Lestarikan Budaya Jawa, Warga Dawung Gelar Tradisi Sadranan, Untuk Mempererat Persaudaraan

Masyarakat Dukuh Dawung memenuhi jalan menuju makam desa dengan membawa aneka makanan yang dibawa dari rumah dalam tradisi Sadranan pada Sabtu (8/10/2022) pagi. Foto: Nathalia Ellok BP

WartaKita.org – Salah satu tradisi masyarakat pedesaan yang sampai saat ini masih terus dilakukan adalah Sadranan atau yang lebih dikenal dengan Nyadran.

Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan.

Bacaan Lainnya

Nyadran sendiri merupakan tradisi membersihkan makam yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan.

Dalam tradisi ini biasanya masyarakat di pedesaan secara bersama menggelar acara di sekitar makam desa mereka dengan membawa tikar untuk duduk, jajanan tradisional, makanan khas daerah, aneka lauk pauk, sayuran, dan nasi.

Biasanya, acara Sadranan dimulai dengan berdoa bersama untuk para leluhur yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan seluruh warga desa. Tradisi Sadranan ini di rutin diadakan pada bulan Rajab atau pada bulan Sya’ban

Salah satu desa yang masih rutin menggelar tradisi Sadranan ini adalah Dukuh Dawung, Desa Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.

Masyarakat Dukuh Dawung antusias mengikuti tradisi Sadranan yang diadakan di sekitar makam desa setempat, Sabtu (8/10/2022) pagi. Foto: Nathalia Ellok BP

Pada Sabtu (8/10/2022) pukul 07.30 WIB, warga Dukuh Dawung berbondong-bondong datang ke makam desa untuk menggelar tradisi Sadranan. Sadranan ini dihadiri oleh warga RT 1, RT 2, dan RT 3. Warga memenuhi jalan menuju makam dengan aneka jajanan tradisional dan aneka makanan yang mereka bawa dari rumah .

Anak–anak, remaja, hingga orangtua ikut serta dalam tradisi Sadranan ini. Banyaknya warga yang datang menunjukkan antusias mereka terhadap tradisi Sadranan ini. Karena sudah dua tahun terakhir ini tradisi Sadranan tersebut tidak diadakan akibat pandemi Covid–19. Tentu hal tersebut tidak lantas menjadi penghalang bagi mereka dalam melestarikan tradisi yang memang sudah dilakukan secara turun temurun ini.

Tak sampai di situ saja, setelah melakukan kondangan di makam, mereka juga mengadakan acara sendiri di rumah mereka masing masing, atau yang lebih dikenal dengan istilah open house. Warga mengundang sanak saudara, sahabat, dan orang-orang di sekeliling mereka untuk datang ke rumah guna mencicipi aneka makanan yang disediakan tuan rumah.

Pada dasarnya, Sadranan ini merupakan kearifan lokal yang berfungsi untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kesinambungan aset yang dimiliki oleh masyarakat guna mempererat tali persaudaraan, dan menumbuhkan sikap saling peduli serta menghargai terhadap sesama dan para leluhur yang telah meninggal.

Pos terkait