INDONESIA merupakan negara yang terdiri dari berbagai pulau, suku bangsa, budaya, bahasa daerah, dan sebagainya.
Tetapi, bahasa yang telah ditetapkan untuk berkomunikasi yaitu Bahasa Indonesia. Karenanya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama yang dipakai oleh masyarakat Indonesia.
Seperti diketahui, alat komunikasi sangatlah penting bagi siapapun. Ketika anak berada di lingkungan sekitarnya, maka akan spontan mendengarkan orang lain berbicara. Anak akan mudah menirukan sesuatu yang didengarnya. Tanpa disadari, anak sudah menggunakan alat komunikasi dari lingkungannya, yaitu bahasa.
Sejarah mencatat, Bahasa Indonesia diresmikan menjadi bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, yang sebelumnya merupakan Bahasa Melayu.
Bahasa Indonesia merupakan alat yang digunakan sebagai bahasa media massa untuk menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa yang menerapkan kaidah dengan konsisten. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern (Hanung et al., 2018).
Dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia sekarang ini banyak diminati oleh masyarakat internasional atau luar negeri. Bahkan, ada sejumlah negara yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran di sekolah. Seperti negara Australia, Suriname, dan Jerman.
Warga negara tersebut banyak yang berminat mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan pengajarnya sebagian besar dari orang Indonesia asli. Atau biasa disebut BIPA alias Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing.
Sebagian warga negara Korea Selatan belakangan ini juga banyak yang belajar Bahasa Indonesia. Bukan hanya kalangan orang biasa saja, tetapi banyak dari kalangan K-Pop atau grup Korea yang belajar Bahasa Indonesia.
Ada banyak video Youtube yang mereka unggah yang menggunakan Bahasa Indonesia. Dari sekadar wawancara, tebak kata, tebak gambar dengan bahasa Indonesia, tebak lagu, dan masih banyak lagi.
Seperti Boy Band Korea, NCT yang disiarkan di youtube mereka yang berjudul “NCT Sekolah Bahasa Indonesia” yang diajarkan langsung oleh Youtuber Indonesia yaitu Amelia Tantono.
Sebagai bangsa Indonesia, masyarakat harusnya bangga, karena Bahasa Indonesia banyak diminati oleh bangsa lain. Tetapi di sisi lain, masih ada permasalahan dari kesalahan ragam tulisan dan kebahasaan.
Di masyarakat, masih banyak problematika atau permasalahan terkait Bahasa Indonesia yang terjadi pada berbagai level kebahasaan. Misalnya problematika dalam tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran penerapan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Dalam penelitian ini, problematika yang diamati terjadi pada ragam bahasa tulisan baik dalam konteks formal maupun nonformal (Akmaluddin, 2018).
Lalu, bagaimana kabar Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Masyarakat bisa melihat dari Forum Internasinoal Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) I yang diselenggarakan di Cirebon pada tahun 2017 lalu. Dalam forum yang mengusung tema “Mengkondisikan diri ulama perempuan yang berenergi dengan berbagai cara untuk menyelasaikan masalah kebangsaan dan kemanusian, dan keIslaman” ini dibahas permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh perempuan-perempuan.
Kemudian KUPI II yang diselenggarakan di UIN Walisongo Semarang pada tanggal 24-26 November 2022. Pada forum bertajuk “Meneguhkan peran ulama perempuan untuk peradaban yang berkeadilan” ini juga dibahas mengenai Bahasa Indonesia.
Dalam forum itu disebutkan, Bahasa Indonesia masih minim digunakan di forum-forum tertentu. Padahal sebagai Bangsa Indonesia, masyarakat harus membudayakan Bahasa Indonesia terlebih dulu. Indonesia harus menampilkan ciri khas yang dimiliki, baik di dalam negri maupun luar negri. Padahal, eksistensi Bahasa Indonesia sangat penting digunakan sesuai yang diatur dalam Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009 tersebut.
Pada forum internasional KUPI ini masih banyak menggunakan bahasa asing meskipun ada penutur bahasa penerjamah. Bahasa Indonesia di-nomor dua-kan karena pembawa acara hampir seluruhnya menggunakan bahasa asing.
Sampai saat ini, masih banyak permasalahan terkait paparan kebahasaan. Misalnya judul berita, tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan banyak lagi.
Contohnya pada tataran morfologi: Disini Jual: Aspal Pertamina Semen Tonasa seharusnya Di terpisah dan ditambahkan Dijual.
Dari contoh yang lain terdapat pada papan nama dan tulisan lainnya yang salah dalam menggunakan bahasa Indonesia. Sering kali tidak tepat dalam penulisan papan nama, sehingga orang yang membacanya kebingunagan dalam memahami yang telah ditulis oleh penulisnya. Misalnya: mie ayam. Seharusnya ditulis mi, seperti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bukan mie.
Sebagai penyempurnaan kebahasaan, masyarakat harus tetap menggambarkan kebanggaan pada Bahasa Indonesia. Masyarakat perlu berusaha mewujudkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sangatlah penting untuk mengembangkan penggunaan Bahasa Indonesia di masyarakat. Karena dari kesadaran diri menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar menunjukkan bangsa. Dan masyarakat harus menjunjung tinggi bahasa nasional ini.
Landasan yang menempatkan penggunaan Bahasa Indonesia ada pada pasal 36 UUD 1945 yang berbunyi, “Bahasa negara adalah bahasa Indonesia”.
Kalimat itu menegaskan bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki kedudukan yang sangat kuat, digunakan dalam urusan kenegaraan dan urusan tata pemerintahan. Kemudian dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. (Akmaluddin, 2018).
Tetapi saat ini, di masyarakat masih banyak menggunakan bahasa daerah mereka. Mungkin dengan bahasa daerah mereka lebih cocok untuk interaksi. Apa lagi di kalangan remaja sekarang banyak bahasa kekinian yang menurut mereka keren tetapi mempengaruhi perkembangan penggunaan Bahasa Indonesia. Anak balita pun bisa terpengaruhi oleh bahasa kekinian dari kalangan remaja.
Remaja zaman sekarang sangat cuek terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentu saja, ini akan memengaruhi identitas diri sebagai warga negara. Dalam hal ini, masyarakat bisa mengatasi problematika dari bahasa kekinian sebagai alat komunikasi Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya dengan banyak membaca, mempelajari, dan memahami buku.
Nyatanya, fenomena di masyarakat saat ini, pengguna Bahasa Indonesia masih minim. Bahasa Indonesia belum dijunjung tinggi oleh bangsanya sendiri. Masih banyak masyarakat yang mencampurkan bahasa daerah mereka dan mengabaikan begitu saja. Padahal, bahasa memiliki peran penting dalam membentuk karakter seseorang yang dikenal sebagai identitas diri yang memperssatukan masyarakatnya.
Pada kehidupan sehari-hari, pengguna Bahasa Indonesia masih kurang diperhatikan oleh masyarakat. Penggunaan bahasa masih tergantung pada daerah lingkungan dan budayanya.
Penggunaan bahasa dalam sehari- hari adalah bentuk pelestarian budaya. Karena itu, masyarakat harus bangga memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia yang memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Penulis : Istakfani Amalia Farhana, Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia (TBI), Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta.









