WartaKita.org – Sekolah Krista Gracia Klaten menggelar pentas seni berbentuk drama musikal yang bertajuk “Indonesia Rumah Kita” di aula sekolah setempat pada Sabtu (2/3/2024) pukul 17.00 sore.
Dalam pentas drama musikal ini, Sekolah Krista Gracia Klaten bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Ketua panatia yang juga Kepala SMP Krista Gracia Klaten, Kris Setyanto menyampaikan, pementasan drama musikal ini menjadi sebuah media pembelajaran yang tepat untuk melakukan praktik baik melalui pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL).
“Dalam kegiatan drama musikal ini, anak-anak diajak untuk terlibat langsung dalam penggarapan, mulai dari persiapan sampai pada pelaksanaan. Bahkan, 80 persen dari urusan drama musikal ini ditangani oleh anak-anak,” katanya.
Kris Setyanto menyatakan, pentas drama musikal itu menjadi ajang bagi sekolah untuk menghadirkan kembali eksistensi pentas seni yang selama ini menjadi ikon dan deferensiasi Sekolah Krista Gracia Klaten di bidang pengembangan seni budaya.
“Kegiatan pentas seni tahun 2024 ini mengambil tema keberagaman dan nasionalisme yang dikemas dalam bentuk Drama Musikal bertajuk “Indonesia Rumah Kita”. Dalam pentas drama musikal kali ini, kami bekerjasama dengan ISI Yogyakarta. Kami berharap, kerjasama ini menghasilkan sebuah kolaborasi garapan pementasan drama musikal yang apik, spektakuler, serta sarat dengan nilai-nilai pluralisme dan layak untuk ditonton,” harapnya.

Sedang Tim Artistik yang juga Dosen Seni Musik ISI Yogyakarta, Singgih Sanjaya mengaku senang bisa bekerjasama dengan Sekolah Krista Gracia Klaten dalam pementasan drama musikal ini.
“Ini menarik. Karena benar-benar original. Karya-karya baru, lirik dari skenario baru, aransemen baru, lagu baru, dan adegannya juga baru. Awalnya kita memang belum tahu, dan agak menduga-duga sedikit. Walaupun akhirnya, kita bisa lakukan itu karena semuanya siap. Sempat nggak mudah juga, karena harus mempelajari skenarionya. Beberapa kali mencoba menginterpretasi, lalu membuat lagu-lagu yang disesuaikan,” ungkapnya.
Composer, Arranger dan Conductor musik di banyak event ini menjelaskan, ada berbagai campuran musik dalam pementasan drama musikal tersebut.
“Ada (musik) Cina, ada Jawa. Ada iringan gamelan Jawa yang dimainkan oleh siswa-siswa di sekolah ini yang dilatih Mas Septiawan (Kurniadi). Sedang untuk iringan musik lainnya dari ISI Yogyakarta. Kami melibatkan 20 pemusik, di luar saya. Ini sangat menyenangkan. Maka saya mengapresiasi dan berterima kasih bisa diajak berkolaborasi dalam pementasan drama musikal ini. Skenarionya hebat itu,” paparnya.
Singgih Sanjaya menambahkan, drama musikal bertajuk “Indonesia Rumah Kita” ini merupakan cerita baru yang sangat bermakna untuk pendidikan karakter anak.
“Temanya untuk pembauran. Ya khususnya etnis Cina dan Jawa, dan etnis lainnya. Itu bagus sekali ide ceritanya. Maka saya berharap, kedepan ada tema-tema yang lain. Saya yakin, sekolah ini bisa kok. Karena Sekolah Krista Gracia Klaten ini kan sekolah unggulan,” tandasnya.

Sementara itu Bagian Litbang Sekolah Krista Gracia Klaten, Edy Sulistyanto mengemukakan, pentas drama musikal ini sengaja mengambil cerita dari sejarah kehidupan nyata, bukan dari legenda.
“Ini misinya sangat sarat makna. Ada beberapa narasi sejarah yang terpinggirkan itu kami munculkan. Supaya anak-anak generasi muda kita itu tidak “buta sejarah”. Jan-jane piye to (sebenarnya bagaimana) sejarah bangsa kita itu? Jadi, kita mencoba sedikit menguak sejarah bangsa ini,” tuturnya.
Bos Amigo Group ini berpesan kepada masyarakat untuk “jasmerah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dan agar kedepan, jangan sampai terulang lagi kesalahan-kesalahan bangsa ini dalam perjalanan sejarahnya.
“(sejarah itu) Tidak perlu dibelok-belokkan. Tidak perlu dihilangkan. Kalau salah ya ndak apa-apa. Karena kita akan belajar dari situ. Memang kadang-kadang pahit to, masalah sejarah bangsa kita. Seperti Nazi Jerman. Itu juga pernah berbuat salah, dan mengakui,” ucap Edy,

Drama Musikal “Indonesia Rumah Kita” ini menceritakan tentang kehidupan dalam keberagaman budaya yang tidak mudah. Itulah yang dirasakan oleh Lydia, seorang pelajar SMP di kota Klaten pada tahun 1995.
Dalam pergaulan di sekolah, kaum minoritas sering merasakan dan mendapat tindakan rasisme. Lydia merupakan salah satu pelajar pelaku tindakan rasisme tersebut. Tanpa Lydia ketahui, ternyata ia juga merupakan kaum minoritas yang selama ini sering ia jelek-jelekkan.
Lydia kesulitan menerima kenyataan tersebut. Lydia tidak mau dianggap sebagai etnis Tionghoa.
Orangtuanya mencoba untuk meyakinkan Lydia bahwa menjadi kaum Tionghoa bukanlah hal yang buruk. Ayahnya memberi tiga buku tentang sejarah perjuangan kaum minoritas Tionghoa untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Buku itu berjudul “Tionghoa Dalam Keindonesiaan, Peran Dan Kontribusi Bagi Perjuangan Bangsa” karya (editor) Didi Kwartanada.
Awalnya, Lydia tidak mau membaca buku itu. Namun akhirnya, Lydia bisa tergerak untuk membaca bukunya. Buku-buku itu dibawanya ke sekolah untuk dibaca.
Ketiga buku tersebut dibacanya dengan teliti bersama teman-temannya di sekolah. Setelah membaca ketiga buku tersebut, pandangan Lydia tentang kaum minoritas Tionghoa pun jadi berubah.
Untuk diketahui, pentas drama musikal ini membutuhkan waktu persiapan yang lumayan lama. Dimulai sejak penerapan PjBL pada bulan Oktober 2023. Kemudian pemilihan pemain dan peran, serta latihan mulai bulan November 2023.
Total ada 157 anak yang terlibat dalam pentas drama musikal ini. Mulai dari pemain (130 anak), property, tata rupa panggung, multimedia, dan sebagainya.
Dalam pentas drama musikal ini, panitia menjual sebanyak 630 tiket sejak 5 Februari 2024 yang lalu. Panitia menyediakan 60 tiket untuk VVIP, 150 tiket VIP, dan sisanya tiket regular. Semua tiket habis terjual,
Saat itu menjadi malam yang membahagiakan bagi keluarga besar Sekolah Krista Gracia Klaten. Pementasan drama musikal berlangsung lancar dan sukses. Penonton sangat terhibur dengan penampilan anak-anak yang diringi musik gamelan dari sekolah setempat dan musik orkestra dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta.









