WartaKita.org – Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI menggelar Pengalihwahanaan “Sapta Warsa Usaha Maju Menuju Sewindu Ke Dalam Scrap Metal” di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) Jalan Imam Bonjol Nomor 1 Jakarta pada Rabu (30/8/2023) dari pukul 08.00 sampai 15.00 WIB.
Pameran visualisasi atau pengalihwahanaan sehari ini diisi dengan kegiatan pameran, workshop, dan story telling. Bertindak sebagai Kurator pameran adalah Temanku Lima Benua. Sedang barang yang dipamerkan adalah karya dari lima seniman, yaitu Sudek, Joko, Thohir, Fendi, dan Bambang.
Kurator pameran Temanku Lima Benua menyampaikan, pameran visualisasi atau pengalihwahanaan Scrap Metal Sculpture ini menampilkan 17 Scrap Metal Sculpture yang bersumber dari sejarah 7 tahun sebelum dan 8 tahun setelah Indonesia Merdeka. Pameran ini juga untuk mendukung kegiatan Munasprok.
“Dalam pameran ini juga ada sesi pelatihan membuat karya dengan bahan PF (Polyester Foam) bagi pengunjung. Pameran ini dikemas dalam suasana gembira, karena ada permainan tradisional yang bisa dimainkan dan dibawa pulang bagi pengunjung yang beruntung,” katanya.
Temanku Lima Benua menjelaskan, pameran visualisasi Scrap Metal Sculpture adalah wujud baru pembelajaran sejarah kebangsaan yang penting, karena melibatkan 5 seniman Scrap Metal Sculpture dalam menginterprestasikan historiografi. Historiografi adalah ilmu yang terkait dengan tulisan dan pelacakan sejarah
“Mereka diberi kebebasan memvisualkan fakta-fakta sejarah menurut dengan bahan, teknik, dan bentuk sesuai Scrap Metal Sculpture-nya,” ungkapnya.

Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu menyatakan, fenomena ini juga dapat dimaknai sebagai dekonstruksi historiografi yang selama ini menjadi monopoli sejarawan atau Negara. Sehingga tafsir tunggal terhadap peristiwa sejarah dapat dihindari.
“Tafsir para seniman Scrap Metal Sculpture atas peristiwa sejarah ini tentu akan memiliki kekuatan sendiri dan akan melahirkan langgam atau model baru dalam historiografi visual,” tandasnya.
Pegiat Sanggar Seni Lima Benua Klaten ini menerangkan, kekuatan karya yang dipamerkan terletak pada unsur estetik dan bahasa visual, baik dalam bentuk pemilihan bahan baku, pemotongan, penempelan, warna alami besi maupun ikon-ikon estetik lainya yang mungkin luput dari para sejarawan.
“Dalam mengalihwahanakan ini, pengunjung dapat melihat data kebudayaan scrap metal. Selain itu juga ada workshop bagaimana membuat pesawat dengan media PF. Memang tidak menggunakan metal, karena peserta workshop adalah anak-anak SMP. Pengalihwahanaan ini untuk memperkuat jati diri dan cinta tradisi. Maka dalam pameran ini juga ada permainan tradisional,” terangnya.

Menurut Benua, dalam keseruan bermain akan ada apresiasi untuk mereka yang mampu mengalahkan yang lain. Permainan ini melatih anak-anak untuk belajar sportif, kompenten dan percaya diri.
Pameran visualisasi atau pengalihwahanaan ini mendapat sambutan yang baik dari pengunjung. Ada banyak pelajar yang mengunjungi pameran ini. Bahkan Kepala Munasprok, Harry Trisatya Wahyu juga hadir untuk melihat secara dekat berbagai karya seni yang dipamerkan di ajang ini.









