FENOMENA NEET (Not in Education, Employment, or Training) semakin mencuat di kalangan generasi Z di Indonesia.
NEET merujuk pada individu berusia 15 hingga 24 tahun yang tidak sedang bekerja, bersekolah, atau mengikuti pelatihan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena dapat berdampak negatif pada perkembangan ekonomi nasional dan kesejahteraan sosial.
Berdasarkan data dari satudata.kemenaker.go.id dari 44,47 juta orang anak muda (usia 15 – 24 tahun) di Indonesia pada periode Agustus 2023, sekitar 22,25 persen termasuk ke dalam kategori NEET atau tidak bersekolah, tidak bekerja, juga tidak sedang mengikuti pelatihan. Persentase ini menurun sekitar 0,97 persen dibandingkan periode Agustus 2022.
Dari berbagai sumber dan fenomena mengenai NEET, penulis merumuskan ada beberapa faktor penyebab NEET.
Pertama, berkaitan dengan pendidikan rendah dan putus sekolah.
Pemuda dengan tingkat pendidikan rendah lebih rentan menjadi NEET. Alasan utama putus sekolah meliputi kehilangan minat, kurangnya dukungan sosial, dan hubungan buruk dengan guru atau orangtua. Selain itu, kesehatan buruk dan disabilitas juga meningkatkan kemungkinan menjadi NEET.
Dalam konteks tersebut, penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan suportif bagi semua siswa. Kurikulum yang relevan dan menarik, serta dukungan yang memadai dari tenaga pengajar termasuk di dalamnya adalah menaruh perhatian pada kasus bullying, dapat mendorong pemuda untuk tetap bersekolah dan mengurangi risiko menjadi NEET.
Selain itu, akses yang lebih baik ke layanan kesehatan dan dukungan psikologis bagi siswa yang mengalami masalah kesehatan atau disabilitas dapat membantu mencegah mereka keluar dari sistem pendidikan.
Kedua, mengenai kesehatan mental dan emosional.
Kondisi NEET sering dikaitkan dengan pandangan negatif tentang masa depan dan rendahnya keterampilan lunak. Studi menunjukkan bahwa rendahnya harga diri, locus of control eksternal, dan kurangnya aspirasi kerja meningkatkan risiko menjadi NEET. Faktor-faktor ini mengakibatkan penurunan motivasi dan keterlibatan pendidikan, yang dapat memperparah status NEET.
Oleh karena itu, penting untuk memberikan dukungan psikologis yang memadai bagi pemuda, seperti konseling dan program pengembangan keterampilan sosial. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan pemuda dan mengintegrasikan program-program kesejahteraan emosional dalam sistem pendidikan dapat membantu mengurangi risiko NEET dan meningkatkan kesejahteraan keseluruhan. Perlu digarisbawahi juga bahwa pemuda sekarang harus dibekali dengan semangat juang dan kompetensi, sehingga tidak sering mengeluh dan lebih tangguh menghadapi dunia kerja.
Faktor penyebab NEET yang ketiga adalah dampak sosial dan ekonomi.
Kondisi NEET memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, baik bagi individu maupun ekonomi nasional. Pemuda yang berada dalam kategori NEET berisiko mengalami penurunan pendapatan sepanjang hidup, ketidakstabilan pekerjaan, serta masalah kesehatan dan perilaku anti sosial. Efek “scarring” dari status NEET juga dapat mengurangi adaptabilitas dan peluang mereka di pasar kerja yang dinamis.
Dalam upaya untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan upaya terpadu dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan organisasi non-pemerintah, untuk menciptakan lapangan kerja yang inklusif dan berkelanjutan.
Program pelatihan kerja dan magang yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja dapat membantu pemuda NEET memperoleh keterampilan yang relevan dan meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dan berkelanjutan.
Berdasarkan ketiga faktor tersebut, dapat dirumuskan beberapa upaya untuk penanggulangan NEET yaitu dengan pendidikan dan pelatihan.
Pendidikan memainkan peran penting dalam mengurangi risiko NEET. Menurunkan angka putus sekolah dini dan meningkatkan keterampilan pembelajaran mandiri dapat membantu mengembalikan pemuda ke jalur pendidikan dan mendukung pendidikan berkelanjutan. Program pelatihan vokasional dan magang juga penting untuk memberikan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Upaya yang kedua adalah dengan adanya dukungan psikologis dan sosial. Penting untuk menyediakan dukungan psikologis dan sosial yang memadai bagi pemuda NEET. Meningkatkan hubungan dengan keluarga dan komunitas serta menyediakan layanan kesehatan mental dapat membantu meningkatkan harga diri dan motivasi mereka. Karier planning yang tepat juga dapat membantu individu menilai kemampuan dan minat mereka, serta merencanakan langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan karier.
Upaya ketiga yaitu dengan adanya kebijakan ketenagakerjaan dan sosial. Pemerintah perlu mengembangkan model komprehensif untuk mengurangi jumlah NEET dengan menggabungkan tiga komponen utama: pekerjaan produktif, pendidikan pasca-industri, dan pembangunan inklusif. Kebijakan ketenagakerjaan yang mendukung penciptaan lapangan kerja bagi pemuda serta insentif bagi perusahaan yang merekrut dan melatih pekerja muda dapat menjadi langkah efektif.
Januari Ayu Fridayani
Dosen Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi
Universitas Sanata Dharma









