WartaKita.org – Masyarakat diajak untuk mencintai uang rupiah. Mengapa? Karena uang itu adalah simbol negara.
Ajakan itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Solo Bandoe Widiarto saat menghadiri sosialisasi dan pengedaran uang rupiah tahun emisi 2016 di Gedung Serbaguna Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Rabu (7/3/2018).
“Lantas, bagaimana caranya kita mencintai uang rupiah? Caranya bermacam-macam. Misalnya, uang itu jangan dicorat-coret, jangan dilipat, jangan disteples, jangan digambari, jangan dijadikan hiasan untuk mas kawin, dan sebagainya,” katanya.
Sosialisasi dan pengedaran uang rupiah ini diselenggarakan oleh Endang Srikarti Handayani (ESH) Center bekerjasama dengan Bank Indonesia. Sosialisasi ini menghadirkan pembicara dari Bank Indonesia Pusat, Firdaus. Sedang peserta sosialisasi adalah para Kepala Desa, BUMDes, dan tokoh masyarakat se Solo Raya.
Bandoe Widiarto menambahkan, salah satu tugas Bank Indonesia yakni menjaga uang emisi tahun 2016 mulai dari pecahan 100 rupiah hingga uang kertas seratus ribu rupiah agar tidak dipalsukan, dicoret, atau tindakan yang dilarang lainnya.
“Melalui sosialisasi seperti yang kita lakukan bekerjasama dengan Ibu Endang Srikarti Handayani ini sebagai upaya pencegahan pemalsuan dan pengedaran uang. Karena bagi siapapun yang mencetak dan mengedarkan uang palsu akan dijerat dengan Undang–Undang tentang Mata Uang dengan ancaman hukuman seumur hidup,” tandasnya.
Pada sosialisasi ini Firdaus menjelaskan seputar bagaimana cara mengetahui ciri keaslian uang rupiah tahun emisi 2016.
“Untuk mengetahui keaslian uang rupiah caranya sederhana, yaitu dengan dilihat, diraba, dan diterawang. Juga bisa dengan menggunakan kaca pembesar,” terangnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI dari Partai Golkar Endang Srikarti Handayani yang hadir sebagai keynote speaker dalam sosialisasi tersebut mengajak peserta untuk lebih jeli dalam mengenali uang asli. Ini dimaksudkan agar masyarakat jangan sampai mendapatkan uang palsu gara-gara tidak dapat mengenali uang yang asli dan uang yang palsu.
“Dalam sosialisasi ini saya mempertemukan rakyat dengan Bank Indonesia untuk memberikan sosialisasi uang rupiah tahun emisi 2016. Tujuannya agar rakyat saya tidak tertipu dengan uang palsu,” harapnya.









