Di HUT Ketiga, Jathilan Wahyu Turonggo Jati Lahirkan Wahyu Turonggo Langit

Penampilan dari Jathilan Wahyu Turonggo Jati.

WartaKita.org – Paguyuban Seni Jathilan Wahyu Turonggo Jati yang beralamat di Dukuh Rejosari, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) yang ketiga dengan menggelar pentas jathilan di Dukuh Pundung, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten pada Minggu (22/12/2019).

Moment ini menjadi sangat spesial karena Wahyu Turonggo Jati berhasil melahirkan “adik” yaitu Paguyuban Seni Jathilan Wahyu Turonggo Langit yang tempat latihannya di Dukuh Pundung, Desa Ceporan.

Bacaan Lainnya

Wahyu Turonggo Langit ini merupakan hasil “kolaborasi” antara Wahyu Turonggo Jati dengan Sanggar Tari Sekar Langit Dukuh Gamelan, Desa Ceporan yang merupakan binaan dari instruktur tari kondang, Marta Endang. Selama ini, Sanggar Tari Sekar Langit juga melatih seni karawitan dan ketoprak.

Jathilan Wahyu Turonggo Langit ini dipangarsani oleh Agustinus Frankosa, pengusaha persewaan tenda dan sound system “Sabda Dadi” Pundung.

Ketua Paguyuban Seni Jathilan Wahyu Turonggo Jati, Oki Renanto menyampaikan, Jathilan Wahyu Turonggo Jati ini berdri pada tahun 2016, atau sekitar tiga tahun yang lalu. Awalnya, para pemain Wahyu Turonggo Jati ini ikut bergabung dengan Jathilan Turonggo Muda di Dukuh Sengonkerep, Desa Sampang. Namun karena Jathilan Turonggo Muda ini lama vakum, maka para pemain yang berasal dari Desa Serut berniat untuk mendirikan paguyuban jathilan sendiri.

“Awalnya, kami didukung oleh pemain-pemain Turonggo Mudo. Bahkan, kami juga dipinjami alat-alatnya. Pemain-pemain dari Turonggo Mudo juga sering ikut main ketika kami mendapat tanggapan. Akhirnya, berdirilah Wahyu Turonggo Jati ini,” katanya.

Oki Renanto menjelaskan, Wahyu Turonggo Jati ini didirikan oleh Agus Subardo dan kawan-kawan. Subardo didukung penuh oleh para alumni SMP Pangudi Luhur Wedi tahun 1986, seperti Budi Nugroho, Frankosa, Riyadi, Novi, dan lainnya. Karena alasan untuk regenerasi, maka Agus Subardo kini menjadi sesepuh. Sedang ketua dipegang Oki Renanto.

“Kami mengadakan latihan secara rutin setiap Sabtu malam atau malam Minggu di rumah Mas Agung Subardo di Rejosari. Jumlah pemain dan pengiring sekitar 70 orang. Kami pernah ditanggap di sekitar Kabupaten Klaten dan Gunungkidul. Kami biasa main pada saat hari libur. Karena sebagian pemain masih bersekolah,” ujarnya.

Oki menyatakan, mereka tertarik menekuni seni jathilan ini karena mengikuti alur zaman. Di jathilan itu orang muda dan orang tua bisa menjadi satu. Mereka bisa bermain bersama. Penonton pun dapat menikmati seni ini dengan nyaman, dan tidak ada keributan.

“Di jathilan itu kita lebih banyak berkorban atau keluar dana. Karena tidak bayaran. Tetapi itu asyik, dan sangat menyenangkan. Karena seneng kuwi ora ana regane,” ucapnya.

Oki menyambut baik berdirinya Wahyu Turonggo Langit. Ini menandakan bahwa seni jathilan itu berkembang baik. Apalagi pemainnya masih banyak yang usia anak-anak dan remaja.

Penampilan dari Sanggar Tari Sekar Langit.

Sementara itu Ketua Wahyu Turonggo Langit, Agustinus Frankosa mengatakan, mereka mengadakan latihan rutin setiap Sabtu malam. Jumlah anggotanya sekitar 75 orang yang berasal dari Ceporan, Jogonalan, Kerten, Bometen, Serut, dan lainnya. Anggotanya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa.

“Tujuan pendirian Wahyu Turonggo Langit ini untuk melestarikan kesenian, menghibur masyarakat, dan menghibur mereka yang membutuhkan (menanggap). Kalau dilihat dari segi keuntungan, ya nggak masuk. Kami hanya ingin nguri-uri budaya Jawi,” tandasnya.

Pentas jathilan dalam rangka peringatan HUT ke 3 Wahyu Turonggo Jati menampilkan tiga live performance atau penampilan langsung, yaitu dari Sanggar Tari Sekar Langit, Wahyu Turonggo Langit, dan Wahyu Turonggo Jati.

Penampilan ketiga kelompok seni ini disambut baik oleh masyarakat. Ratusan orang dari berbagai daerah tumplek blek memadati arena pentas. Bahkan sejumlah perantau menyempatkan datang untuk menonton atraksi mereka. Warga merasa sangat terhibur.

Tak hanya itu, pentas jathilan ini juga memberi rejeki bagi warga sekitar. Warga berjualan aneka makanan dan minuman, dan semuanya laris manis. Warga juga mendapatkan penghasilan dari membuka jasa parkir.

Pos terkait

1 Komentar

Komentar ditutup.