Anak Perlu Diajarkan Kesantunan Berbahasa Sejak Dini

Anak-anak perlu diajarkan kesantunan berbahasa sejak dini.

INDONESIA merupakan negara yang dikenal dengan sopan santunnya.

Di era yang semakin modern ini, kesantunan berbahasa mengalami penurunan dalam penuturannya. Masyarakat lebih memilih menggunakan bahasa yang gaul karena menganggap bahasa tersebut keren dan milenial. Seseorang yang masih menggunakan bahasa yang santun mudah dikatakan kuno.

Padahal ketika berbicara harus mengedepankan adab sehingga kesantunan berbahasa harus lebih diperhatikan. Pengajaran kesantunan berbahasa pun sepertinya juga mulai memudar.

Dewasa ini tidak sedikit orang tua yang mengajarkan kesantunan berbahasa kepada anaknya sejak usia dini. Ini diharapkan agar anaknya nanti bisa berbicara dengan baik dan sopan.

Sejumlah orang berpendapat bahwa kesantunan anak dalam berbahasa dipengaruhi oleh lingkungannya. Ketika anak bergaul dengan orang-orang yang memiliki tutur kata yang baik, ia akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik pula. Sebaliknya, ketika anak mendapati pergaulan yang kurang baik, maka tutur bicaranya juga akan mengikuti orang-orang tersebut.

Pendapat lain juga menyatakan bahwa orangtua merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam cara berbicara anak. Anak akan menangkap segala perkataan dan perbuatan ayah dan ibunya, dan kemudian menirukannya.

Dalam bermasyarakat, sering dijumpai terdapat percakapan antara seorang anak yang berusia remaja dengan orang yang lebih tua. Anak remaja tersebut terlihat kurang sopan ketika berbicara kepada lawan bicaranya, seperti melontarkan kata-kata yang kurang berkenan di hati lawan bicaranya. Sedikit remaja yang menyadari akan kejadian tersebut. Padahal hal itu sangat sering dijumpai di sekitar mereka.

Agama juga telah mengajarkan bahwa adab lebih mulia daripada ilmu. Orang yang beradab pasti berilmu, tetapi orang berilmu belum tentu memiliki adab. Oleh sebab itu, pengajaran dalam kesantunan berbahasa merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap orangtua sejak anak masih berusia dini.

Ada sejumlah kesantunan berbahasa dalam bahasa Indonesia. Seperti ungkapan “maaf, tolong, dan terima kasih”.

Meskipun merasa tidak ada kesalahan, sebaiknya kata “maaf” harus selalu diucapkan supaya ketika mendapati suatu ketidaknyamanan, lawan bicara akan dapat lebih menerima apa yang kita ucapkan.

Saat hendak meminta bantuan, sebaiknya kita menggunakan kata “tolong”. Dalam penggunaan kata tersebut, lawan bicara akan merasa dihargai. Tanpa menggunakan kata “tolong”, secara tidak langsung kita terkesan menyuruh lawan bicara untuk melakukan sesuatu. Misalnya “ambilkan air minum”.

Kalimat tersebut terkesan menyuruh seseorang untuk mengambilkan air minum untuk kita, dan tidak semua orang dapat menerima perkataan tersebut dengan baik. Dengan menghadirkan kata “tolong”, maka lawan bicara lebih merasa dimintai bantuan, sehingga ia dapat melakukan hal tersebut dengan besar hati.

Kemudian, ketika telah diberikan bantuan oleh orang lain, tidak lupa kita harus mengucapkan kata “terima kasih”. Ucapan terima kasih membuat lawan bicara merasa lebih dihargai dan diapresiasi atas bantuannya. Contoh kalimat dengan menggunakan ketiga ungkapan tersebut, yaitu “Maaf, tolong ambilkan air minum. Terima kasih.”

Kalimat tersebut lebih nyaman didengarkan karena secara tidak langsung dapat menghargai lawan bicara. Dengan demikian, komunikasi akan berjalan dengan baik dan tidak akan menyinggung satu sama lain.

Pembiasaan mengucapkan kata “maaf, tolong, dan terima kasih” harus diajarkan kepada anak sejak ia masih kecil. Supaya anak akan tumbuh menjadi seseorang yang berperilaku bijaksana, saling menghormati antar sesama, dan dipandang sebagai anak yang beretika baik.

Ketiga ungkapan tersebut sangat sederhana, namun sering dilalaikan oleh sebagian masyarakat. Sebagian orang tidak menyadari bahwa ketika dalam berinteraksi, mereka tidak merasa bersalah dalam menuturkan perkataan. Padahal, belum tentu lawan bicaranya dapat menerima perkataannya dengan lapang.

Pengajaran kesantunan berbahasa harus dimulai ketika anak akan belajar berbicara. Dan orangtua merupakan sosok yang sangat mempengaruhi pola pikir anak. Ketika orangtua berbicara dengan santun, anak akan mencoba menirukannya. Anak akan belajar mengucapkan satu kata demi satu kata, hingga membentuk suatu kalimat.

Ketika anak hendak meminta bantuan, orang tua sebaiknya mengajarkan anak dengan menggunakan kata “tolong”. Ketika melakukan kesalahan mengucapkan kata “maaf”. Dan ketika mendapatkan sesuatu mengucapkan “terima kasih”. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang memiliki sopan santun ketika berinteraksi dengan orang lain.

Orangtua harus mengawasi anak dalam menjaga pergaulan mereka. Saat anak telah memasuki usia empat tahun, ia akan menjumpai lingkungan baru, yaitu lingkungan sekolah.

Dalam lingkungan tersebut, pasti terdapat anak yang memiliki latar belakang keluarga yang berbeda-beda sehingga perkembangan bahasanya juga bermacam-macam. Anak akan mudah terpengaruh ketika bertutur kata karena mereka akan mendapati kosakata baru, baik itu kosakata yang sopan atau kosakata yang kurang sopan. Pada usia tersebut, anak mudah meniru sesuatu yang diucapkan orang lain, apalagi teman sebayanya. Oleh karena itu, peran orangtua sangat penting dalam memilah dan memilih perkembangan bahasa pada anak.

Jadi, pengajaran kesantunan berbahasa dalam bahasa Indonesia harus diajarkan kepada anak sejak mereka akan belajar berbicara. Saat ini, kesantunan berbahasa mulai menurun. Lingkungan anak akan sangat mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Mereka akan mudah menangkap dan meniru segala hal yang mereka lihat dan dengar. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam proses perkembangan bahasa pada anak.

 

Ahmad Jauhar Badruz Zaman

Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

UIN Raden Mas Said Surakarta

 

Pos terkait