Cegah Dan Tangani Stunting, Ini Yang Akan Dilakukan Pemdes Kalitengah, Wedi

Peserta Rembug Stunting di Desa Kalitengah berfoto bersama di Gedung Olah Raga (GOR) desa setempat, Senin (18/7/2022).

WartaKita.org – Pemerintah Desa (Pemdes) Kalitengah, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten menggelar Rembug Stunting di Gedung Olah Raga (GOR) desa setempat, Senin (18/7/2022).

Rembug stunting merupakan salah satu rangkaian pra musyawarah desa (Musdes) untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa tahun 2023 dan juga menjadi amanat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten terhadap Pemerintah Desa agar memprioritaskan penggunaan dana desa tahun 2023 untuk pencegahan dan penanganan stunting.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa (Kades) Kalitengah Hariyadi dalam sambutan menyampaikan, setiap desa di Kecamatan Wedi wajib atau harus mengadakan rembung stunting.

“Rembug stunting  ini penting dilakukan untuk mencegah dan menangani stunting. Karena itu, semua pemangku kepentingan perlu memantau (stunting). Kalau ada anak yang terindikasi stunting, maka perlu diberi gizi yang lebih baik agar pertumbuhan anak menjadi baik dan ideal,” katanya.

Kades Hariyadi menyatakan, rembug stunting ini diikuti oleh Kader Posyandu, Bidan Desa, Guru PAUD, KPM atau perwakilan RDS, Pemerintah Desa, BPD, PKK, TPK, Tokoh Masyarakat, KPMD, PKH, Karang Taruna, PKH, Pamsimas, Difabel, KWT, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perwakilan Ketua RT, Ketua RW, dan sebagainya.

Sedang Pendamping Desa Kecamatan Wedi, Fransisca Nuri Handayani dalam paparan menjelaskan, ada sejumlah permasalahan gizi di Kabupaten Klaten.

Diantaranya adalah balita stunting mencapai 15,8 persen (SSGI, 2021), kasus balita 2 kali penimbangan tidak naik (3611), BGM (663), dan balita gizi buruk 112, Bumil (ibu hamil) Kekurangan Energi Kronis atau KEK (542) atau 8,9 persen, Bumil Anemia (768) 12,98 persen, Berat Badan Lahir Rendah atau BBLR (349) atau 6,4 persen, pemberdayaan masyarakat masih rendah, masih ada 14 persen bayi tidak mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih kurang.

“Untuk pencegahan dan penanganan stunting, maka perlu ada sasaran prioritas, seperti remaja putri, calon pengantin, wanita usia subur, ibu hamil, ibu melahirkan, ibu masa nifas, baduta (bawah dua tahun), dan balita (bawah lima tahun),” terangnya.

Usai pemaparan materi, kemudian dilakukan diskusi kelompok. Dalam diskusi tersebut, masing-masing kelompok merancang program kegiatan dan anggaran untuk pencegahan dan penanganan stunting.

Di kelompok atau bidang kesehatan diusulkan program makanan tambahan untuk Baduta berisiko stunting, kegiatan kelas ibu hamil, pemulihan ibu hamil (KEK), kegiatan kelas Balita, kegiatan rembug stunting, pelaksanaan Posyandu Remaja, sosialisasi kader stunting, pendataan Balita keluarga miskin, refresh PMBA, Posyandu Balita, Posbindu, pemberian transport untuk KPM dan SKD, pendampingan calon pengantin (catin), pertemuan PKK, Jumantik, serta imunisasi bian atau massal.

Sedang di kelompok 3 diusulkan kegiatan pembagian bibit sayuran per Posyandu, kegiatan Posyandu Remaja, pemberian obat anemia, sosialisasi Posyandu Remaja, kegiatan bimbingan pra nikah, dan kegiatan bimbingan keluarga sakinah untuk pengantin baru.

Pos terkait