo Raharjo, warga Dukuh Timbul Rejo RT 04 RW 05, Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten ini, limbah karung goni bisa disulap menjadi barang seni seni yang bernilai tinggi.

Bacaan Lainnya

Ditemui di galerinya, Senin (21/11/2022), Iwan menyampaikan, konsep seni Republik Karung Goni (Kargo) ini adalah untuk mengangkat nilai dari limbah karung goni tersebut.

“Sebab, statetmen (pernyataan) masyarakat tentang limbah itu adalah sampah. Jadi, saya dan teman-teman seniman mau mengangkat, bahwa limbah (termasuk karung goni) itu bisa digunakan untuk (menghasilkan) karya seni dan bermanfaat,” katanya.

Iwan menjelaskan, ia memilih karung goni untuk berkreasi seni, karena untuk karya-karya seni yang lain sudah banyak menggunakan bahan-bahan yang ada di pasaran.

“Tetapi kalau limbah karung goni, kelihatannya baru kita. Kita ini kebetulan konsepnya, memanfaatkan limbah karung goni menjadi karya seni. Termasuk seni 3 dimensi. Itu yang kita tonjolkan,” ujarnya.

Iwan Setyo Raharjo sedang mengerjakan karya seni dari limbah karung goni di rumahnya, Senin (21/11/2022).

Iwan menyatakan, ia secara khusus membuat karya seni dari limbah karung goni, seperti tas 3 dimensi, topi, patung, seni dekorasi, seni instalasi, dan handycraft.

“Untuk proses penjualan lewat akun media sosial (medsos) kita. Jadi, pembeli itu pesan lewat online. Kadang ada yang datang langsung dari Malang, Surabaya ke sini (Klaten) untuk membeli produk kita. Kalau pemasaran karya seni kita sudah sampai Jakarta, Malang, Surabaya, Jogja, Semarang, dan bahkan sampai Kalimantan,” terangnya.

Ia mengatakan, tingkat kesulitan dalam pembuatan karya seni ini lebih pada permintaan dari pemesan yang mengajukan gambar atau desain sendiri.

“Itu yang membuat pengerjaannya agak lama. Tetapi kalau desain dari kita sendiri, lebih cepat. Sebab sudah ada konsep. Kalau desain dari pemesan, biasaya kita minta waktu agak mundur,” tandasnya.

Iwan menambahkan, satu karya seni tas ini rata-rata satu hari jadi. Yang lama itu kalau membuat tas 3 dimensinya.

“Itu kan karya seni. Jadi biasanya tergantung mood. Tetapi kalau satu tas selempang ini, satu hari jadi. Tetapi kalau tas gendong, dan lebih banyak aksennya, yang dikerjakan secara handmade (tangan), jadinya lebih lama. Karena harus handmade dan dijahit (dengan mesin),” ungkapnya.

Beberapa hasil karya seni dari limbah karung goni yang dihasilkan Iwan Setyo Raharjo.

Iwan mengemukakan, harga untuk tas selempang Rp125 ribu. Sedang harga tas gendong jahit tangan bervariasi. Tergantung tambahan aksen dari pemesan. Karena harus handmade dan dijahit mesin, maka harga rata-rata tas gendong Rp250 ribu.

Sedang untuk harga patung seperti kepala badak sekitar Rp2,5 juta. Sementara harga patung naga bisa sampai Rp10 juta. Untuk topi laken Rp80 ribu, dan topi (seperti yang dipakai ASN) Rp30 ribu.

“Untuk bahan baku, alhamdulilah tidak ada kesulitan. Kita bekerjama dengan pedagang di Pasar Klaten yang kebetulan berdagang dimana-mana, yang berdagang sekalian mengambil karung goni,” paparnya.

Sementara itu Plt Kepala Desa (Kades) Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Subarko menyambut baik dan mengapresiasi karya seni yang dibuat Iwan Setyo Raharjo ini.

“Saya selaku pribadi dan Pemerintah Desa sangat mendukung dan mendorong agar kerajinan seperti karung goni ini bernilai positif dan bernilai  bisnis, serta mendatangkan pendapatan bagi mereka yang ikut terlibat didalamnya. Mudah-mudahan kita bisa bersinergi dengan intansi yang lain. Yang bisa memberikan dukungan, tambahan modal atau wawasan seni sesuai dengan yang diinginkan Mas Iwan. Tetapi prinsipnya, karya seni ini positif. Semoga bisa mengangkat nama baik Desa Karanganom dan Kecamatan Klaten Utara. Sebab selama ini, kita belum memiliki ikon seni,” ucap Sekretaris Kecamatan Kebonarum ini.

Pos terkait