Cegah Kekerasan Berbasis Gender Dan Redam Penyebaran Narasi Ekstrem, Wahid Foundation Latih 40 Pegiat Desa Damai Di Jawa Tengah

Training Akses Perempuan Terhadap Keadilan di Masa Krisis Pandemi Covid-19 Bagi Kelompok Kerja Desa Damai Wilayah Jawa Tengah, Kamis sampai Jumat (15-16/7/2021).

WartaKita.org – Wahid Foundation kembali melakukan pembinaan terhadap Kelompok Kerja (Pokja) Aktivis Desa Damai di wilayah Jawa Tengah untuk meningkatkan kapasitas terkait akses perempuan terhadap keadilan.

Pembinaan tersebut dilaksanakan melalui Training Akses Perempuan Terhadap Keadilan di Masa Krisis Pandemi Covid-19 Bagi Kelompok Kerja Desa Damai Wilayah Jawa Tengah dengan tema “Memperkuat Mekanisme Jaminan Perlindungan Bagi Kelompok Perempuan di Masa Krisis Pandemi Covid-19”.

Bacaan Lainnya

Training ini merupakan kelanjutan dari training sebelumnya yang pernah dilaksanakan di Solo pada Bulan Maret lalu, yaitu training Pencegahan Ekstremisme dan Literasi Hukum Kelompok Kerja (Pokja) Desa/Kelurahan Damai Wilayah Jawa Tengah.

Namun, karena situasi pandemi yang belum usai, training kali ini dilaksanakan secara online melalui platform Zoom selama dua hari, yaitu pada Kamis sampai Jumat (15-16/7/2021).

Direktur Ekskutif Wahid Foundation Mujtaba Hamdi yang berkesempatan membuka sekaligus memberikan sambutan pada training tersebut mengatakan, fungsi dari training tersebut bukan sekadar training saja. Akan tetapi juga sebagai forum untuk saling menguatkan satu sama lain di tengah masa pandemi yang sulit ini.

“Forum ini fungsinya bukan sekadar training saja. Akan tetapi juga menjadi forum untuk saling menguatkan satu sama lain di masa sulit di tengah pandemi ini. Tentu kita semua berharap, pandemi ini bisa cepat berlalu,” katanya.

Mujtaba Hamdi menyampaikan, training ini juga bertujuan untuk memberikan wawasan terkait aspek legal dan formal dalam pencegahan ekstremisme kekerasan dan promosi kesetaraan gender, sehingga Pokja Desa Damai diharapkan akan memiliki pengetahuan hingga keterampilan tentang aspek Hukum dan HAM dalam penyelesaian kasus atau sengketa secara formal maupun informal.

“Jika kesadaran hukum bisa terbangun dan perempuan mendapatkan jaminan perlindungan serta peran yang setara, maka secara otomatis akan mereduksi pandangan ekstrem di tengah masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, imbuh Hamdi, selama pandemi ini berlangsung, tantangan sosial berupa kekerasan berbasis gender yang lebih banyak mengorbankan perempuan dan juga bertebarannya narasi-narasi ekstrem yang menentang keberadaan virus dan vaksin semangkin meningkat.

“Oleh karena itu, training ini hendak memberikan pembekalan kepada Pokja bagaimana mengatasi ancaman dan risiko tersebut, sekaligus upaya proteksi bagi kelompok rentan terdampak di wilayah kerja Program Desa Damai Wahid Foundation,” tandasnya.

Sementara itu salah satu peserta training, Vita yang juga salah satu pegiat pemuda di Desa Damai menyatakan antusiasnya mengikuti training tersebut.

“Saya sangat senang mengikuti training ini karena bisa menambah pengetahuan tentang hukum. Dan saya juga jadi tahu harus melakukan apa untuk mencegah kekerasan berbasis gender dan mencegah penyebaran narasi hoax soal pandemi Covid-19,” ucapnya.

Vita berharap, Wahid Foundation bisa menyelenggarakan training yang sama ke depannya supaya lebih bisa berdampak dan bermanfaat bagi Desa Damai binaan Wahid Foundation.

Turut hadir sebagai pembicara dalam training tersebut yaitu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah Retno Sudewi, dan sejumlah pembicara lain dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Semarang dan Jakarta.

Sedang peserta training berjumlah 40 orang perwakilan dari beberapa Pokja Desa Damai Binaan Wahid Foundation, yaitu Desa Nglinggi, Desa Jetis, Desa Gemblegan (Kabupaten Klaten), Desa Telukan (Kabupaten Sukoharjo), dan Kelurahan Tipes (Kota Surakarta).

Pos terkait