WartaKita.org – Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia (FPBI) Kabupaten Klaten menggelar Forum Group Discussion (FGD) di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten, Selasa (29/12/2020).
FGD ini menampilkan tiga narasumber, yaitu Ketua FPBI Klaten yang juga mantan Rektor Unwidha Klaten Sumargana, tokoh masyarakat yang juga mantan Sekretaris Dinas Budparpora Kabupaten Klaten Lugtyastono Budi Nugroho, dan Kepala Seksi Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kantor Kesbangpol Kabupaten Klaten Cahyono Sudibyo.
Ketua FPBI Kabupaten Klaten Sumargana kepada media menyampaikan, FPBI adalah wadah berhimpunnya segenap komponen bangsa yang berwawasan kebangsaan dengan semangat patriotisme dan menghormati kemajemukan Bangsa Indonesia.
“Kegiatan FGD ini merupakan implementasi dari program kerja FPBI Klaten tahun ini. FGD ini mengusung tema “Merajut kebhinekaan dan toleransi di era new normal untuk memperkuat sinergitas Pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Klaten”. Tema ini sejalan dengan permasalahan dan perkembangan yang dihadapi oleh masyarakat Klaten dan Indonesia sekarang ini,” katanya.
Dalam pemaparan materi, mantan Rektor Unwidha Klaten Sumargana menyampaikan, belakangan ini, kebhinekaan dan kemajukan bangsa Indonesia terus diuji.
“Karena itu, untuk membangun Indonesia diperlukan komitmen kebangsaan yang kuat dan harus berdasarkan pada 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.
Sumargana menyatakan, saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan, yaitu pandemi Covid-19, radikalisme, terorisme, intoleransi, anti NKRI, anti Pancasila, dan bahkan anti Pemerintah yang sah. Menurutnya, permasalahan ini merupakan dinamika atau riak-riak sisa dari tahun politik yang berhubungan dengan Pilkada, Pilpres, dan Pileg.
“Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, maka diperlukan teologi kerukunan. Ini merupakan salah satu cara, bahwa kita tidak hanya hidup damai, tetapi tidak saling berkomunikasi. Tetapi yang kita harapkan, justru hidup damai, berdampingan, saling membantu, saling menolong, dan gotong-royong. Nah, inilah yang kita harapkan, bukan damai yang terpisah-pisah sendiri, tetapi yang saling berkomunikasi, silaturahmi, dan tolong-menolong,” harapnya.
Sedang mantan Sekretaris Dinas Budparpora Kabupaten Klaten Lugtyastono Budi Nugroho menjelaskan, pandemi Covid-19 telah berdampak positif dan negatif pada kehidupan masyarakat.
“Salah satu dampak negatifnya, pelajar terpaksa harus belajar daring atau online. Karena kegiatan belajar mengajar secara langsung atau tatap muka belum diperbolehkan. Tetapi dampak positifnya, mereka yang kreatif bisa berjualan online, jadi YouTuber, dan lainnya. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita mau mematuhi protokol kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Seksi Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kantor Kesbangpol Kabupaten Klaten Cahyono Sudibyo mengatakan, sebagai negara yang majemuk, Indonesia butuh perekat atau pemersatu, yaitu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Jadi, meskipun kita berbeda-beda, baik itu suku, agama, budaya, dan lainnya, tetapi kita tetap satu juga. Maka, kita harus tetap menjaga Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,” pesannya.









