47 Tahun Menekuni Usaha, Slamet Berjualan Dawet Dari Harga Rp25 Sampai Rp2000 Per Porsi

Slamet sedang melayani para pembeli yang mengantri di sekitar gerobaknya, Senin (24/10/2022). Foto : Nathalia Ellok BP

WartaKita.org – Sebagian besar orang tentu sudah mengenal dawet.

Ya, minuman yang terbuat dari campuran gula aren atau gula Jawa, santan, dan cendol ini sepertinya sudah tak asing lagi bagi masyarakat. Hampir di setiap daerah, ada dawet dengan banyak varian rasa dan harga.

Bacaan Lainnya

Nah, dari sekian banyak penjual dawet, ada satu nama yang sudah melegenda, yaitu “Dawet Pak Slamet” di Padukuhan Sonosewu, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul.

Harga satu porsi es dawet di sini hanya Rp2.000 saja. Maka tak heran jika setiap harinya Slamet mampu menjual 500 porsi es dawet.

Selain harga yang murah, rasa dari es dawet ini dari dulu sampai sekarang selalu konsisten, tidak berubah sama sekali. Karenanya, banyak pelanggan yang datang jauh-jauh dari luar Kasihan hanya untuk mencicipi es dawet legend satu ini.

Slamet, yang sekarang berumur 67 tahun ini, sudah 47 tahun menjalankan usaha dawet. Ia memulai usahanya pada tahun 1975 di Kulon Progo dengan harga dawet waktu itu Rp25 untuk 1 porsinya.

Lalu pada tahun 1982, ia memutuskan untuk pindah ke Sonosewu dan tetap melanjutkan usahanya berjualan dawet dengan menggunakan gerobak keliling selama 10 tahun. Saat itu, harga dawetnya Rp50 untuk satu porsi.

Kemudian ia memutuskan untuk menetap di tempat yang saat ini ditempati, yakni di Jalan Sonosewu Nomor 84-145 Padukuhan Sonosewu, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul. Saat ini, harga dawetnya Rp2000 untuk setiap perporsinya.

Dengan caping kesayangannya, Slamet melayani para pembeli dengan ramah dan senang hati, Senin (24/10/2022). Foto : Nathalia Ellok BP

Setiap hari Pak Slamet berjualan dari pukul 10.00 sampai pukul 13.30. Bapak lima orang anak ini tidak sendiri. Setiap harinya, ia ditemani Ny Ijah (67) istrinya, dan dua orang anaknya, yakni Yuni (35) dan Lastri (38).

Dari hasil berjualan dawet selama 47 tahun ini, Slamet mampu membesarkan kelima anaknya hingga mereka sudah memiliki keluarga masing-masing.

Kendati demikian, Slamet enggan untuk beristirahat di hari tuanya. Ia masih ingin meneruskan usahanya itu. Karena ia belum siap meninggalkan usahanya yang sudah dirintisnya dari nol itu.

Banyak sekali yang bisa dipelajari dari apa yang dilakukan Slamet ini. Salah satunya yaitu kegigihan dan ketekunan dalam membangun suatu usaha yang pastinya telah melewati fase jatuh bangun dalam perjalanan.

Namun, Slamet tetap yakin dan memegang teguh prinsipnya. Ia tidak takut kalah bersaing dengan dawet lainya yang tampil secara modern. Karena itu, kini usahanya semakin maju, dan semakin dikenal banyak orang, serta lebih “unggul” dari dawet lainya.

Pos terkait