JAWA TENGAH merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai angka sekitar 35 juta jiwa.
Di provinsi ini berkembang beragam budaya dan tradisi. Karakteristik masyarakat Jawa Tengah yang memiliki toleransi yang tinggi, ramah dan gotong royong ini memberikan kenyamanan tersendiri bagi siapapun yang tinggal di sini.
Meskipun ada sejumlah persamaan karakteristiknya, namun ternyata terdapat perbedaan variasi bahasa di Jawa Tengah. Perbedaan variasi bahasa yang berbeda ini sering disebut dengan istilah dialek.
Pembagian Dialek Masyarakat Jawa Tengah
- Dialek Tegal-Banyumas
Dialek Tegal-Banyumas ini biasanya menggunakan Bahasa ngapak. Namun, penuturan kedua dialek ini terdapat sedikit perbedaan. Seperti contohnya pada kata “aku”di masyarakat Banyumas sering menggunakan sebutan “inyong”. Sedangkan di masyarakat Tegal memakai sebutan “nyong”.
2. Dialek Pekalongan
Dialek Pekalongan merupakan dialek yang dituturkan di pesisir utara Jawa. Pada dialek Pekalongan ini masih terpengaruh dengan bahasa lainnya. Seperti “Wallahi temenan po’o nyong yang disebutkan masih terpengaruh oleh Bahasa Arab yaitu pada kata “Wallahi”.
3. Dialek Kedu
Dialek Kedu merupakan pertemuan selang dialek (Yogyakarta-Solo) dan Banyumas. Contohnya dalam penyebutan kata “gandhul” (pepaya) dan “krongsi” (kursi)
4. Dialek Semarangan
Dialek Semarangan dipengaruhi dari kawasan pesisir (Kudus, Demak, Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan. Dialek Semarang yang terkenal adalah ucapan kata “Heeh” yang artinya “Iya’’. Dan ini menjadikan ciri dari masyarakat Semarangan.
5. Dialek Pantai utara timur
Dialek pantai utara timur sering ditemukan di daerah Pati, Jepara, Kudus, dan Pacitan. Ciri khasnya adalah adanya penambahan aksen. Seperti “Mbuweruh” yang artinya banyak sekali. Dalam kata mbuweruh ini terdapat penambahan suku kata “mbu” dari kata asli yaitu “weruh” yang artinya melihat.
6. Dialek Surakarta-Yogyakarta
Wilayah Surakarta dan Yogyakarta merupakan kawasan ndalem keraton yang mana bahasa yang digunakan masih dipengaruhi oleh keraton. Seperti penggunaan unggah-ungguh yang diterapkan oleh masyarakat Surakarta dan Yogyakarta.
Variasi penggunaan unggah ungguh bahasa ini dapat dibagi menjadi 3 variasi, yaitu : ngoko (kasar), madya (biasa) dan krama (halus). Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, masyarakat Surakarta dan Yogyakarta memadukan ketiga variasi bahasa tersebut dalam satu kalimat. Seperti : “Panjenengan Bojone Sinten?” yang artinya “kamu suami/isteri siapa?”.
Dalam contoh tersebut terdapat variasi bahasa yaitu pada kata “panjenengan” ini termasuk kedalam variasi bahasa krama (halus) kemudian “bojone” termasuk kedalam variasi bahasa ngoko dan “sinten”termasuk dalam variasi bahasa madya (biasa).
Meskipun dalam pengucapan sehari-hari masyarakat Jawa Tengah mengalami perbedaan, namun mereka tetap menjadikan perbedaan itu sebagai usaha untuk mempererat tali kerukunan antar sesama masyarakat dan warga Indonesia.

(Rahmat Wahyu Hidayatullah, Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta)









