Di Masa Pandemi, Paroki Wedi Buat Pohon Natal Raksasa Dari Janggel Jagung, Ini Maknanya…

Umat Paroki Wedi sedang merangkai pohon Natal dari janggel jagung, Selasa (22/12/2020) siang.

WartaKita.org – Ada banyak cara bisa dilakukan umat Katolik untuk menyemarakkan Natal 2020 ini.

Umat Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten misalnya. Mereka membuat pohon Natal berukuran raksasa dari janggel (bonggol) jagung.

Bacaan Lainnya

Koordinator tim pembuat pohon Natal Paroki Wedi, Petrus Claver Watono (39), Selasa (22/12/2020) siang, menyampaikan, janggel jagung ini berasal dari petani di sekitar Gereja Wedi. Saat panen, biasanya yang diambil hanya biji jagungnya saja. Sedang janggel atau bonggol jangungnya dibiarkan begitu saja atau menjadi limbah. Paling-paling digunakan untuk kayu bakar.

“Di sekitar Gereja Wedi ini banyak petani yang baru saja panen jagung. Nah, biasanya janggel jagungnya dibuang begitu saja. Maka, kita punya gagasan. Kita manfaatkan janggelnya itu untuk membuat pohon Natal,” katanya.

Watono menyatakan, dari ide itu, umat Paroki Wedi kemudian gotong royong mengumpulkan janggel jagung yang tidak terpakai ini. Total ada sekitar 1.000 janggel jagung yang terkumpul. Kemudian, janggel jagung itu dirangkai menjadi pohon Natal yang didirikan di halaman depan Gereja Wedi.

“Janggel-janggel jagung itu kemudian dipasang rapi pada instalasi bambu berbentuk kerucut yang menyerupai pohon Natal. Ketinggiannya sekitar enam meter. Sedang lingkarannya berdiameter delepan meter. Pohon Natal itu lalu kita beri pernak- pernik lampu agar lebih menarik,” ujarnya.

Koster Gereja Wedi ini menjelaskan, selain mendukung gerakan ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah jagung, pohon Natal berbahan janggel jagung ini juga memiliki filosofi tersendiri.

“Filosofi pohon Natal dari janggel jagung ini pertama, bahwa sebuah kehidupan itu ada masanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha agar hidup kita tetap berisi dan berbobot. Kedua, hidup sederhana dan berkarakter. Dan ketiga, jagung tanpa klobot, yen kabeh nyengkuyung dadi ora abot,” paparnya.

Watono berharap, dari filosofi pohon Natal berbahan janggel jagung ini dapat menamkan rasa kebersamaan diantara umat di tengah pandemi Covid-19.

“Intinya adalah rasa kebersamaan. Jadi semua beban berat saat pandemi Covid-19 ini, kalau bisa kita jalani bersama, maka akan terlewati dengan baik. Kita berharap, perayaan Natal di tengah pandemi Covid-19 ini bisa berjalan dengan baik. Dan ke depan, kita bisa menjalani hari- hari selanjutnya dengan lebih baik lagi, secara bersama-sama dan bergotong royong,” terangnya.

Penampakan pohon Natal dari janggel jagung pada malam hari.

Sementara itu, umat Paroki Wedi, Veronica Mariyanti mengapresiasi keberadaan pohon Natal dari janggel jagung yang membawa pesan tersendiri ini.

“Pesan dari pohon Natal ini, umat diajarkan untuk selalu bersama- sama dan saling menguatkan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Kali ini, Natal kita rayakan secara sederhana. Meski begitu, kita harus bersyukur, karena kita masih bisa merayakan Natal dengan gembira dan penuh makna,” ucapnya.

Pos terkait