WartaKita.org – Jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap melakukan kunjungan ke Kelompok Tani Brayat Sata Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten untuk belajar mengenai budidaya tanaman tembakau pada Jumat (1/12/2023) sore.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Mlati Asih Budiarti menyampaikan, kunjungan ini untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di bidang pertanian, khususnya untuk tanaman tembakau.
“Kunjungan ini untuk belajar terkait budidaya tanaman tembakau yang ada di sini. Harapannya, kedepan, apa yang kami dapat di sini bisa kami terapkan di Cilacap. Apalagi Kelompok Tani Brayat Sata ini sudah bisa menembus pasar ekspor tembakau sejak bertahun-tahun yang lalu,” katanya.
Mlati Asih Budiarti berharap, dari kunjungan ini, Kelompok Tani Brayat Sata bisa bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) atau petani Cilacap untuk mengembangkan tembakau di sana.
“Karena sudah ada pasar, maka bisa mempermudah kita dalam mengembangkan tembakau di Cilacap. Tentunya dengan varietas-varietas unggul seperti Kentucky dan Grompol Jatim. Kita bisa mengenalkan kepada petani. Karena tembakau yang dikembangkan (di Cilacap) baru tembakau unggul lokal, dan pasarnya masih lokal. Dan ternyata pasarnya belum bisa lancar,” ujarnya.
Mlati menjelaskan, potensi untuk pengembangan tanaman tembakau di Cilacap ini masih terbuka lebar. Karena lahan pertanian di Kabupaten Cilacap yang berupa sawah ada sekitar 66.500 hektar. Sedangkan yang bukan sawah ada sekitar 105.000 hektar. Saat ini, tanaman tembakau baru dikembangkan di sekitar 104 hektar di 9 kecamatan.
“Maka, saya rasa, secara bertahap, kami yakin. Tanaman padi tetap jalan. Dan di sisi lain, petani bisa menambah pendapatan dengan menanam tembakau. Jadi tidak mengurangi target produksi padi nasional (untuk Kabupaten Cilacap),” terangnya.
Sedang Sub Koordinator Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten Anjar menyambut baik kunjungan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap ke Kelompok Tani Brayat Sata untuk belajar mengenai budidaya tanaman tembakau.
“Di Kabupaten Klaten ini ada 16 kecamatan yang mengembangkan tembakau rakyat. Ini minus 2 kecamatan yang mengembangkan tembakau TBN (tembakau bawah naungan), yaitu Kecamatan Wedi dan Kebonarum. Dan salah satu kelompok tani yang mengembangkan tembakau rakyat itu adalah Kelompok Tani Brayat Sata yang dipimpin Pak Juwandi ini,” ungkapnya.
Anjar menambahkan, selama ini kendala yang dialami petani adalah pemasaran hasil. Selain itu, kendala pada pengolahan lahan sampai pasca panen.
“Nah, Pak Juwandi ini sudah punya pasar (tembakau) yang jelas. Sedang untuk pengolahan lahan sampai pasca panen, bapak, ibu bisa belajar banyak dengan Pak Juwandi. Ini memang sesuatu yang baru. Tetapi biasanya, kalau petani itu sudah tahu hasilnya, pasti akan berminat,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Brayat Sata, Juwandi mengatakan, tanaman tembakau bisa menjadi penopang ketahanan pangan. Apalagi bagi wilayah yang menerapkan sistem tanam: padi, padi, palawija atau tembakau. Sebab, tanaman tembakau itu bisa memutus siklus hidup hama atau wereng yang sering mengganggu tanaman padi.
“Prinsipnya, tanam tembakau itu sederhana dan mudah. Butuh air, tetapi juga nggak mau air yang berlebihan. Maka masalah drainase atau pembuangan air harus diperhatikan. Agar tanaman tembakau tidak bacek atau mati,” jelasnya.
Juwandi mengutarakan, pada tahun 2023 ini, permintaan tembakau DFC (Dark Fire-Cured) atau tembakau asepan untuk Klaten saja mencapai 15 ribu sampai 20 ribu ton. Dan permintaan tembakau itu tidak mungkin terpenuhi. Karena pemilik brand (merk) tembakau DFC sampai sekarang itu adalah Klaten dan Boyolali.
“Kalau melihat sirkulasi uangnya ya luar biasa. Karena bisa mencapai Rp2 triliun. Jadi nilai ekonominya sangat besar. Sehingga rakyat bisa sejahtera,” tegasnya.
Pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah ini menyatakan, pihaknya menyambut baik ajakan kerjasama dari Pemkab Cilacap tersebut.
“Intinya, dalam kerjasama itu harus ada simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan. Maka, petani, pelaku lainnya, dan pengusaha tembakau itu harus sama-sama untung. Karena itu, saya siap membimbing petani untuk menanam tembakau dengan membuat demplot beberapa hektar. Lalu hasilnya kita bantu pasarkan. Sebab ada alokasi DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) untuk peningkatan bahan baku,” paparnya.









